Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Perjalanan Mencari Nasi Uduk


__ADS_3

Diki dan Nara ke loket pembelian obat.


Di sana memberikan resep pada petugas loket. Ia menerima resep tersebut sambil berkata, "Dokter Diki, anda tunggu di ruangan Anda biar suster yang membawakan vitamin Nyonya di ruangan Anda. Kasian Nyonya dalam keadaan pucat. Takutnya nanti malah pingsan."


"Oh, ya bisa begitu ya?" tanya Diki.


"Bisa Dok, nanti saya yang panggil Susternya dan menyuruh mengantar keruangan Anda,"kata petugas itu.


"Baiklah, Pak. Saya tunggu di ruang saya kalau begitu. Ayo, Sayang, lebih baik menunggu obatnya di ruang Abang." kata Diki dan mereka berdua, Diki dan Nara pergi meninggalkan loket kemudian berjalan menuju ke ruangannya, sambil terus merangkul istriya.


Sepanjang jalan Diki tak mau melepaskan tangannya di pinggang istrinya. Rasa bahagia karena akan menjadi seorang ayah di luapkan dengan kemesraan yang ditunjukan tanpa perduli tempat.


Beberapa teman dan staf rumah sakit hanya mengangguk ketika bertemu dengan mereka lalu mengulum senyum melihat kemesraan mereka.


"Kamu tadi sudah makan, Sayang?" tanya Diki kepada Nara. Nara tersenyum lalu mengangguk. "Tadi dibawakan Mama burjo, lalu Nara disuapin rasanya nikmat gitu, Bang.


"Habis banyak?" tanya Diki lagi pada istrinya. Nara mengangguk dan tersenyum.


Setelah tiba di ruangan Diki, Nara di ajak di ruangan istirahatnya.

__ADS_1


"Kamu istirahat saja di sini, aku harus melakukan kunjungan pasien di ruangannya," kata Dokter Diki dan Nara pun mengangguk lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang, tak lama kemudian ia tertidur.


Dokter Diki mengunjungi beberapa pasiennya. Dari yang lanjut usianya hingga pasien anak-anak, dia kunjungi semua, beberapa pasien usia enam tahun keatas menanyakan Nara yang menjadi idola mereka. Diki tersenyum istrinya lebih terkenal di pasien anak-anak penyakit dalam seperti jantung, kangker dan lain sebagainya.


"Siapa yang dokter kenapa dia lebih terkenal dari Dokternya.


Setelah melakukan kunjungan ia kembali keruangannya di dalam perjalanan ia bertemu suster yang ditugasi mengantarkan vitamin Nara.


"Dok, ini vitaminnya bu Nara."kata suster itu pada Dokter Diki.


"Oh ya, terimakasih ya," ucap Dokter Diki. Dia berjalan menuju ruangannya. Setelah sampai ia pun masuk dan duduk meja kerjanya membaca rekap medis pasiennya.


"sebentar ya, Abang tanya teman di mana ada nasi uduk yang enak," jawab Diki sambil beberapa kali melakukan panggilan pada seseorang, beberapa saat berbicara setelah itu terputus hingga beberapa kali dan Nara mengangguk sambil menunggu dengan sabar.


Setelah selesai berbicara di telepon dan mengakhiri panggilannya lalu memasukan handphone-nya kedalam saku celananya, lalu menghampiri istri yang sedang duduk di sofa. "Ayo kita pergi sekarang." Diki menarik tangan Nara membantunya berdiri, lalu mereka pun pergi bersama keluar dari ruangannya, berjalan menyusuri lorong rumah sakit, sesekali ada beberapa orang menyapanya di sepanjang perjalanannya menuju area parkir rumah sakit. Sesampainya di sana ia masuk dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah sakit, membelah jalanan kota Jakarta yang lengang dan sedikit gerah karena cuaca yang begitu panas di siang hari ini. mobil terus berjalan melewati beberapa gedung yang tinggi lalu melewati perkampungan yang padat penduduk dan akhirnya ia berhenti di sebuah rumah makan sederhana dengan halaman yang luas. Dan terlihat banyak pembeli di sana menikmati sajian menu yang disajikannya. Banyak mobil yang terparkir di kanan kirinya.


