
Aila menarik nafas panjang. 'kenapa di saat yang genting begini justru Pak Danu tidak bisa di hubungi?' pikirnya.
Frans memeluk Aila. "Jangan cemas Ai, jika Pak Danu besok belum datang kemari, akan kuurus besok agar kamu tetap bisa dirawat dengan baik bersama putra kita dan bisa pulang bersamanya.Ya udah, aku mau sholat dulu yaa Ai, jangan sedih nanti mempengaruhi Asimu." kata Frans sambil mengecup kening Aila. Lalu Frans keluar dari ruang rawat Aila menuju mushola rumah sakit, ia pun menunaikan sholat ashar setelah sholat ia kembali keruangan Aila.
Sampai di pintu Frans mengucapkan salam, namun tak ada yang menjawab ternyata Aila termangu tatapannya kosong menandakan otaknya sudah berjalan-jalan entah kemana.
"Ai, ini ponsel mu, coba hubungi Dokter Danu siapa tahu, jika kamu yang menghubungi Dokter Danu langsung menerima panggilanmu, Ai." kata Frans terkekeh. "Kamu tidak cemburu kalau aku berbicara pada Dokter Danu," Aila menatap serius Frans.
"Selama aku ada di hati mu, Ai. Aku tak akan cemburu, beliau punya pemikiran yang luas dan bijak, Andai beliau tidak ada di situ bagaimana perasaanku dan bagaimana dirimu, aku tak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu padamu, Ai," kata Frans pada Aila. Aila tersenyum lalu melakukan panggilan pada nomer Dokter Danu, dan betul apa kata Frans bahwa Dokter Danu akan segera merespon ketika Aila yang menelpon. "Assalammualaikum, Pak. Tadi dokter mengatakan bahwa aku boleh pulang sedangkan bayiku belum, bagaimana aku bisa pulang dan tenang? jika bayi ada di sini, tidak bisakah aku tetap di sini sampai bayiku benar-benar sehat dan bisa pulang?"
Wa'alaikumsalam, Ai. Hanya untuk ini kamu menelphonku? Kau bisa langsung sampaikan hal ini pada Dokter Raya. Itu tidak masalah, Ai. Yang penting pembayarannya," kata Dokter Danu sambil terkekeh.
"Apa tidak bisa gratis untukku?" kata Aila sudah bisa berbasah-basih.
"Boleh kalau kau mau jadi istriku," katanya sambil tertawa.
"Dokter Danu tidak boleh mengatakan itu," kata Aila sambil melirik Frans.
__ADS_1
"Kenapa? Ada Frans? sekalian aja ijin," katanya sambil tertawa.
"Jangan begitu, Dokter Danu! bagaimana kalau terjadi kebakaran? aku tak bisa tanggung Dokter." kekeh Aila.
"Sudah jangan kuwatir tinggallah di situ sampai anakmu sehat, Ai. Nanti aku yang urus."
"Baiklah, Dok terimakasih, Assalamualaikum," ucap Aila.
"Sama-sama, Ai. wa'alaikumsalam."
Aila tersenyum manis pada Frans, dan pria itu menghelah napas panjang. "Ai, jangan meminta gratis, lelaki yang mencintai wanita tidak bisa diberikan gurauan semacam itu." kata Frans sedikit kecewa.
"Kau tahu, Ai. Aku seperti pria yang tak sanggup menanggung biaya pengobatanmu. Jadi jangan kau bercanda soal ini lagi," kata Frans mencium kening Aila. Hati Frans sebenarnya terasa sakit saat Aila bergurau seperti itu dengan pria yang punya perasaan dengannya dan bukan suaminya pula, namun Frans tidak ingin marah terhadap istrinya, saat Aila berada dalam kondisi kritis saja hatinya seperti teriris sembilu. Dia tersenyum pada istrinya. "Kamu ingin makan apa? Selesai sholat aku akan membeli makanan, kau tidak apakan aku tinggal?" tanya Frans pada Aila
"Tidak apa, Frans aku berani, pergilah dan tolong maafkan aku jika itu terkesan aku tak menghargaimu."
