
Hari berganti hari, Setiap hari mendapatkan pesan dari orang yang sama, dengan nomer yang berbeda.
Setiap hari di blok dan di hapus datang lagi dengan nomer yang berbeda, begitu terus, tak ada rasa capek wanita yang bernama Naya itu menggoda suaminya.
Satu Minggu setelah perdebatan Frans dengan Pak Danu terjadi, tiba-tiba hari ini pak Danu memanggil mereka berdua di ruangannya.
Frans dan Aila pergi ke ruangan pak Danu, setibanya di ruangan pak Danu, mereka di suru duduk dan di beri buku dan 2 kotak makanan. "Ini kamu diskusikan dengan Ai tarik kesimpulannya, lalu tindakan apa yang perlu di lakukan? Makan dulu baru kerjakan." Lalu dia kembali ke meja kerjanya, duduk di sana dengan menghadap laptop. Frans menelan ludahnya setelah kejadian itu, Pak Danu sama sekali tak pernah senyum. membuat nyali Frans sedikit menciut.
Frans membuka nasi kotak itu dan melirik Pak Danu. "Pak Danu kenapa ya kami disuruh mengerjakan ini?" Danu menatap Frans. "Kerjakan saja tak perlu bertanya, bukan 'kah jika ingin bertemu Aila harus ada kamu dan saat ini sedang kulakukan, makan saja setelah itu kerjakan tidak ada ruginya mengerjakan tugas yang saya berikan."
"Baiklah Pak akan saya kerjakan dengan Ai," jawab Frans sambil menyuap makanannya. berbeda dengan Ai, dia tidak pernah mempermasalahkan apa yang terjadi dengan hati orang. baginya cukup dirinya tidak mempunyai perasaan terhadap Pak Danu. Dia pun makan pemberian pak Danu dengan senang hati. Setelah selesai mereka mengerjakan tugas yang diberikan Pak Danu. Mereka berdiskusi tentang tersebut dan mulai mencatatnya dalam kertas tugas. Pak Danu mengamati dari meja kerjanya. Setelah selesai mereka pun keluar dari ruangan kerja Pak Danu.
Frans begitu sangat legah keluar dari ruangan Pak Danu, dia merasa di ruangan itu cukup sangat mencekam.
Frans dan Ai kembali ke kelasnya untuk mendapatkan mata kuliah lainnya. dua jam lamanya ia mengikuti kuliah yang di berikan oleh dosen lainnya.
__ADS_1
Handphone Frans bergetar sepanjang perkuliahannya berlangsung. Setelah selesai mereka pun keluar kelas serta berjalan ke mobil mereka lalu meninggalkan kampus menuju ke kafe kakek Imran yang pengurusan di serahkan pada Frans saat ini. Frans mengambil handphone-nya kemudian diberikan kepada Ai. "Ai periksa siapa, kalau wanita itu lagi, terserah apa yang kau lakukan?" katanya sambil terus fokus menyetir mobilnya.
Aila melihat isi chat itu dan benar dari Naya dengan nomer yang berbeda. Sungguh wanita itu benar-benar tak menyerah dengan apa yang di lakukan, tetap menghubungi Frans. Aila menghapus isi chat tersebut dan memblok kembali.
Mobil mereka telah sampai di kafe. Frans dan Aila masuk ke dalam ruang kerjanya memeriksa laporan keuangannya, tatapan menatap angka- angka yang ada di laptop. sementara itu Aila membaringkan tubuhnya ke sofa untuk meredakan punggung yang akhir-akhir ini terasa pegal.hingga tak terasa ia pun tertidur.
...----------------...
Hari berjalan dengan cepatnya secepat ayunan langkah dalam menapaki kehidupan. Rutinitas yang sama di hadapi setiap saat. Kuliah, bertemu Pak Danu. Mendengar notifikasi dari handphone Fans dengan orang yang sama namun nomer yang berbeda tak lagi di hiraukan oleh keduanya.
