Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Sakit Perut


__ADS_3

Sinar mentari memasuki celah gorden di sebuah kamar sepasang pasutri yang masih saja terlelap dalam mimpi indahnya. Merasa sedikit terganggu dengan silaunya cahaya yang masuk membuat Nantha terbangun lalu mengambil ponselnya dan melihat jam.


Nantha kaget saat jam sudah menunjukan pukul 07.50, membuatnya tergesa-gesa sehingga membuat Nada yang masih berada di dekapannya ikut terbangun.


"Ssshhh..Nant kenapa sih. Aku capek, masih ngantuk." rengek Nada


"Eh..sayang maaf aku nggak sengaja. Aku kesiangan yang." balas Nantha


"Emang jam berapa sih?" tanya Nada


"Hampir jam 8 yang." jawab Nantha


"Kamu sih semalem di bilangin udah-udah, masih aja minta nambah terus sampe mau pagi." ujar Nada sedikit kesal


"Malah nyalahin aku sih yang. Yaudah aku mandi dulu, kamu tidur lagi aja." balas Nantha enteng.


"Hmmmm.." Nada yang memang masih lelah dan ngantuk hanya berdehem.


Ketika ingin lanjut tidur, Nada teringat belum menyiapkan baju Nantha, akhirnya ia turun dari ranjang dan berjalan menuju wardrob untuk mengambil baju Nantha.


Ceklek~


"Kok nggak tidur yang?" tanya Nantha


"Habis nyiapin baju kamu." jawab Nada


"Kamu cepet banget mandinya. Jangan-jangan nggak mandi ya kamu, cuma cuci muka aja." imbuhnya


"Mandi kilat yang. Kalo kurang bersih lanjut nanti aja pulang kerja." balas Nantha


"Sama kamu." lanjutnya masih sempat-sempatnya menggoda istrinya


"Jangan mulai deh."


"Udah sana cepet pake baju. Aku mau lanjut tidur lagi." balas Nada


"Sayang sarapan dulu, ini udah siang perut kamu belum ke isi." ujar Nantha


"Nanti aja lah, aku lagi nggak nafsu. Pengennya tidur aja." jawab Nada


"Yaudah aku bikinin susu dulu buat kamu." ujar Nantha hendak keluar kamar


"Nggak usah Nant, nanti kamu tambah kesiangan, udah sana berangkat." ucap Nada mencegah Nantha


"Bentar yang, kamu harus minum susu dulu."


"Iya-iya nanti aku bikin. Sekarang kamu berangkat."


"Yaudah pokoknya jangan lupa minum susu dan makan."


"He'emm.."


"Aku berangkat yaa.."


"Bye sayang..."


"Hati-hati yaa..."


Setelah Nantha benar-benar berangkat, Nada kembali membaringkan badannya bersiap untuk kembali tidur, namun tiba-tiba perutnya terasa kram dan mules, sehingga punggungnya juga terasa sakit.

__ADS_1


Nada pergi ke kamar mandi karna perasaannya tidak enak.


Berjalan sempoyongan karna kepalanya juga pusing. Saat di kamar mandi ia melihat di celananya terdapat bercak darah. Seketika Nada kaget.


Ia segera menghubungi dokter kandungan terkait yang di alaminya.


Setelah panggilan tersambung, Nada langsung menanyakan apa yang baru saja ia alami. Dokter pun menyarankan Nada untuk segera memeriksakannya ke rumah sakit. Setelah panggilan terputus, Nada segera siap-siap untuk ke rumah sakit.


Tok.. Tok..Tok..


Terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Neng Nada.." panggil bibi


"Iya bentar bik.."


"Neng susunya di minum dulu, sarapan juga sudah bibik siapkan." ucap bibi


"Makasih ya bik. Tapi Nada mau sarapan nanti aja. Soalnya Nada mau siap-siap ke rumah sakit." balas Nada


"Siapa yang sakit neng?"


"Perut Nada kram bik, terus juga ada bercak darah. Tadi aku juga udah telpon dokter, katanya suruh kesana buat di priksa." jelas Nada


"Ya Allah neng..neng sudah telpun den Nantha?"


"Nggak bik, aku nggak mau ganggu Nantha, soalnya dia lagi sibuk banget hari ini, kasian kalo harus bolak balik nantinya." ucap Nada


"Yaudah Nada mau siap-siap dulu ya bik.."


"Iya udah neng, bibik pamit ke dapur juga."


Di dapur bibi terlihat kebingungan. Posisinya sekarang serba repot. Dia ingin menghubungi Nantha tapi takut Nada akan marah nanti. Tapi dia yakin dia harus tetap menghubungi Nantha, apapun kondisi Nada, Nantha orang pertama yang harus di hubungi jika ia sedang tidak di rumah. Begitu lesan Nantha pada bibi tadi. Sebelum berangkat kerja, Nantha meminta bibi untuk membuatkan susu ibu hamil buat Nada, karna Nantha tahu Nada pasti tidak segera membuat susu selepas dia berangkat. Nantha juga berpesan pada bibi untuk selalu mengecek keadaan Nada karna Nantha tahu Nada terlihat kelelahan dari raut wajahnya.


Akhirnya bibi pun segera menghubungi Nantha mumpung Nada masih bersiap-siap di kamarnya. Bibi mengambil telepon duduk di rumah itu dan memencet tombol nomor majikannya yang sudah tertera disitu. Setelah panggilan terhubung. Terdengar suara Nantha dari seberang telepon.


