Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Detik-detik Anin Melahirkan


__ADS_3

Rika menata cup cake ke dalam piring sambil berbincang dengan dua remaja itu.


"Cuma mainan doang Bun, gak benar-benar taruhan, kemarin Rina kalah Bang Diki tetap tanya Rena mau dibelikan apa," katanya terkekeh.


"Lah Dia memang gak sungguh-sungguh, sebenarnya kamu panggilnya bukan Abang tapi Adik," jelas Rika?


"Sungkan Bun, Bang Diki kan sudah berumur, pernah dicoba si Bun, tapi malah kedengaran lucu yang paling keras ketawanya malah Bang Diki, katanya mimpi apa dia panggil bocil seperti aku, mbak," kata Rena tertawa.


semua tertawa, Vino berdiri dari duduknya. "Ya sudah Bun, aku mau balik nih Bun, Boleh ambil ini di bawah kesana?" ijin Vino


"Itu yang masih panas bawa ke sana sekalian tehnya Kakek, Nenek dan Ayah Angga tuh, baru bunda bikinkan," kata Rika sambil menatanya ke dalam baki lalu di berikan pada Vino.


Vino pergi ke apartemen sebelah dengan membawa baki berisi makanan dan minuman.


sesampainya di sana ia pun meletakan baki di karpet bulu di mana ayah Angga dan Kakek Raka serta nenek duduk.


"Wah masih panas ini," kata Raka mengambil satu buah cup cake.


"Iya masih panas kek, tapi lebih nikmat kalau makannya hangat," kata Vino


"Ya, kau benar, Vin," jawab kakek.


Raka sambil menikmati kue bikinan menantunya.


"Nenek mau tidur sudah ngantuk," kata nenek pada mereka.

__ADS_1


"Loh nek, tehnya gak diminum?" tanya Vino


"Kamu yang minum aja temani mereka ngobrol," kata Nenek


"Lah, mana bisa nyambung, Nek.


Mereka ngomong Vino yang habisin kuenya," katanya terkekeh. Angga dan Raka tertawa, Raka mengacak rambut Vino. dan Rima berjalan menuju kamarnya sambil tertawa. Vino akhirnya meminum teh panas punya Nenek.


Setelah itu ia pun ikut pamit. "Kek, Ayah, Vino tidur dulu yaa, habis minum teh malah ngantuk nih Kek."


Raka dan Angga tertawa. "lagakmu Vin, dari tadi sudah kelihatan kamu ngantuk, pakai alasan segala." Vino terkekeh dan berjalan masuk ke kamar.


di kamar ia langsung merebahkan tubuhnya, sungguh sesuatu yang tak menyenangkan dengan melakukan ke pura-puraan.


Ia pun memejamkan mata.


Di Indonesia di rumah sakit Anin sudah merasakan sakit dari mulai jam 09.00 hingga jam 21.00 belum juga pembukaan lengkap, Rafa mulai gelisah,


Sang istri belum juga melahirkan. "Sayang, apa tidak bisa operasi?" tanyanya pada Anin.


"Aku ingin melahirkan normal Fa, aku ingin merasakan bagaimana melahirkan normal," kata Anin


"Aku akan konsultasi dengan dokternya jika harus operasi kamu tidak boleh menolak," kata Rafa pada Anin. Rafa pun keluar menemui dokter yang menangani istrinya.


"Tante, Apa bisa Istri di operasi saja?" tanya Rafa pada Dokter Raya

__ADS_1


"Jangan kawatir istrimu bisa melahirkan normal, ayo kita lihat! Sudah pembukaan berapa sekarang," katanya sambil berjalan di ruang Anin, sampainya di sana ia mengenakan kaos tangan, lalu mengecek jalan lahir. "Sudah pembukaan delapan bawa ke ruang bersalin, Sus," perintahnya lalu ia pun menoleh ke Rafa. "Ayo, Fa. Kau harus mendampingi istrimu juga!" perintahnya kembali pada keponakannya.


"Baik, Tan," katanya sambil mengikuti Raya dari belakang.


Setelah sampai di kamar bersalin Raya mengecek kembali jalan lahir dan sudah pembukaan lengkap dan Raya mulai memberikan aba-aba. Ayo terik nafas, dorong, ia berkata begitu berulang-ulang hingga bayi laki-laki lahir dengan tangisan yang keras.