Saat ini usia kandungan Aila menginjak umur 7 bulan. Hari itu mereka sendang makan di sebuah rumah makan. Tiba-tiba seorang wanita datang menghampiri meja Aila dan Frans. Wanita itu tidak lain dan bukan adalah Naya. Disudut ruangan tempat mereka berada ada seorang laki-laki yang mengamati mereka. Yaitu Pak Danu juga ada disitu. Terjadi perdebatan antara mereka hingga Naya mendorong Ai kebelakang dan jatuh terduduk. Pak Danu yang melihat semua itu langsung berlari menolong Aila. Frans yang marah langsung menampar Naya. "Aku tak punya hubungan apapun dengan mu dari awal jadi jangan ganggu hidup ku!"
Buka segera mobilnya!" Frans pun berlari meninggalkan Naya yang masih berdiri di tempat itu dan tak bergeming.
"Pakai mobilku saja ambil kunci di saku kemeja ku," Tanpa banyak bicara Frans mengambil kunci tersebut dan membuka pintu tengah, Aila di dudukan kursi penumpang di bagian tengah Frans menemaninya di sana. Pak Danu menelpon seseorang untuk menyiapkan ruang operasi Ai. Dia masuk dan duduk di belakang kemudi lalu melajukan mobilnya ke rumah sakit. Masih dalam fokus mengemudi Pak Danu bertanya, "Selama ini Aila dalam pemeriksaan dokter siapa? aku butuh dia." Frans memeluk Aila yang merintih kesakitan. "Dokter Raya, tante saya." tanpa menoleh memberikan perintah "Hubungi dia, bilang Aila harus operasi sekarang juga." Danu mengemudikan kecepatan tinggi tak ingin sesuatu terjadi pada pujaan hatinya. akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit, saat mobil Danu masuk, bankar dorong serta beberapa pekerja medis telah menyambut, mereka mendorong ke dalam ruang operasi, pertolongan pertama di lakukan dengan menghentikan pendarahan dan memantau kondisi bayi dalam perut Aila, Raya segera bertemu dengan Dokter Danu memberikan rekam medis tentang kondisi Aila yang sesungguhnya. Dokter Danu dan Dokter Raya. mengamati perkembangannya.
__ADS_1
"Terlihat detak jantungnya masih normal," kata Dokter Raya.
Di luar sudah berkumpul Raka, Imran, Ammar, Angga, Dokter luky, dan Dokter Diki yang baru mendengar kabar langsung menuju ruang tunggu operasi. Dia mencium punggung tangan Raka, Pria Sepuh itu nampak tak berdaya, terlihat raut kecemasan. Dokter Danu menghampiri dan bertanya, "Tuan Raka?"
"Ya saya, Dok." jawab Raka sambil berdiri dari duduknya.
"Tolong ikut saya dan juga kamu Frans."
Mereka berbicara sebentar lalu Dokter Danu memberikan surat yang harus di tandatangani. "Kamu saja Frans yang menandatangani, aku sudah jelaskan kemungkinan terbesar ia tidak bisa punya anak lagi dan ku harap kau bisa menerimanya, jika tidak maka kau tahu apa yang ku maksud Frans maka jaga dia baik-baik." Frans mengangguk menandatangani tangannya bergetar, seakan tak sanggup untuk melalui cobaan ini.
Setelah menandatangani Frans menuntun Raka kembali ke tempat dan duduk menunggu di sana. "Dadd, Mami tidak apa-apa 'kan? Raka mengangguk.
Dokter Danu dan Dokter Raya masuk kedalam ruang operasi.
Waktu berputar begitu lama, bayi dan ibunya harus di selamatkan, Luky menatap keponakan lalu mereka pergi agak menjauh dari yang lain dan berbicara serius. "Akan ku urus wanita j@l@ng itu."
__ADS_1
Frans kembali bergabung dengan yang lainnya. Sementara itu, Luky sudah pergi entah kemana.
Dua jam berlalu dan Dokter Danu keluar, dari ruang operasi. "Mereka selamat, Laki-laki. putramu masih harus di inkubator, hingga berat badan dan organ tubuhnya terbentuk sempurna." katanya Dokter Danu menepuk bahu Frans dan Raka.