Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Saling Menjaga Hati


__ADS_3

Pak Danu berjalan menuju kelasnya mengisi mata kuliah yang menjadi basicnya. Selama dua jam mengisi mata kuliah dengan penjelasan-penjelasannya yang mampu di ikuti mahasiswanya. Lelaki jebolan NUS Singapore, sangat piawai dalam penyampaian materi. Setelah selesai ia berjalan menuju mobilnya dan meninggalkan kampus menuju rumahnya. Masuk kedalam kamarnya dan segera membersihkan diri lalu mengganti pakaiannya dengan kaos di padu celana pendek selutut, Danu berjalan menuju kamar Aila Rara Pambudi putri angkatnya itu, dan ia berpapasan dengan suster yang mengasuh anaknya itu. "Rara tidur sus?" tanya Danu pada baby sitternya.


Belum dok, itu dia Non Rara sedang minum susu di botolnya. Danu mendekati box Rara digendongnya bayi perempuan itu. "Hai putri daddy lapar ya, minum susu lahap sekali," tanya Danu sambil mencium wajah Rara.


Danu memberi nama Aila Rara Pambudi, karena ia tidak ingin melupakan wanita yang ia kagumi semenjak pertemuannya dengan sosok Aila Berliana Dintara, andai ia tak terlambat datang dalam kehidupan Aila ia akan bersedia untuk menjadi suaminya dan menemani serta mengobati penyakitnya. Namun kehidupan berkata lain tidak ada kata andai dan semua harus di hadapi. Danu mengingat segala kekonyolannya, memberikan tugas pada Aila di sela jeda mata kuliahnya hanya ingin melihat wajahnya, celotehannya dan gelak tawanya, semua itu tak bisa dia lakukan sekarang ia berharap suatu saat nanti Frans mengerti bahwa ia tak akan pernah merebut Aila darinya. Akan tetapi memang ia tak bisa menghilangkan rasa cinta pada Aila, hingga menyematkan nama Aila di depan nama anak angkatnya.


Danu membawa Rara ke ruang tengah diletakkan di atas matras lantai, bayi yang berusia lima bulan itu bergerak bebas kesana kemari kadang tengkurap, kadang menungging seolah ingin merangkak. Beberapa hari ini hatinya benar-benar galau, kemarin Ayah dan ibunya mendesaknya menikah tapi ia menolak, ia beralasan masih mudah masih berumur 24 tahun, masih ingin mencari yang sesuai dengan hatinya dan saat ini belum mendapatkannya, dia berjanji jika telah mendapatkannya akan segera menikah. Danu menatap Rara tak disadarinya bocah kecil itu tertidur di sana kemudian Danu menggendong Rara memindahkannya di box bayi. Lalu dia berjalan kemeja makan dan mulai mengambil makanan yang ada di meja makan, ditaruh kedalam piring kemudian menyuapkannya dalam mulutnya. Setelah selesai ia pun berganti pakaian dan berpamitan pada baby sitter anaknya kalau ia akan ke rumah sakit ada jadwal operasi hari ini. Ia pun pergi dengan mobilnya meninggalkan rumahnya. Tak lama kemudian ia sampai di area parkir rumah sakit. Danu keluar dari mobil dan masuk melewati lobby rumah sakit menuju ruangan operasi.

__ADS_1


...----------------...


Di kampus, Aila dan Frans keluar kelas dari mata kuliah terakhirnya. mereka berjalan ke area parkir kampus dan masuk ke dalam mobilnya meninggalkan kampus menuju kediaman kakek Imran. Hari ini giliran mereka menginap di sana setelah satu bulan menginap di rumah Raka. Mereka akan tinggal di sana juga selama satu bulan. mobil berjalan dengan kecepatan sedang melintasi jalanan yang sepi dan panas. Tak lama kemudian dia mereka sampai di rumah besar yang sederhana itu, berbeda dengan rumah Raka yang tampak mewah, Di rumah Imran terkesan sangat sederhana dengan halaman luas yang ditumbuhi berbagai pohon buah-buahan terlihat sangat asri


Nenek, menyambut cucu dan cucu menantu dengan sangat gembira ia telah menyiapkan masakan yang sederhana, sayur asam, pepes ikan dan ayam, sambal terasi serta tempe goreng hangat.