"Tidak apa-apa, Ai. Akan tetapi jangan di ulang yaa. Aila mengangguk.
__ADS_1
"Mau dibelikan apa nanti?" tanya Frans kembali.
"Aku mau sate Ayam saja Frans," kata Aila sambil menatap wajah suaminya itu. Frans tersenyum mencium kening Aila lama lalu ia keluar dari ruangan Aila untuk melaksanakan sholat magrib jamaah di mushola rumah sakit, setelah selesai ia keluar mencari makan malam untuk Aila dan dirinya. Ia mengendarai mobilnya mencari makanan untuk sang istri. dia berputar mencari penjual sate Ayam akhirnya ia pun menemukannya dan membeli 50 tusuk sate ayam dan dua bungkus nasi putih. Setelah itu ia pun masuk mobil kembali, dan menjalankannya menuju rumah sakit, setelah tiba di rumah sakit ia langsung ke kamar Aila, Frans masuk keruangan perawatan dengan mengucapkan salam dan di sambut oleh istri dengan senyuman manis, Ia meletakan makanan yang dibeli di atas nakas. lalu ia berpamitan untuk sholat isya' dulu. setelah selesai menunaikan sholat isya' ia kembali ke kamar Aila. Ia melihat bungkusan makanan masih di atas meja. "Sayang, belum makan?" tanya Frans. Aila tersenyum dan menggeleng.
"Aku menunggumu, Frans," katanya sambil berjalan pelan menghampiri suami yang duduk di sofa.
Frans membuka bungkusan yang dibelinya tadi meletakan nasi di atas piring rotan dan diberikan kepada Aila merasa mulai makan dengan tenang terkadang Frans memberikan suapan sate pada Ai begitu pula sebaliknya.
Setelah makan malam mereka pun hingga seorang suster datang untuk mengambil Asi dan Aila pun menyerahkan beberapa botol Asi yang baru saja di pompa.
setelah suster itu pergi Frans mengajaknya keluar berjalan-jalan di area rumah sakit, Frans mendorong kursi roda Aila menuju ke taman rumah sakit. Malam belum 'lah larut masih banyak orang berlalu-lalang untuk menjenguk atau membawakan makanan pada orang yang sedang menunggu keluarganya yang sedang sakit.
Frans dan Aila duduk di bangku taman menikmati cahaya rembulan yang bersinar terang di tambah dengan lampu yang menyala di kanan-kiri koridor rumah sakit yang mengitari taman, memberikan cahaya temaram di area itu Angin berhembus perlahan memberikan rasa dingin sesaat pada tubuh dan tulang mereka, namun mereka tetap bertahan di taman, saling merapat tubuhnya dan saling mengenggam satu sama yang lainnya. Aila menyandarkan kepalanya di dada Frans menatap bintang-bintang bertaburan di sana.
Menoleh sesaat pada pria pujaan hatinya, ia tak pernah tahu kapan ia mulai menyukai lelaki ini yang selalu berada di sisinya kemanapun dia berada, tak pernah sekalipun Frans meninggalkan dirinya dalam kesendirian, hingga merasa Frans mempunyai perasaan yang sama dengannya, hingga detik-detik di mana Frans mengakui ada wanita di dalam hatinya membuat sedikit terkikis rasa di hatinya.
Malam semakin larut Fans kembali menuntun istrinya untuk duduk di kursi roda. Lalu mendorong kursi roda dan berjalan di lorong-lorong rumah sakit yang tak pernah sepi, beberapa orang duduk di kursi-kursi yang berderet di depan ruangan menunggu anggota keluarganya yang sakit, ada yang sedang tidur di atasnya sambil memeluk tubuhnya sendiri untuk menjadi penghangat, dari dinginnya malam. Frans terus bejalan melewati beberapa ruangan hingga sampai ke ruangannya.
__ADS_1
Mereka masuk dan menutup dan mengunci pintunya lalu membantu Aila turun dari kursi roda kemudian berjalan ke ranjang dan membaringkan tubuhnya di sana.