Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Bertemu Calon Mertua


__ADS_3

Rendra berhenti di rumah sederhana yang tertata rapi, dengan halaman yang tak seberapa luas namun indah dengan bunga-bunga yang tertata rapi.


Dia juga meminta Rene turun. "ini rumah siapa Bang?" tanya Rena pada Rendra.


"Ini rumahku, Na," katanya setelah memarkirkan mogenya di halaman depan rumahnya. Dia menarik tangan Nara, mengajaknya masuk. Tepat di depan pintu rumahnya Rendra mengucapkan salam yang di jawab oleh wanita paruh baya yang masih terlihat cantik menyambutnya.


"Siapa?" tanya wanita itu sambil menelisik wajah dan tubuhnya yang terlihat seperti Nara tapi bukan, Rena pun mengulurkan dan mencium punggung tangan wanita itu sambil menyebut namanya lengkap membuat wanita itu semakin mengernyitkan dahinya. Rendra pun terkekeh. "Anaknya kakaknya daddy Ammar, yaitu Om Angga."


"Iya, Bu. Saya biasa di panggil Rena, Tasya juga boleh," katanya pada wanita paruh baya itu yang tak melepaskan jemari tangannya.


Wanita itu pun tersenyum, dan memeluknya. "Masih kecil, Umur berapa?" tanya ibu Rendra.


"Saya tiga belas tahun kelas delapan SMP," jawabnya.


Sang ibu menatap sang putra, dan Rendra pun mengangguk dan tertawa.


"Sini ndok, duduk sini!" pintanya.


Mengajaknya duduk di ruang tengah, di kursi meja makan.


"Gak diapai-apainkan sama Rendra?" tanya wanita itu. Rena terkikik mendengar pertanyaannya. "Enggak, Bang Ren baik kok Bu. Bu, boleh Rena numpang sholat," tanyanya pada wanita itu. " Ya, boleh di sana kamar mandinya," kata wanita itu dengan tangannya menunjuk arah yang di maksud. Rena pergi di kamar mandi yang dekat dapur.


Setelah Rena berlalu dari hadapannya, ia pun menarik tangan sang putra. "Kamu serius dengannya Nak?" tanya sang ibu.


"Iya Rendra serius, Bu," jawabnya


"Masih kecil loh Ren," sahut ibunya lagi.


" Ngak apa-apa, Bu. Dia lulus SMU aku masih 29 Bu, belum tua aku segitu, Anaknya penurut juga cengeng, bikin gemes saja," jawab sang putra.


"Ya sudah, terserah kamu dari pada kamu gak laku-laku," jawabnya sambil tertawa.


"Bu di mana tempatnya sholat?" tanya Rena pada wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Di sana, Na. Tunggu Abang yaa, kita sholat berjamaah," jawab Rendra sambil pergi ke kamar mandi, ibunya mengantar Rena ke musholah kecil rumahnya. Rena pun menatap ruang itu dengan takjub, ruangan yang kecil tapi indah ada serambi di depannya dengan. pilar yang di ukir di sana. "Indah sekali bu," pujinya.


"Itu gambaran Rendra waktu kecil, dia berkata, ' aku ingin punya musholah seperti ini di rumah,' jadi ia pun mewujudkannya sekarang," jawabnya sambil matanya berkaca-kaca.


Rendra memeluk sang Ibu dari belakang.


"Ibu jangan nangis nanti Rena juga nangis, bisa susah aku," katanya terkekeh, membuat sang ibu memukul tangan putranya itu. "Ibu jadi seperti Mama, apa-apa pukul, Ayo, Na kita sholat dulu habis itu kita makan siang masakan ibu enak loh," kata Rendra masuk kedalam mushola yang langsung mengambil shaf.


Rena menggelar sajadah dan memakai mukena yang memang sudah di siapkan mereka di sana dan mereka pun sholat berjamaah, setelah berdzikir dan berdoa, Rendra mengulurkan tangannya sambil berkata,"Latihan dulu jadi istri Abang." Membuat Rena terkekeh. "Emang Rena mau?" tanya Rena bergurau.