Rafa merasa legah sang istri telah melahirkan sang putra, melihat kesakitan tiap jam membuatnya benar-benar tak tega terhadap istrinya itu, ia mencium kening sang istri dan mengucapkan terimakasih padanya, terimakasih, telah berjuang untuk melahirkan putra kita aku semakin mencintaimu, maaf jika dulu aku sangat menyebalkan," katanya sambil mencium bibir sang istri ia lupa jika disekitar masih ada suster dan tantenya Dokter Raya yang baru saja membantu proses kelahiran putranya. "Fa, jangan bikin Tante ninggalin putra untuk mencari Ommu, Luky yaa, atau ku getok kepalamu dengan sepatu ku ini!" kata Raya geram dan dua suster yang membantunya tertawa melihat Dokter satu ini marah dengan keponakannya itu. Rafa nyengir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf, Tante. Lupa kalau masih ada Tante dan Mbak Suster, nanti yaa Tante selesaikan tugas dulu baru nyari Om. Untuk Mbak Susternya anggap iklan yang gak sengaja lewat," kata terkekeh untuk menghilangkan rasa malunya pada mereka. "Sana, keluar! biar kubersikan istri dan anakmu dulu, jangan lupa masih harus puasa 40 hari!" perintah Dokter Raya sekaligus mengingatkannya. "Kenapa harus di ingatkan juga sih Tan," gerutu Rafa pada tantenya sambil berjalan keluar ruangan bersalin, dalam hatinya mengumpat kebodohannya sendiri karena tidak sadar tempat mengungkapkan perasaannya. "Ahhh, Si@l! Kenapa lupa kalau masih ada mereka?"


Rafa melihat jam yang bertengger di pergelangan tangannya menunjuk pukul 22.00, dia pun berfikir bahwa belum terlalu malam untuk menelpon orang tuanya sekedar memberi tahu kalau Anin sudah melahirkan.


Rafa menekan nomor telpon mamanya, ia menunggu sambungan terhubung untuk beberapa lama, hingga akhirnya tersabung juga. "Assalammualaikum, Ma. Anin sudah melahirkan putra kami," kata Rafa pada mamanya di telpon


"Wa'alaikumsalam, APA!?" Terdengar suara dari sebrang begitu kerasnya hingga ia harus menjauhkan handponenya dari telinganya, bisa dia duga jika saat ini mamanya sedang sangat marah. "Kenapa baru bilang sekarang, haa?" protes mamanya kemudian terputus. "Ahh! Kebiasaan deh, Mama," gerutunya dalam hati.


Rafa mengirimkan shareloc kepada mamanya.


Tak lama kemudian tantenya keluar dan tengah menerima telepon, tentu saja dari Izah, mamanya. Terdengar tante Raya menjawab bahwa Anin, istrinya itu sebentar lagi akan di pindahkan keruang perawatan bersama bayi, setelah selesai ia menoleh ke Rafa.


"Masuk dan adzani anakmu!" perintahnya setelah itu mereka berdua di pindahkan di ruangan VIP.


Rafa mengikuti tante dan beberapa petugas medis membawa Anin dengan bankar dorong ke kamar VIP yang sudah di siapkan.


Ada dua ranjang rumah sakit di dalam ruanganitu dan satu box bayi di tengahnya. Raya meletakan bayi yang bobot tubuhnya tiga kilo setengah itu.


diranjang tempat Anin terdapat tiang infus di mana untuk meletakkan infus dan yang kabelnya terpasang di pergelangan tangan Anin. "Tan, kenapa Anin tidur terus? Apa tidak apa-apa?" tanyanya pada Dokter Raya.

__ADS_1


Tidak apa-apa Fa, dia kelelahan saja," jawab Raya sambil tersenyum.


"Jaga putramu yaa, kalau nangis tekan ini biar suster datang kemari dan jangan molor kamu sudah jadi Bapak," katanya lagi sembari keluar kamar. Rafa menatap takjub pada sang putra yang memiliki manik mata yang sama dengan ibunya, perpaduan yang selaras sehingga menjadikannya sangat tampan.


__ADS_2