Nenek mengambilkan Aila nasi kedalam piringnya. "Makan yang banyak agar bayi dalam kandunganmu sehat." Aila tersenyum lalu mengambil sayur juga lauknya di taruh kedalam piringnya kemudian menyuapnya dengan sangat lahap. Aila selalu rindu akan masakan Nenek. Setelah selesai makan siang Frans dan Aila pergi ke kamar mereka,

__ADS_1


Aila membaringkan tubuhnya dengan kaki yang masih menjuntai ke lantai.


"Ai, gak boleh rebahan setelah makan," nasehat Frans. Aila bangun dan duduk di bibir ranjang lalu berjalan ke sofa dan duduk di sana. Frans menyusul duduk di samping istrinya meletakan kepala Aila di dadanya, lalu membuka hpnya, begitu banyak pesan dari nomer tak di kenal yang ternyata adalah Naya. Frans memberikan hpnya pada Aila. "Ai, ini lihatlah aku tak mau kau mencurigaiku, maka bacalah, terserah apa yang kau lakukan terhadap pesan itu, aku bahkan belum membacanya, aku ingin engkau yang pertama kali tahu karena kau adalah istriku, dan ku pastikan padamu saat ini hingga rambut kita memutih hanya engkau di hatiku." Aila menatap Frans lalu mengambil hp Frans dan membaca semua isi chat tersebut. lalu membalas dengan kalimat salah sambung kemudian memblokirnya dan menghapus nomer itu. setelah itu, diberikan pada Frans. "Apa kau keberatan?"


Frans menggeleng sambil tersenyum. "Tidak, Ai. Inilah yang kuinginkan Ai, aku jujur padamu begitu pula dirimu, jangan pernah pergi sebelum kita menyelesaikan masalah dengan baik, kau berjanji padaku, Ai." Aila tersenyum dan mengangguk, Frans mengangkat dagu Aila memanggut lama bibir itu sambil melepaskan satu persatu kancing baju Ai, hingga terlepas semua, Aila memukul dada Frans saat ia kehabisan nafas. Frans melepaskan panggutannya lalu menatap dua gundukan di dada Aila yang masih tertutup kain di lepaskan kaitnya dan menyibakannya ke atas, ukurannya sudah sangat berubah saat pertama kali Frans mengenal benda itu, semakin bes@r dan pucuknya seperti buah ceri merah yang siap untuk di nikmati. Frans menatap dengan tatapan berkabut dan bibirnya sudah mulai menikmati ceri ranum nan indah, sambil melepas seluruh kain atas Aila, terpampang sudah tubuh Aila bagian atas tanpa penghalang hanya kain segitig@ yang menutupi lembah surgawi yang menjadi persinggahannya ketika rasa cinta meluap mencari kepu@san. Frans terus menikmatinya sambil melepaskan kain yang tersisa di tubuh Aila.


Mereka pun bergumul dalam kemesraan setelah terjadi pertengkaran, menyiramnya dengan cinta yang terus di bangkitkan, Frans membisikan kata cinta berulang-ulang di telinga Ai, ia melakukan penyatuan dengan sangat hati-hati, Cuaca yang panas tak mampu menghentikan kegiatan panas yang menggelor@ itu, Frans memperlakukan Aila sangat lembut hingga sama-sama saling terpuaskan, Frans menyudahi aksinya, mencium kening Aila dan perut Aila. "Hai sayang daddy tadi sudah berkunjung, sehat-sehat di perut mamy ya." Ai memukul lengan Frans, ia pun tergelak. Ia memungut bajunya yang bertebaran di atas lantai lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


__ADS_2