
Di ruangan bermain, ada pasangan Rafa dan Kakek Raka.
Diki dan Rena bermain game putaran pertama Diki menang. "Yee, Abang menang, Ren! Tadi kakek kalah berapa?" tanya Diki pada Raka.
"Kakek kala tiga kali," katanya sambil terkekeh.
"Masih menang satu kali 'kan, Bang?" tanya Rena.
Mereka kembali bermain, hingga Diki menang empat kali.
"Bang Diki curang! Lawan tanding tidak seimbang, padahal aku mau minta di temani main sama kakek ke mal, sekarang jadi gak bisa, aku gak mau main lagi," kata Rena menghentak-hentakan kakinya meninggalkan ruang bermain. Diki tertawa melihat kemarahan Rena.
"Marah deh dia, Kek. Salah aku apa yaa?"
"Salah kamu karena jago main game jadi Rena marah," kata Rafa sambil tertawa.
"Nangis apa enggak ya dia?"
"Mana aku tahu?" kata Rafa sambil mengangkat bahunya, Raka hanya tertawa melihat kejahilan Diki.
Diki mengambil cheese cake dan memakannya. "Kek, dia nangis gak sih? Padahal dia sudah menyusun rencana, tapi gagal total karena aku."
Kakek tertawa, "Nanti biar Kakek yang bujuk."
"Trimakasih, Kek. Aku jadi gak enak niatnya buat dia senang, malah bikin nangis," kata Diki sambil mencomot cheese cake kembali dan memasukkan dalam mulutnya tak terasa piring sudah tandas.
__ADS_1
"Lo datang-datang habisin amunisi, Dik!" protes Rafa.
"Lah, gue mana sadar kalau sudah habis. Perasaan baru tiga deh, tuh di meja makan masih banyak," kata Diki sambil berjalan meninggalkan ruang bermain menuju kamarnya dan Nara. Dia menaiki tangga ke lantai dua di mana kamarnya berada.
Setelah sampai di depan pintu ia membuka pelan pintu dan menutupnya lalu menguncinya dari dalam. Ia naik ke ranjang lalu membaringkan tubuhnya di sebelah Nara kemudian mengubah posisi tubuhnya menelungkup, ia menatap wajah istrinya yang sedang tertidur itu dan beralih pada bibir merah kesukaannya, dengan jailnya ia mulai memanggutnya. Nara tak kunjung bangun, membuatnya terkekeh.
Diki melepaskan satu persatu kancing baju atas Nara lalu menyingkap kain yang menutupi pegunungan yang indah itu. semakin besar membuatnya ia ingin merayap ke tepian hingga kepuncaknya dengan bibir dan tangannya, lalu menikmati buah ceri yang merah merekah dan segar, ia masih bermain-main di sana, hingga terdengar lenguhan lirih dari bibir Nara. Akhirnya Nara terbangun, ia mengerjapkan matanya saat kepala Diki berada di atas dadanya. "Bang ini masih siang," katanya sambil menahan sensasi rasa yang di timbulkan karena perbuatan Diki. "Ayo kita buat lautan api bergelora di ranjang kita! semakin panas semakin asik," kata Diki terkekeh.
Sementara itu Rafa dan Anin masih di ruang bermain, "Yang, ayo kita bertanding! Jika kamu kalah aku akan menghukummu, jika kamu menang kamu akan menerima hadiah dariku," tawar Rafa pada Anin.
"Ok! Siapa takut," kata sambil mengambil stick game, mulai bermain dengan serius.
hingga akhirnya skor Rafa dua dan skor Anin tiga. "Yee, aku menang!" teriaknya senang tapi kemudian ia terdiam seolah sedang berfikir sesuatu. "Sebentar, kalau aku menang kau memberikanku hadiah kalau kalah kau memberikan hukuman, begitu?"
"Iya," kata Rafa sambil tersenyum menyeringai."
Rafa tertawa. "Tidak, 'kan sudah kesepakatan di awal."
"Bagaimana kalau aku menolaknya?" kata Anin.
