Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
AQiqoh


__ADS_3

Waktu yang ditentukan tiba sudah. Yaitu Aqiqah untuk Bayhas Ahil Dintara.


Sejak kemarin sore sudah di persiapkan.


memasang tenda di halaman luas itu.


Agendanya akan mengundang anak panti yang akomodasinya sudah di sediakan oleh Raka, dan semua yang mengatur adalah Ammar yang punya banyak akses mengenai organizer, pengalaman mengurus hal-hal yang mengenai hotelnya walaupun ia tak harus turun tangan sendiri, ia punyak banyak wewenang untuk memberikan pekerjaan tambahan pada karyawannya.


Mereka tentunya senang mendapat tambahan penghasilan dari majikan belum lagi bonusnya, mereka akan menerimanya ketika acara sukses.


Pagi harinya pun semakin terlihat sibuk untuk mempersiapkan acaranya, beberapa Anggota keluarga sudah berdatangan, terlihat beberapa hot grandfa berkumpul di halaman belakang, Burhan, Imran, Amran dan Raka yang sedang menggendong Bayhas, bayi kecil itu lagi terjaga matanya menatap beberapa orang yang ada di situ,


Acaranya adalah selain membacakan doa untuk pemberian nama juga memberikan santunan pada anak-anak panti asuhan. Raka ingin mereka datang dengan rasa senang itu sebabnya semua akomodasi semua yang menanggung Raka. Acara pun hanya di hadiri warga setempat saja, tidak mengundang kolega-koleganya, menghargai keinginan besannya itu.


Jam 08.00 dua mobil elf berhenti di depan rumah Imran para anak-anak yatim-piatu dari dua rumah panti asuhan itu keluar dari mobil, masuk dan menempati tempat duduk yang telah di sediakan di halaman rumah, sementara para tetangga terdekat dan kerabat duduk di atas karpet yang di gelar di ruang tamu yang cukup luas tersebut.


Setelah tamu istimewa sudah datang maka di mulailah acaranya di depan kursi-kursi yang berjajar di halaman ada panggung kecil di mana akan ada iringan sholawat yang disenandungkan oleh anak-anak panti tersebut.


Acara di buka dengan pembacaan ayat-ayat suci Alquran oleh salah satu anak panti tersebut.


Acara berlangsung dengan khidmat, serangkaian acara telah di gelar termasuk membaca manaqib dan sholawat. Juga, prosesi potong rambut.

__ADS_1


Bayhas Ahil Dintara nama yang diberikan, begitu nama itu di panggil lantunan sholawat menggema di seluruh area tempat acara di selenggarakan berharap nama yang diberikan memberikan kebaikan pada buah hatinya.


Setelah itu semua yang hadir bisa menikmati berbagai macam sajian olahan kambing yang tersedia di meja prasmanan. Beberapa tetangga yang akan pulang diberikan makanan dan sejumlah uang yang di taruh di bingkisan begitu pula untuk anak-anak pantai Asuan itu, tak cuma itu saja Raka pun memberikan sejumlah uang dan hadiah-hadiah pada pengurus panti tanpa sepengetahuan banyak orang karena ia menganggap memberi tidak harus di ketahui banyak orang.


Mereka di antar hingga masuk kedalam mobil dan kemudian Mobil itupun menghilang dari pandangan mata ketiga kakek tersebut.


Saat acara di mulai Bayhas tetap terjaga seolah dia senang dengan acara yang di selenggarakan oleh kakeknya, tak lupa Rafa mengabadikannya dengan foto dan Video yang diambilnya sendiri.


Setelah itu mengirimkan pada saudaranya yang ada di Boston yaitu Bara dan Ratih bahkan sebelum Acara Rafa melakukan panggilan video lewat laptopnya sehingga mereka bisa melihat acara secara langsung, itu sangat membuat Bara dan Ratih sangat bahagia apa lagi setelah acara semua berganti mengajaknya berbicara kesempatan yang jarang bisa dirasakan oleh Bara dan Ratih.


