Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Kebahagiaan Raka


__ADS_3

Sementara itu di kamar Rafa pun terjadi perdebatan kecil, Anin yang mengoleskan foundation ke lehernya sambil berbicara tak ada hentinya, menggerutuh karena dia harus menyamarkan noda yang ada di lehernya.


"Kamu itu yaa, gak pernah bisa mengendalikan diri, Bang. ini itu di tempat kakek bukan di apartemen!" katanya menatap tajam pada Rafa.


"Mana bisa aku mengendalikan diriku, kalau kamu saja secantik ini dan halal untuk ku sentuh. Jangan salahkan diriku, Nin. Salahkan saja dirimu kenapa kamu begitu cantik hingga aku tak bisa melepaskanmu walau sedetik pun."


Di dalam kamar berdebat. "Kok, jadi salah aku sih, Bang? Abang mau aku jelek, kumal seperti dulu? Biar Abang gak keseringan sama aku!" Rafa tertawa. "Kalau dulu, iya. Aku gak bakal lirik kamu, kalau sekarang beda lagi, kamu kumal aku malah suka karena punya alasan mandiin kamu," katanya sambil tertawa.


"Sudah jangan ngambek gitu, aku kan lupa kalau ini bukan di apartemen kita, tapi di rumah kakek," katanya sambil berjalan mendekati istrinya yang duduk di depan meja rias lalu memeluknya dari belakang


"Lagian kenapa sih, Bang? Sekarang sering minta jatah," tanya Anin sambil menyisir rambutnya.


"Pertama karena kamu cantik, kedua aku mau nabung, biar pas kamu melahirkan dan harus puasa selama 40 hari hati dan ituku kuat," katanya sambil terkekeh. Anin pun merona dengan malu-malu ia mencubit lengan Rafa.


"Perasaan Abang sekarang berubah deh, gak seperti dulu lagi, lebih lembut dan perhatian sama aku," kata Anin sambil mendongak.


"Ya, karena kamu istriku, bedah lagi kalau kamu bukan istriku,"katanya sambil tersenyum.


"Cuma itu saja?" tanya Anin sambil menarik nafas dalam dan dihembuskan dengan kasar.

__ADS_1


"Kenapa? Kau ingin aku jawab apa?" tanyanya lagi sambil menatap dengan lekat.


"Terserah kamu sajalah," kata Anin sambil mengangkat bahunya.


Rafa terkekeh, sebenarnya ada sih alat pengering rambut tapi di kamar Nenek, mau diambilkan?" tawar Rafa.


"Gak usah, Bang. Aku malu kalau ketahuan begituan masih juga belum siang benar rambut sudah basah lagi," kata Anin mengerucutkan bibirnya.


Rafa terkekeh. "Kalau begitu ayo kita balkon saja, di sana banyak angin rambutmu akan cepat kering.


Di balkon kamar Nara, dia dan suaminya Diki duduk di kursi bercengkrama bedua, panas sinar matahari mulai meninggi, hingga rambut Nara sudah mulai mengering angin menerbangkan rambut Indahnya menerpa wajah Diki bau harum sampo menguar di penciuman Diki. Matahari makin tinggi dan sinarnya semakin terasa menyengat, Diki dan Nara pun menuruni tangga menuju ke kamarnya kembali.


"Syukurlah kamu tidak marah lagi pada Abang karena mengalahkanmu." kata Diki.


Seperti biasa Diki hanya mengambil satu piring nasi dan lauk lalu makan di piring bersama dengan istrinya.


Ia hanya merasa makanan akan lebih nikmat jika sepiring berdua, ketika ia memberikan suapan terhadap istri rona merah selalu menghiasi wajah istrinya itu membuat ia senang melihat expresi wajah sang istri. Mereka pun makan dengan tenang tak ada reaksi berlebihan saat melihat Diki melakukan hal istimewa pada Istrinya.


Anin sedikit canggung, saat makan siang bersama. Di selah-selah makan bersama Raka mengutarakan keinginan hatinya. "Aku sangat bahagia kalian bisa berkumpul di sini, aku ingin setiap akhir pekan kalian mengunjungiku, usiaku sudah tak muda lagi dan tak umur sampai kapan namun disaat aku masih sehat datanglah mengunjungiku."

__ADS_1


"Tentu Kakek, aku dan Nara akan menyempatkan waktu di akhir pekan untuk mengunjungi Kakek, bukan begitu, Sayang."kata Diki dan Nara mengangguk membenarkan ucapan suaminya.


Setelah makan siang Raka dan Rima beristirahat di kamarnya yang lain melakukan aktivitas masing-masing, Rafa, Anin, Diki, dan Nara berada di kebun belakang yang masih luas. Bunga-bunga bermekaran di sana. Beberapa pohon telah berbuah antara lain, Mangga, jambu biji merah, kelengkeng, rambutan, pepaya dan alpukat.


Rafa dan Anin lebih suka memberi makanan pada ikan-ikan koi sambil duduk batu alam di tepi kolam ikan yang tertata rapi.


Sementara itu, Nara dan Diki lebih suka duduk di bangku taman yang di kelilingi oleh bunga-bunga yang bermekaran.


sebatas mata memandang banyak pohon yang telah berbuah. "Ra, seperti nya buah-buah itu ada yang masak, deh. Kamu ingin buah apa aku akan ambilkan." Nara menoleh ke Diki lalu melihat buah kelengkeng yang berbuah lebat dan pohonnya rendah hingga mudah mengambil buahnya tanpa memanjat.


Tanpa tanya ia mulai berjalan menuju pohon kelengkeng dan mengambil beberapa tangkai buah kelengkeng masak lalu lalu kembali di tempat duduknya dengan buah di tangannya dan meletakannya di atas bangku. Mereka pun menikmatinya sambil melihat beberapa kupu-kupu berterbangan di atas bunga yang bermekaran, tanpa ia sadari tiba-tiba Rena datang mengambil satu tangkai kelengkeng sambil berkata, "Bang Diki kenapa gak bilang ini aku juga mau."


Diki tersenyum dan memberikan tempat duduknya. "Masih mau, Abang Ambilkan yaa." Rena pun mengangguk duduk di bangku kayu bersebrangan dengan Nara dan di tengahnya beberapa tangkai Kelengkeng berserakan di kursi depan buat yang lebat di setiap tangkainya.


"Gak tahu datangnya tiba-tiba nongol saja kamu, Ren." Rena terkikik. "Habis di dalam sepi sih, kak semua pada di kamar, terus Nara ke seni deh dan ketemu Bang Rafa di sana lagi pacaran dengan kak Anin, jadi aku main ke sini dan ketemu kakak sama Bang Diki lagi makan kelengkeng, kan Rena jadi ingin juga makan." Diki Datang membawa lagi beberapa tangkai buah kelengkeng dan menaruhnya di bangku Nara dan Rena sebagian di taruh di bangku depan Nara dan Rena Lalu duduk di bangku itu ikut memakan buah yang di petiknya tadi.


"Bang ini enak sekali, kok aku enggak pernah tahu yaa, kalau Kakek punya pohon kelengkeng yang buah sangat lebat. Yuk Ambil buat di bawah ke rumah, Bang!" ajak Rena pada Diki.


"Kenapa harus bawa ke rumah? kalau kamu mau tuh tinggal nangkring di dahan yang kuat dan makan di atas pohon sana," canda Diki membuat Nara terkekeh.

__ADS_1


"Ahhh, Abang menyebalkan masak aku suruh manjat sih aku 'kan ngak bisa manjat," rengek Rena


__ADS_2