"Yang namanya hadiah mau dan tidak mau harus diterima," kata Rafa sambil menarik tangan Anin agar segera berdiri dari duduknya, lalu mengajaknya ke kamar. "Loh kenapa kita ke kamar, kau kan bisa memberikannya di sini," tawar Anin.
"Tidak bisa, Sayang. Hadiahmu ada di kamar," kata Rafa sambil menggamit pinggang Anin lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar Rafa menutup dan mengunci pintunya, kemudian berbisik ke telinga Anin. "Hadiah akan segera kau terima, Sayang. Setelah itu, ia pun menyerang bibir Anin dan tangannya sibuk melepaskan semua kain yang menempel di tubuh istrinya.
__ADS_1
Maka lautan api bergelora merambat hingga ke kamar mereka berdua membuat mereka terbakar dalam gelombang asmara yang menggebu.
Sementara di kamar Rena, Raka mulai membujuknya dan berjanji untuk mengajaknya bermain di mal di lain waktu. Kini Rena ceria kembali dan tertawa renyah di kamarnya bersamaan Kakeknya.
Dua jam berlalu, di dalam kamarnya, Diki menyisir rambut istrinya yang basah. "Apa kita tidak keluar, Sayang?" tanya Diki pada istrinya.
"Aku malu, rambutku masih basah, Bang." kata Nara sambil mengerucutkan bibirnya. "Apa lagi Abang buat tanda di leherku begitu banyak, terus ini bagaimana? Ada Rena yang masih kecil, dia akan tanya yang macam-macam nanti. Ahhhh, ABANG!" teriaknya sangat gusar, Diki tertawa. "Maaf aku terbiasa di rumah, aku lupa kalau arena perangnya berbeda, apa tidak ada kosmetik yang bisa menyamarkan itu, Sayang?"
"Ada, tapi akan kelihatan sedikit berbeda dengan warna wajahku," kata Nara sambil menghelah nafas.
"Mana? Abang bantu mengoleskannya."
Nara mengeluarkan foundation dari tas kosmetiknya dan memberikan pada suaminya.
"Ini sih gak seberapa, Sayang. Biasanya lebih dari ini," timpal Diki sambil terkekeh. Nara memukul dada Diki karena gemas. "Sakit, Sayang," katanya sambil tertawa.
"Lihat di cermin, gak kelihatan, 'kan?" kata Diki sambil menarik tangan dan mendudukkannya di kursi depan meja rias. Nara pun melihat tampilan kulit lehernya dan tertawa. "Kok bisa?" tanya Nara sambil mendongakkan kepalanya keatas menatap Diki. "Jangan-jangan dulu Abang sering membantu mengoleskan ini di leher mbak Anita?"
"Sudah, buang pikiran seperti itu, itu masa lalu dan aku gak pernah berlebihan padanya selain padamu karena kamu istriku, bagaimanapun aku masih bisa mengendalikan diriku. Andai tidak, kau sudah habis ku makan saat kita ada di puncak Bogor," kata Diki sambil mencium kening Nara.
"Nara, aku bukan pria baik, tapi aku juga bukan pria yang bisa melepas keperjakaanku begitu saja, tolong jangan bebani pikiranmu dengan masa laluku! aku mencintaimu lebih dari siapun, kau mengerti!" kata Diki sambil menatap dalam wajah istrinya. Nara mengangguk dan tersenyum.
"Ayo kita ke balkon untuk mengeringkan rambut mu ini, di sana banyak angin," katanya sambil tertawa.
Sementara itu di kamar Rafa pun terjadi perdebatan kecil, Anin yang mengoleskan foundation ke lehernya sambil berbicara tak ada hentinya, menggerutuh karena dia harus menyamarkan noda yang ada di lehernya.
__ADS_1
"Kamu itu yaa, gak pernah bisa mengendalikan diri, Bang. ini itu di tempat kakek bukan di apartemen!" katanya menatap tajam pada Rafa.
"Mana bisa aku mengendalikan diriku, kalau kamu saja secantik ini dan halal untuk ku sentuh. Jangan salahkan diriku, Nin. Salahkan saja dirimu kenapa kamu begitu cantik hingga aku tak bisa melepaskanmu walau sedetik pun."