Jam 11.00 Bayhas akhinya tidur setelah mendapatkan ASI dari sumbernya langsung. Rumah sudah mulai sepi tinggal beberapa orang pekerja yang set membongkar tenda.


Frans bernafas legah, bahkan ia tidak mengirah acara akan terselenggara begitu meriahnya di hadiri oleh anak yatim-piatu yang sama dengan dirinya kehilangan orang tuanya saat usia 6 tahun dan ia masih beruntung mempunyai Kakek dan om yang memberikan kasih sayang padanya menggantikan kasih sayang yang hilang dari orang tuanya.


"Hemm," jawab Frans tanpa menoleh ke arah istrinya dan menikmati dekapan hangat sang istri.


"Apa kita besok ke makamnya?" tanya Aila tanpa melepaskan pelukannya, ia tahu bahwa saat ini hati suaminya sedang dalam keadaan kosong merindukan sosok ayah dan ibu yang telah lama pergi meninggal dalam sebuah kecelakaan.


"Boleh, besok kita kesana," katanya sambil mengurai tangan Aila kemudian membalikan badannya ke arah istrinya dan menatap lekat penuh kerinduan lalu memeluknya kembali.


"Trimakasih, kau selalu ada untukku ketika aku dalam keadaan apapun, maaf jika pernah melukai hatimu, Ai. Kau benar-benar gadis yang lembut di balik tampilan premanmu itu," katanya sambil terkekeh.

__ADS_1


"Kau ini merusak keromantisan saja, kenapa bawah preman segala, sih," protesnya sambil mengerucutkan bibirnya.


Habis mau berlabuh daratannya banjir, sih. Kebawa suasana malah bikin susah," kata Frans tertawa.


"Ya, sudah aku menjauh saja biar gak bikin susah kamu," katanya sambil berupaya melepaskan pelukannya Frans, bukannya lepas tapi semakin erat membuat Aila tertawa.


Frans mengurai pelukannya menatap kembali wajah sang istri, ditatapnya bibir tipis menggoda dengan cepat diraupnya dengan penuh perasaan dan lama. Di saat mereka dalam suasana romantis itu tiba-tiba Raya masuk kedalam ia pun terkejut. Namun, kemudian tertawa. "Maaf, aku gak tahu kalau lagi ... Tante mau lihat Yhas, Frans," katanya tanpa merasa bersalah.


Frans pun melepas 'kan panggutannya di bibir Aila dengan perasaan kesal di tatapnya Tantenya itu. "Kalau sudah tahu, kenapa maksa masuk sih, Tan!?" protes Frans.


"Tante takut kamu kebablasan, 'kan? Aila kan masih nifas Frans," kata Raya sambil berjalan ke arah box bayi dan melihat ponakanya itu tertidur pulas. "Oh, masih tidur, ya sudah lanjutkan saja, Tante mau bantu nenekmu di dapur," katanya sambil berjalan melenggang keluar. Frans menghelah nafas panjang, sedang Aila tertawa terpingkal-pikal mengingat kejadian yang memalukan sekaligus lucu itu.


"Kamu jangan tertawa terus, Ai! hardik Frans pelan.


"Habis lucu sih, expresi kamu. Tante kayaknya sengaja deh," kata Aila membuat Frans semakin dongkol.


"Gak tahu, kenapa Tante Raya sikap usilnya gak ilang-ilang padahal sudah tua." kata Frans bersungut-sungut.


"Sudah gak usah marah, sudah kejadian juga, mau bilang apa, Frans?"kata Aila sambil tersenyum.


"Iya, aku tahu, Ai,"kata Frans masih dengan muka datar karena kejadian yang tak menyenangkan.

__ADS_1


Frans berjalan ke kamarnya lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang, dan membiarkan kakinya menjuntai ke bawah, hari ini tubuhnya terasa lelah walau acara tidaklah menguras tenaga, entah Frans tidak tahu. Mungkin karena kesal pada Tantenya itu.


__ADS_2