Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Ada Aku


__ADS_3

Masih di Kafe di area rumah sakit, Nara dan Dokter Anita masih berbincang-bincang. Kadang ada kelakar kecil dari Nara dan ketika candaannya tak mengena hati dan tak membuat lawan bicara tertawa dia akan tertawa sendiri, justru itulah yang lucu, cara dia menertawakan dirinya sendiri.


"Aku dengar kakak mengadopsi bayi laki-laki yang mengalami penyakit jantung bawaan, apa benar itu?" tanya Nara pada Dokter Anita.


"Iya kau benar, apa Diki yang bercerita?" tanya dokter Anita dan Nara hanya mengangguk.


"Kak Anita, boleh saya menjenguknya?" tanya Nara pada Dokter Anita.


"Tentu, dia sangat tampan, pertama kali melihatnya saat sedang memeriksa kondisinya aku langsung jatuh cinta pada bayi mungil itu. Ayo kalau begitu," katanya sambil beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kasir untuk membayar pesanan mereka kemudian mereka berjalan keluar kafe lalu masuk kedalam rumah sakit dan terus berjalan hingga ke ruang ICU, Nara memakai pakaian khusus, lalu masuk bersama Dokter Anita tampak bayi mungil dengan banyak kabel yang berada di bagian tubuhnya, Nara berjalan lebih mendekat karena ingin berbicara dengan Adik Bayi, "Hai berjuanglah untuk tetap hidup sayang lihat mommymu berjuang agar kamu sembuh dan segera berada didekapnya."


Bayi itu bergerak sebentar seolah mendengar apa yang di katakan Nara.


Dokter Anita terlihat menitikkan air matanya lalu segera menghapusnya, dalam hatinya pun berkata, "Bertahanlah ada aku, Mommymu ini akan selalu berusaha agar kau bisa pulih kembali."Tak seberapa lama, mereka keluar dari ruang ICU.


Dokter Anita kembali ke ruangannya, sedangkan Nara kembali ke ruangan suaminya. Ia berjalan dengan sangat santai, padahal suaminya begitu mencemaskannya. Tiba di depan pintu ruangan suaminya Nara mengetuk pintu. "Masuk!" perintah seseorang dari dalam. Nara memutar gagang pintu, membuka dan masuk kedalam ruangan itu. Suaminya sedang membaca catatan medis beberapa pasiennya itu segera berdiri dan melangkah menyongsong istrinya. "Kamu tidak apa-apa kan?" tanyanya pada istrinya.


"Emang aku kenapa, Bang? Aku gak lagi gulat loh, Bang." jawab sambil terkekeh.


"Lah kalau gulat, ya kamu sama aku, ngapain sama Anita," Sarkasnya pada istrinya sebab Nara tak kunjung serius menjawab pertanyaannya padahal dia sudah sangat kawatir pada istrinya itu.


Nara tertawa sambil memeluk suaminya dan mengajaknya duduk di Sofa. Menatap dalam pada suaminya lalu tersenyum. "Tadi kita hanya berbincang-bincang saja, dia bercerita bagaimana kamu bertemu dengannya, hingga dia berselingkuh dengan sahabatmu. Kemudian kamu pergi, lalu bertemu aku dan menikah, dia pikir masih bisa mengejarmu ternyata, tidak. Dia melihat di matamu ada cinta untuk ku, bukan untuknya maka dia menyerah dan meminta maaf padaku. Dia bilang padaku bahwa dia sudah tahu tak mungkin bisa memasuki hatimu tapi tetap saja ingin memasuki hatimu makanya ia mintak padaku, dan kemudian aku ingin melihat bayi yang di adopsi oleh Dokter Anita. Kasihan bayi itu, Bang."


"Semua dokter spesialis jantung akan berusaha, ada empat orang dokter spesialis jantung di sini, Ra. Termasuk Dokter Yudi, Abang kita tersayang." kekeh Diki sambil merangkul istrinya."


