Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Perayaan Tujuh Bulanan


__ADS_3

Pihak panti meminta acara digadakan soreh hari karena anak-anak panti akan ada di rumah saat sore hari jam 19.00 setelah sholat isya'. Rena dan Vino tengah asik bermain dengan anak-anak panti yang masih balita.


Tuan Abraham Smit mengajaknya keliling perkebunannya banyak yang di tanam disana dan hasilnya di jual untuk keperluan Panti.


Beberapa anak-anak balita sedang bermain dengan Vino dan Rena. Di sana juga ada arena bermain untuk anak-anak. Membuat mereka yang tidak memilliki orang tua itu merasa terhibur di rumah panti asuan itu, banyak sekali kegiatan agamis. Seperti hafalan surat, rumah itu di kelolah seperti pondok modern bersekala internasional.


Setelah lelah bermain dengan anak-anak yatim Vino dan Rena duduk di ruang tamu dengan beralaskan karpet bulu yang empuk dan halus, sungguh rumah yang nyaman bagi mereka yang kehilangan orang tuanya.


Tuan Abraham tidak memiliki anak dengan pasangannya itu, sang istri di vonis mandul dan itu tidak membuat tuan Abraham untuk menikah lagi, dia begitu sangat menyayangi istrinya dan menerima segala kekurangan istrinya itu, hingga memutuskan untuk mengasuh anak-anak yatim-piatu.


Apalagi Tuan Abraham dan istrinya sudah tidak memiliki orang tua lagi sehingga mereka tidak ada yang menuntut keturunan dari rahim sang istri.


Raka semakin tertarik dengan pribadi lelaki paruh baya itu ia pun memutuskan menjadi donatur tetap di rumah yatim piatu itu.


Semakin mengenal lebih dekat, menjadi yakin dengan keputusan karena ia berpikir lelaki ini akan mengelolah keuangannya dengan sangat baik dan amanah, melahirkan generasi muda yang potensial di sini, Raka pun di ajak berkeliling melihat galeri kecilnya.


Raka melihat banyak kerajinan tangan di sana, ada beberapa karya milik anak-anak panti, seperti lukisan, kerajinan tangan dan lain-lain yang di jual online.


Raka begitu kagum kepada pasangan mualaf itu yang mempunyai berbagai bidang usaha dari pertanian hingga kerajinan tangan, kemudian mereka berpamitan pulang dan akan kembali lagi nanti malam nanti untuk acara tasyakuran tujuh bulanan Ratih.


Setelah berbasa-basi sebentar mereka berpamitan pulang dan kembali nanti malam untuk melakukan pengajian di rumah itu.


Mereka masuk kedalam mobil kemudian berjalan meninggalkan rumah itu.


Di perjalanan mereka belanja untuk keperluan anak-anak di rumah panti tersebut. Baju, mainan, buku, tas dan lain-lain. dan kembali berjalan menuju apartemen.

__ADS_1


Mereka kembali masuk keruang tengah duduk lesehan di sana, sambil bercerita-cerita tentang Bayhas yang mulai lucu pada Ratih, dan banyak hal hingga Bisnis.


...----------------...


waktu berjalan dengan cepat, waktu isya' telah berlalu selepas sholat isya' rombongan kembali menuju rumah panti, sesampainya di sana mereka di sambut oleh pemilik sekaligus pengurus panti.


Acara pun di mulai dengan gadis cantik berusia 15 tahun memberikan sambutan pada tamu yang datang. Prosesi pengajian di lakukan dengan kidmat. dari membaca sholawat dan membaca surat Maryam setelah selesai mereka pun mulai menikmati hidangan yang telah disiapkan untuk mereka. Terlihat wajah-wajah bahagia dari bocah- bocah kecil itu. Vino menatap gadis cantik itu. Ingin mendekati tapi hatinya menciut.


Ia hanya bisa memandangnya dan mengagumi diam-diam.