"......"


"Hallo den, maaf bibik ganggu den."


"......"


"Neng Nada, den.."


"......."


"Neng Nada mau ke rumah sakit buat periksa kandungannya den, karna katanya perutnya kram dan keluar bercak darah."


"........"


"Tapi nanti den Nantha jangan marah ke neng ya. Neng Nada nggak mau bilang karna nggak mau ganggu aden yang lagi kerja, makanya neng Nada mau pergi ke rumah sakit sendiri."


"......"


"Baik den."


Setelah sambungan terputus bibi merasa lega, namun dia juga takut kalau nanti Nada marah, tapi dia lebih takut lagi kalo Nada kenapa-napa. Dari suara Nantha tadi bibi juga tahu kalau majikannya itu sangat khawatir akan keadaan sang istri. Bibi pun kembali melanjutkan pekerjaannya sambil menunggu Nada turun. Ia akan mencegah Nada agat tidak segera pergi.


Lima belas menit kemudian Nada terlihat menuruni tangga. Nada pun menghampiri bibi untuk berpamitan.

__ADS_1


"Bik, aku pergi dulu yaa." ujar Nada hendak pamit keluar.


"Neng, apa nggak sebaiknya neng sarapan dulu biar lebih kuat. Apalagi non pergi sendirian." ucap bibi sengaja mengulur waktu Nada agar tidak cepat keluar rumah, di samping itu juga agar Nada bisa sarapan dulu.


"Nanti aja bik, pulang dari rumah sakit, aku pengen cepet tau keadaannya."


"Bibik ngerti non, tapi sebaiknya non makab dulu, nanti pasti dokter juga nanya apakah pagi ini ibu dan calon bayinya sudah makan apa belum. Kalau belum juga pasti neng di suruh makan dulu biar ke isi perutnya." jelas bibi membuat Nada akhirnya berubah pikiran.


"Hmmm..baiklah bik."


"Yaudah aku makan dulu. Bibik udah sarapan?" tanya Nada


"Sudah non, yaudah mari bibik antar ke meja makan."


"Neng mau lauk yang mana, bibik ambilkan." ujar bibi hendak menyendokkan lauk ke piring Nada.


"Nggak usah, biar Nada sendiri bik." ujar Nada


"Baiklah neng, kalo gitu bibik lanjutin kerjaan dulu ya neng."


Saat Nada mau menyuapkan makanan ke mulutnya, tiba-tiba perutnya kembali kram dan lebih sakit dari tadi pagi.


"Akh..ssh.." ringis Nada merasakan perutnya sakit. Bibi yang mendengar itu langsung menghampiri Nada.


"Ada apa neng?" tanya bibi sambil berjalan sedikit tergopoh-gopoh karna cemas.


"Perut aku kram lagi, tambah sakit bi..ssh.." ujar Nada.


"Sabar neng, apa mungkin ini juga karna non terlambat sarapan, jadi tambah kram." ujar bibi dengan mengusap lengan Nada.


"Yaudah Nada makan dulu bi. Perutnya di elus-elus gini udah agak enakan." ujar Nada sambil mengusap perutnya.


"Yaudah nanti kalo ada apa-apa, neng panggil bibik ya."


"Makasih ya bik.."


Ceklek~


Nantha membuka pintu rumah dengan hati-hati agar Nada tidak menyadari kedatangannya. Ia melihat istrinya sedang duduk di ruang makan dengan posisi membelakanginya, terlihat istrinya itu sedang makan sambil mengelus perutnya. Nantha tahu pasti perut istrinya itu masih sakit. Kemudian Nantha mendekat untuk mengecup puncak kepala istrinya lembut. Merasakan itu membuat Nada terpaku, ia menghirup aroma parfum suaminya, Nada pun menoleh ke belakang dan mendapati Nantha yang menyunggingkan senyum padanya.


Keduanya terdiam, Nada tidak menanyakan kenapa Nantha sudah pulang. Ia tahu pasti Nantha pulang karna keadaannya sekarang, ia yakin pasti bibi lah yang diam-diam memberi tahu Nantha.


"Masih sakit?" Nantha mengelus perut istrinya lembut. Nasa hanya mengangguk pelan.


Detik berikutnya Nantha merebut sendok Nada, menyuapinya sambil tangan satunya mengelus perut Nada, agar Nada bisa bersender di kursi. Selesai makan Nantha segera menggendong sang istri ala bridal style menuju mobil yang ada di teras rumah. Setelah itu mobil Nantha pun melesat dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit.


" Kenapa nggak bilang kalo perutnya sakit?" tanya Nantha memecah keheningan dengan menggenggam tangan Nada.


"Maaf.." cicit Nada pelan.


"Aku udah sering bilang kan, apapun keadaan kamu, apapun itu keluhannya, meski sesibuk apapun aku, kamu tetep harus bilang ke aku."


"Mulai besok aku akan tambah pemasangan cctv buat di kamar kita." ujar Nantha


"Hah?! Jangan dong, kan malu kalo kita ngapa-ngapain.." ujar Nada memanyunkan bibirnya.


"Yang di kamar hanya aku yang bisa akses." balas Nantha sambil mengambil tangan istrinya untuk di kecup.


"Huhftt.. Yaudah terserah kamu." Nada hanya bisa pasrah.

__ADS_1


__ADS_2