Nara dan Diki pun keluar dan berjalan menuju rumah makan itu, mencari tempat duduk yang kosong lalu mereka duduk di sana kemudian datang kemeja Diki dan Nara menanyakan pesanan mereka. Pelayan itu pun mencatat pesanan mereka lalu pergi ke dapur mereka. Tak lama kemudian pelayan membawakan pesanan mereka, dua nasi uduk dan jus jeruk dingin, setelah mengantarkan makanan mereka, pelayan pun pergi ke meja pelanggan yang baru saja datang.


Nara dan Diki menikmati makanannya begitu juga Nara, ia menikmati makanannya dengan sangat lahapnya, suasana di tempat itu begitu asri sehingga teriknya sinar matahari terhalang beberapa pohon besar dan rindang memberikan kesejukan dengan bau bunga yang tertiup angin menambah panorama yang indah itu.

__ADS_1


"Abang, tahu dari mana ada tempat yang indah seperti ini dan nasi uduknya enak sekali," tanya Nara sambil menebarkan pemandangan yang begitu menakjubkan sebatas mata memandang.


"Dari teman, dulu kami sering tour untuk sekedar berburu makanan enak." kata Diki sambil mengunyah makanannya.


"Kalau Bang Diki, mau tour lagi sama teman-teman Abang, Nara gak keberatan, Bang. Nara gak akan mengekang kebebasan Abang dalam hal ini asal jangan bawa cewek saja," ucap Nara pada Diki.


Diki tertawa mendengar ucapan istrinya itu, ia pun berbisik," Ngapain tour sama teman-teman kalau sudah punya istri, enakan tour sama istri dapat paket komplit, perut kenyang dan yang bawa juga kenyang dan jangan tanya bisa memanjakan mata dengan keindahan dari yang di miliki Nara istrinya Dokter Diki."


"Duh susah ya, ngomong sama Dokter mesum," katanya sambil mencubit perut suaminya.


Diki tertawa. "Di sini ada penginapan yang indah, buat nengok ladang sebentar, satunya belum kenyang, Yang.


Katanya panoramanya sangat indah, Ayok yuk kita sana."


Nara tak dapat menolak jika Diki sudah berada pada fase on itu, mau tak mau ia menuruti kemauan suaminya, setelah membayar makanannya, mereka keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobilnya yang kemudian berjalan meninggalkan rumah makan itu menuju hotel yang di maksud suaminya itu.


Mobil berhenti dan mereka keluar lalu masuk kedalam hotel setelah memesannya, mereka masuk kesebuah ruangan yang sangat indah. Diki dengan sangat tidak sabar mengangkat tubuh Nara membaringkan tubuh istrinya itu di atas ranjang melepaskan semua yang kain yang ada di tubuh istrinya lalu mencumbunya dengan sangat lembut dan hati-hati mulut dan tangannya menyapu ke seluruh tubuh istrinya yang tak berbalut apa-apa, sesekali mengedarkan tatapannya pada keindahan yang telah menjadi candunya, terus bermain di atas dan di bawah dengan sangat lembut membawa Nara terhanyut suasana permainan Diki, hingga membuat merengkuh titik kenikmatan yang luar biasa.


Diki menyudahi permainan dengan sangat indah, lalu ia beranjak dari tubuh Nara dan masuk dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu ia pun menggendong istriya ke kamar mandi membantu membersihkan tubuhnya istrinya setelah itu mereka mengenakan pakaiannya kembali lalu tidur bersama beberapa jam di hotel tersebut.

__ADS_1


Saat waktu menunjukkan jam empat sore hari mereka melaksanakan sholat ashar berjamaah lalu keluar dari hotel menuju mobilnya, mereka masuk kedalamnya dan mengemudikan dengan kecepatan sedang untuk pulang ke rumah, perjalanan yang panjang membuat Nara tertidur pulas.


__ADS_2