Saat gadis itu mengambil makanan, Vino memberanikan diri untuk mendekati dengan ikut mengantri makanan ia berdiri di belakang gadis itu.


Sambil menunggunya dia pun bertanya tentang namanya. "What is your name?"


gadis itu menoleh lalu menyebutkan namanya kemudian pergi. "Gloria."


Dia menemukan gadis itu yang duduk di pojok ruangan di sebelahnya terdapat kursi kosong, Ia bergegas berjalan ke sana lalu duduk sembari berkata, "Vino, you call me Vino." Tanpa menoleh Gloria mengangguk, "I want to be closer to you, may I?" bisiknya untuk menyampaikan keinginannya dekat dengan gadis itu dan Gloria menoleh serta terkejut, ketika wajah mereka begitu sangat berdekatan, hingga memberi semburat merah di wajah cantiknya, hidung mereka saling bersentuhan sehingga membuat Gloria tidak nyaman lalu menoleh kearah lain.


Vino terseyum kembali "Glo?" panggilnya pelan dan gadis itu mengangguk.


"Thank you, I glad to know that, and I am in here for the next week," ucapnya berterima kasih pada Glo, dan Vino sangat senang mengetahui itu. Kemudian dia memberi tahu bahwa dirinya berada di sini selama satu minggu. Setelah itu Vino dan Gloria berbincang-bicang sebentar walau terasa sedikit kaku karena mereka baru mengenal satu sama lainnya.


Malam semakin larut keluarga Angga berpamitan pulang pada pemilik panti, mereka masuk kedalam mobil masing-masing kemudian menghilang dari tatapan para penghuni rumah panti itu.


Waktu merambat begitu cepat, seiring laju mobil yang berjalan menembus gelapnya malam, 30 menit telah berlalu dan mereka sudah sampai di halaman parkir apartemen mereka langsung berjalan serta masuk ke dalam lift yang membawa ke lantai lima. Sesampainya di sana masuk kedalam flat mereka masing-masing.

__ADS_1


Vino bergegas masuk ke kamarnya sesudah meminta Ijin pada ayahnya lalu mengunci pintu rapat-rapat, membaringkan tubuhnya di atas ranjang, tersunging senyuman di bibirnya ketika mengingat Gloria gadis yang baru di kenalnya tadi sore.


Matanya terpejam mencoba untuk mengistirahatkan otak dan tubuhnya walau terasa sulit dan akhirnya dia terlelap.


...----------------...


Di dapur Rika dan Ratih sibuk membuat sarapan dan camilan. Rena membantu membawakan ke apartemen sebelah, sepiring pisang goreng, kopi dan teh hangat telah tersaji di sana.


Vino mengambil pisang goreng lalu memakannya. "Pisang dari mana? Kok, ada pisang goreng," tanya Vino pada Rena.


"Kemarin di kasih sama yang punya panti dua tandan malah," jawab Rena.


"Oh yaa, Kenapa aku gak tahu yaa?" tanya Vino pada Rena.


Rena memutar matanya jengah. " Kak Vino sibuk sama cewek Cantik berhijab itu." Vino terkekeh, "Namanya saja usaha, Dek."


"Iya, tapi lihat sekeliling, setidaknya lihat adikmu ini," Protes Rena.


"Ya-ya, maaf 'kan Kakakmu ini," ucapnya pada Vino


Rena hanya tersenyum, lalu pergi ke dapur sebelah untuk membawa makanan lainnya.


Setelah semuanya siap, mereka berkumpul di ruang tengah duduk lesehan di sana, suasana begitu santai sebelum mengisi makanan berat mereka memakan pisang goreng hangat dan segelas kopi.


"Enak juga ya makan model begini berasa gak formal aja. Jadi, santai banget ini," kata Raka sambil makan pisang goreng dan menyesap kopinya.

__ADS_1


Haidar tertawa. "Kalau saya sudah biasa seperti ini memang terasa enak makan seperti ini, tidak terhalang meja dan kaki bisa selonjoran saat kaki benar-benar pegal."


__ADS_2