
Singkat cerita setelah pengakuan Devan pada Shena beberapa waktu lalu, kini keduanya sering terlihat jalan bersama. Devan sangat menikmati kebersamaan mereka selama ia masih berada di Newyork, karna satu minggu lagi ia harus kembali ke tanah air untuk melakukan rutinitasnya sebagai sekretaris pribadi sahabatnya.
Apakah Shena sudah menjawab permintaan Devan terkait perasaannya? Tentu saja belum, karna masih banyak yang Shena pertimbangkan, namun semenjak itu Shena juga tidak pernah menolak ajakan Devan untuk sekedar hangout berdua. Namun, Shena tidak dapat memungkiri bahwa benih cinta itu tumbuh seiring berjalannya waktu mereka sering pergi bersama.
Malam ini mereka akan pergi untuk makan malam.
Devan telah menyusun beberapa rencana, ia sengaja menyiapkan dinner romantis untuk memberikan kejutan pada Shena.
Devan meminta Shena untuk menemuinya di salah satu restoran mewah di kota itu. Devan yang sudah siap dengan setelan basic T-shirt berwarna hitam yang di padukan dengan blazer berwarna abu-abu membuatnya terlihat menawan.
Setelah di rasa cukup, ia pun segera pergi ke tempat yang sudah di bookingnya itu. Lima belas menit kemudian Devan tiba di resto, ia segera mengirim pesan ke Shena bahwa ia sudah tiba di resto dan meminta Shena untuk segera datang.
Devan masuk terlebih dulu ke dalam resto dengan di kawal salah satu pelayan di sana. Ia merasa sedikit deg-degan saat menunggu Shena. Ia merasa kurang percaya diri, apakah kali ini ia di terima Shena atau tidak.
Tidak lama kemudian terlihat sosok cantik dan elegan lengkap dengan busananya yang simple namun tetap mewah. Di antar oleh pelayan dengan raut wajah kebingungannya karna melihat suasana tempat yang telah di tata sedemikian rupa sehingga terlihat romantis, seperti candlelight dinner sepasang kekasih. Sejurus dengan itu, Devan yang melihat kedatangan Shena sangat terpana dengan kecantikan Shena malam ini, make up tipis yang terkesan natural itu di mata Devan sudah sangat cantik jika Shena yang memoleskannya.
Devan segera berdiri menyambut Shena, setelahnya pelayan pun pergi. Kemudian Devan menarik kursi untuk Shena duduki. Perlakuan seperti ini ia berikan pertama kali hanya untuk Shena. Diperlakukan seperti itu membuat pipi Shena memerah. Setelahnya pelayan pun
"Aku bisa duduk sendiri, Dev.." ucap Shena tak terbiasa di perlakukan seperti itu.
"Kali ini hargai usahaku buat romantis ke kamu.." ujar Devan.
"Tumben resto ini sepi, biasanya aja rame." ujar Shena celingak celinguk menyoroti keadaan resto.
"Ya mana aku tau. Mungkin aja mereka nggak mau ganggu kita." jawab Devan sekenanya.
"Jangan-jangan kamu sewa satu resto ini ya?" tebak Shena yang tahu jika Devan bisa melakukan apapun sesuka dirinya.
"Anything for you.." jawab Devan santai.
"Tuh kan. Kamu tuh buang-buang duit tau nggak. Kalo mau makan ya makan aja, nggak usah pake acara sewa-sewa resto segala." omel Shena.
"Kamu tinggal makan, ngomel mulu." sahut Devan.
__ADS_1
"Ya habis kam.."
Cup...Dengan gerakan cepat Devan mengecup pipi Shena. Ia gemas dengan Shena yang seakan tiada hari tanpa mengomel.
Sedangkan Shena yang masih terkejut hanya diam tanpa merespon apapun.
"Diem." ujar Devan saat Shena menatapnya dengan tatapan tidak terbaca.
"Sekarang kita makan." lanjut Devan.