"Ada apa? wajahmu sampai sebegitunya."

__ADS_1


"aku itu kasihan pada bayi itu, apa sudah di kasih nama?" tanya Nara pada Dokter Diki.


"Ya belum, urusan adopsi belum selesai, Ra." kata Dokter Diki dan Nara pun cuma mengangguk.


"Kenapa kok gak segera di urus?" tanya Nara lagi pada Dokter Diki.


"Masih proses sayang, masih di urus Dokter Danu."


"Kenapa tidak di kasih nama dulu?"


"Tanyakan pada Dokter Anita, Ra." kata Dokter Diki pada Nara. ia


tertawa mendengar jawaban Diki.


...----------------...


Dokter Danu masuk ke mobilnya dan segera meninggalkan rumah sakit menuju kampus di mana ia memiliki jadwal mengisi mata kuliah di hari ini.


30 menit akhir sampai juga, ia keluar dari mobilnya, berjalan menuju kelasnya. Begitu masuk kelas ia mencari sosok yang mengusik hatinya Aila Berliana Dintara. Ya dia melihat wanita itu duduk di samping suaminya, rasa kecewa menyeruak dalam hatinya. Ia menghela nafas, menormalkan hatinya yang tidak baik-baik saja.


Dokter dan sekaligus dosen lulusan dari National University of Singapore (NUS) mulai memberi materi pada Mahasiswa nya. Mahasiswa dengan antusias mendengarkan penjelasan dari Dokter Danu yang di bawakan dengan sangat lugas, santai dan segar kadang mengandung humor yang membuat beberapa mahasiswa tertawa, dua jam telah terlewati dengan sangat baik dan ditutup dengan di panggilnya seorang mahasiswa untuk menghadap di ruangannya.


"Aila Berliana Dintara, keruang saya segera, tidak boleh di wakilkan masalah mata kuliah adalah tanggung jawab dari setiap individu, mengerti Frans," kata Pak Danu memperjelas.


"Mengerti, Pak." jawab Frans agak kecewa.

__ADS_1


"Tidak apa, Frans. Dia baik, jadi jangan kawatir." kata Aila sambil keluar dan berjalan keruangan Pak Danu.


Setelah sampai di depan pintu Ai pun mengetuk pintu kaca depan uang koin yang ia punya, Pak Danu mendongak dan menyuruh Aila masuk. Aila pun masuk di ruangan Pak Danu.


"Duduk, Ai," perintah Pak Danu.


Aila menggeser kursi di depan meja Pak Danu lalu duduk dengan tenang.


"Ada perlu apa dengan saya hingga meminta saya untuk datang di kantor Bapak?" tanya Aila pada Dosen itu.


"Kerjakan ini, di sini!" perintah Pak Danu.


"Kenapa harus di kerjakan di sini, Pak?" tanya Aila.


"Sudah jangan banyak tanya kerjakan saja hanya dengan ini kamu bebas dari orsng yang di sebut suami." kata Pak Danu.


"Ya saya ingin bicara denganmu tapi tak punya kesempatan, dia selalu berada di dekatmu." kata pak Danu.


"Ya, saya sedang hamil makanya dia kawatir." katanya Aila sambil mengerjakan tugas dari Dokter Danu.


"Ya itu ingin aku tanyakan, kok bisa ya, habis memaki tapi di hamilin mau," katanya sambil terkekeh. Aila pun tertawa. "Ya, karena dia itu suami saya, Pak." kata Aila


"Aku hanya ingin menawarkan diri, jika suamimu itu bikin ulah, aku bersedia jadi selingkuhanmu, Ai." kata Danu sambil tersenyum samar.


"Bapak, gak lagi mengigau'kan?" tanya Aila sambil tertawa.

__ADS_1


"Saya serius ini, tidak lagi mengigau," kata Pak Danu.


"Bapak jangan doain yang buruk-buruk, saya masih ingin bersamanya," kata Aila sambil tersenyum manis.


__ADS_2