"maulah buktinya tadi ingin cium bibir Abang," kata Rendra menggoda. "Abang jangan terus terang begitu, Rena kan jadi mau ehh, salah malu." Rena pun menunduk setelah mencium tangan Rendra. Pria itu menangkup wajah gadis itu, perlahan mendekatkan bibirnya sambil menatap bibir Rena yang menggoda, membuat gadis itu memejamkan matanya, Rendra pun terseyum lalu mencium kening gadis itu. "Ayo kita makan!" bisiknya sambil tertawa dan pergi meninggalkan Rena yang berteriak memanggilnya jengkel. "BANG REN!"


Rena berjalan menuju meja makan dengan muka masam, dan duduk di sebelah Rendra.


"Jangan cemberut! Abang jadi resah" nih," candanya, membuat gadis itu tertawa lalu memukul tangan Rendra.


Bu Nurul yang melihat putra ceria seperti dulu merasa senang, ia tak akan menolak gadis manapun yang di pilih putranya, ia pun yakin Rena gadis yang baik apa lagi masih keponakan tuan Ammar yang membantu putra hingga menjadi seistimewa ini.


"Kebanyakan, Bang. Kok jadi Abang sih yang mengambilkan, harusnya akukan, Bang. Bunda selalu yang mengambil makanan untuk Ayah. Kurangi lagi, Bang! Kebanyakan itu," katanya lagi


"Sedikit amat sih Ren, kamu itu sangat kurus , makan yang banyak!" katanya tidak jadi mengurangi nasinya.


"Bang, itu tuh masih banyak, Rena gak akan bisa habiskan!" gerutu Rena.


Tiba-tiba semua nasi di taruhnya di piring sendiri oleh Rendra mengambil lauk ayam bakar, tanpa bicara. Rena yang melihat itu terkejut dan sedikit takut kalau Rendra marah.


"Suka Ayam panggang gak?" tanyanya


"Suka Bang," jawabnya sambil meringis.


Dengan tangannya Rendra menyuapkan makanan di mulut Rena.


"Buka mulut mu, kita makan bersama saja, kalau kamu makan sendiri, pasti sedikit, gak usah takut gemuk! Abang tetap masih suka sama kamu," jawabnya sambil menyuapkan makanan di mulutnya setelah menyuapkannya ke Rena.

__ADS_1


"Enak apa Enggak?" tanya Rendra.


"Enak sekali ini, Bang," jawabnya


Rendra tertawa. "Lihat kamu sendiri ini yang makan banyak."


"Masak sih, Bang," jawabnya tersipu. Setelah makan Rendra mengajaknya di kebun belakang, sambil membawa, gitar.


Mereka duduk di bawah pohon yang Rindang. "kamu yang nyanyi Abang yang mengiringi," kata Rendra


"Kenapa gak abang saja yang nyanyi? tanya Rena.


"Belum waktunya abang nyanyi," katanya sambil terkekeh.


Rena pun menyanyikan lagu Hold me yang pernah di Hold me.


"Suara loh bagus juga, yaa," kata Rendra.


Lalu Rendra menarik tangan Rena membawanya ke kamar. Gadis itu mengeryitkan dahinya


Kenapa kita ke kamar Bang?" tanya Rena.


"Menyuruhmu tidur, dari tadi menguap melulu, tidurlah di situ! Ada yang harus Abang kerjakan, Agak sore saja kita pergi jalan-jalannya atau agak malam bisa pergi ke pasar malam, pernah ke pasar malam tidak?" tanyanya sambil membuka laptopnya dan memeriksa email-nya, dan mulai memeriksa keuangan bisnisnya.


"Kalau Rena tidur gak bakalin di apa-apain kan sama, Bang Ren?" tanya Rena sambil terkekeh.


"Enggak, kalau mau ya sudah dari tadi Ren, sudah sana tidur!" perintah sudah fokus dengan dengan angka-angka di laptopnya. "Bang, Rena gak bawa baju ganti loh," katanya sambil memejamkan matanya.


"Iya gampang nanti Abang belikan," jawab Rendra dengan matanya masih terus fokus.


Tak lama kemudian terdengar dengkuran halus keluar dari mulut gadis itu, ia pun terkekeh melihat cara tidur Rena. kaosnya tersingkap ke atas.


Untung lo masih kecil, Na, gumamnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2