Mereka makan dengan di iringi suara biola yang di mainkan oleh pemain biola andalan yang di siapkan resto tersebut. Selesai makan, baik Devan maupun Shena masih saja diam. Shena yang masih sibuk dengan pemikirannya setelah adegan sebelum makan. Sedangkan Devan memberanikan diri untuk memulai lebih dulu, menarik tangan Shena dengan lembut membuat Shena sedikit tersentak.
"Shena.." ujar Devan memanggil Shena.
"Aku minta maaf buat yang tadi." lanjutnya, dan Shena tetap diam saja.
"Malam ini udah aku tunggu-tunggu dari kemarin, aku sengaja nyiapin semua ini buat kita. Aku tau mungkin ini sedikit berlebihan buat kamu. Hal ini juga bisa menjawab kebingungan kamu kenapa aku sampai segininya nyiapin ini semua. Tapi please percaya Shen, kalo aku ngelakuin ini semua pertama kali cuma buat kamu. Aku mau nunjukin keseriusan aku sama kamu." ucapnya panjang lebar mengungkapkan perasaannya.
Devan mengeluarkan sebuah kotak yang berisi kalung, lalu membukanya di hadapan Shena.
Pertanyaan Devan membuat Shena menatap Devan sangat dalam. Shena memastikan hal ini sungguh-sungguh di ucapkan Devan tulus dari hatinya.
Shena menyerah..Ia tidak dapat melihat kebohongan dari mata Devan, yang ada hanya keseriusan dan tulus hati yang di berikan Devan padanya.
Dengan segenap hati, Shena pun menganggukan kepalanya membuat Devan terkejut hampir tidak percaya.
"Kamu serius nerima aku?" tanya Devan memastikan dan Shena hanya mengangguk dan tersenyum tulus.
"Thank You, Shen." lanjutnya dengan mengecup tangan Shena.
"Aku pakein kalungnya ya.." ujar Devan, lagi-lagi Shena hanya bisa menganggul sambil tersenyum.
Devan pun berdiri dari duduknya, dan mengitari meja untik bisa menjangkau Shena dan memasangkan kalungnya di leher jenjang Shena.
__ADS_1
"I love you.." bisik Devan setelah memasangkan kalungnya.
"Too.." jawab Shena akhirnya bersuara.
"Mau keluar dari sini?" tanya Devan
"Boleh" jawab Shena
Kemudian sepasang sejoli yang baru saja meresmikan hubungannya itu keluar dari resto tersebut untuk melanjutkan quality timenya bersama. Dan sampailah mereka di pinggiran danau yang tak jauh dari kota. Menghirup udara malam yang tidak sedingin sebelumnya.
Devan memandangi wajah Shena dengan dalam, ditatap seperti itu membuat Shena memalingkan wajahnya malu.
"Kamu cantik banget malam ini." puji Devan
"Thank you.."
"Seminggu lagi aku balik ke Jakarta." ujar Devan
"Apa kamu nggak ada keinginan buat pindah ke Indonesia aja?" lanjutnya.
"Aku masih ada kontrak disini. Aku nggak bisa begitu aja ninggalin kerjaan disini, dan pindah ke Jakarta. Kalo di tanya mau enggak, ya pastinya aku mau. Tapi aku juga harus jalanin tanggung jawab aku disini." jelas Shena
"Okey, kalo gitu aku akan sering-sering datang kesini sampai kontrak kamu selesai dan aki bawa kamu pulang ke Indonesia." ujar Devan
"Kamu jangan sering-sering kesini, kan tiketnya juga nggak murah" timpal Shena
"Oh jadi kamu nggak mau aku sering-sering kesini biar kamu bisa seenaknya sama cowok-cowok disini?" ujar Devan berpura-pura merajuk agar Shena menenangkannya.
"Enak aja, kamu pikir aku apaan." sahut Shena sekenanya, ia tidak peka jika kekasihnya itu sedang ingin di tenangkan.
"Pokoknya aku bakal sering kesini. Lagian juga orang tua aku deket dari sini, aku sekalian ngunjungin mereka dan pastinya ngenalin kamu ke mereka juga. As soon as possible." jelas Devan membuat Shena kaget.
"Tapi.."
__ADS_1
"Sssttt... Siapin diri kamu ya.." Devan memotong ucapan Shena.