Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Pulang Bersama


__ADS_3

Setelah puas menatap yang putra ia beralih pada istrinya, yang terlelap dengan infus di tangannya, dia mendekati sang istri.


Dia ingat saat pertama kali bertemu sang istri benar-benar dalam keadaan buruk dan marah tapi saat itu juga timbul rasa tertarik pada gadis yang sehari-hari terlihat buruk dimatanya, walaupun dalam keadaan pengaruh Alkohol dan obat perangsang saat itu ia masih merasakan nikmatnya pertama kali menyentuh gadis yang sekarang jadi istrinya gadis yang tak bersalah dan di jadikan korban balas dendam mereka agar buruk citra hotel ayahnya.


Dia tersenyum. 'Hari itu memang terburuk untuk kita tapi membawa kita pada suatu yang indah yang tak akan ku lepaskan walau apapun yang terjadi, Anindita Prameswari,' gumamnya dalam hati.


Dia membaringkan tubuhnya yang lelah, ia menunggu sang orang tuanya datang tapi tidak kunjung datang mungkin mereka tidak datang batinnya.


Baru saja terlelap tiba-tiba saja terdengar suara pintu dibuka ia pun langsung terjaga, melihat daddy dan mamanya datang. "Sembrono sekali kamu Fa, masak tidur tidak kau kunci," katanya pada putranya sambil langsung menuju box "Wah tampan sekali cucu mama, lihat wajahnya mirip kalian berdua," kata Izah mengagumi cucunya


"Ini namanya bibit unggul aku tampan istri cantik," katanya dengan sombongnya. Azizah langsung memukul kepala Rafa dengan keras. "Dulu gak mau sekarang bilang bibit unggul, kalau bibit Unggul Gak nunggu pernikahan 2 bulan baru isi, 1minggu saja istrimu itu hamil di luar nikah," sarkasnya pada putranya. Rafa mengusap kepala yang sakit. " Dad, istrimu ini bar-bar sekali sih," gerutunya


Ammar tertawa. "Istriku itu apamu?"


Rafa berjalan dan menghindari jangkauan tangan mamanya yang suka sekali memukul jika merasa gemas atau jengkel sembari berkata, "Gak tahu Dad, dia siapaku."


"Eeh, kamu, yaa. Gak ngakuin mama," protesnya pada Rafa.


Pria yang duduk dekat daddynya itu tertawa. "Bukan gak ngaku, Ma. Cuman ragu saja Mama itu benar-benar Mamaku bukan, pasalnya kalau marah tangan Mama itu aktif sekali pukul kepala untung saja Rafa ini masih pinter, gak mengalami gergar otak," kata Rafa sambil memayunkan bibirnya.


"Kamu itu pinter karena Mama pinter tahu," jawab Izah tidak mau kalah dengan sang putra.

__ADS_1


Perdebatan kecil itu akhirnya membangunkan Anin dan bayi mungil itu, seketika tangisannya membuat Izah kalang kabut. "Ini kayaknya haus deh Nin, kamu neneni nih, Mama bantu deh biar mudah," katanya berjalan ke ranjang Anin. "Kalian berdua keluar gih," katanya tanpa menoleh ke suami dan anaknya.


"Kenapa aku ikut keluar? Aku, 'kan suaminya Mam?" protesnya pada mamanya.


"Sudah jangan protes, temani daddy di luar, nanti kau malah gagal move on, masih 40 hari harus puasa," kata Ammar merangkul dan menggeret putranya itu keluar.


"Ahh, Daddy pakai di ingatkan saja," protesnya jengkel. Rafa duduk dengan malas di kursi tunggu yang ada di luar ruangan. "Kenapa sih kalian cepat sekali datangnya? ku kira besok pagi kalian ke sini."


"Mama kamu itu menguwatirkan menantunya, mengigat ia sudah tak punya orang tua lagi, dia bilang biasanya kalau melahirkan itu yang di ingatkan adalah ibunya itu sebabnya mama tak ingin menunda datang ke sini ia ingin Anin merasa mempunyai orang tua walaupun hanya mertuanya saja," kata Ammar pada putranya itu.


"Rafa ngerti sih Mama itu baik, tapi Rafa itu ngantuk dadd, dua hari Rafa gak tidur, coba daddy bayangin!" pinta Rafa mencoba mencari dukungan.


"Ahh, Daddy gak asik!" gerutunya jengkel.


"Kalian memang pasangan serasi, sama menjengkelkan," katanya sambil merebahkan tubuhnya di kursi tunggu dan meletakan kepalanya di pangkuan sang Ayah. "Hai kamu sudah besar, Fa," protes Ammar pada anaknya itu.


"Pinjam dulu Dad, anggap saja aku masih kecil," kata Rafa seenaknya


Tak seberapa lama sang ayah membangunkannya. "Fa, bangun, pindah di dalam gih." Rafa pun bangun. "Sudah pagi?" tanyanya pada sang ayah.


"Belum, Fa. kamu pindah di dalam dan kunci pintunya, kami mau pulang," jelas sang ayah.

__ADS_1


"Oh, ok!" jawabnya tapi membuka matanya. Azizah pun kembali memukul kepala Rafa dan seketika itu ia bangun dengan wajah kaget.


"Mama, sakit," keluhnya


"Makanya cepat bangun, masuk kedalam kami mau pulang," hardik Izah


"Iya, Mama dari tadi KDRT meluluh," jawab Rafa sambil berdiri dari duduknya dan berjalan masuk kedalam ruangan inap Anin lalu menutup pintu dan menguncinya.


Rafa menoleh pada sang istri yang tersenyum padanya.


"Tidur lagi Pi, gak apa-apa, badanku juga sudah segar," perintah Anin pada suaminya itu.


"Iya, gak apa-apa aku tidur, kamu juga tidur lagi sana! toh anak kita juga sedang tidur," perintah Rafa.


"Iya," jawab Anin sambil memejamkan matanya kembali. Rafa berjalan ke ranjang yang kosong dan merebahkan tubuhnya di sana dan tak lama kemudian terdengar dengkuran halus, dari bibir pria itu. Anin terseyum, rasanya seperti mimpi ia menjadi istrinya dari pria jutek itu yang selalu berkata pedas di kampus saat bertemu dengannya dan pamer kemesraan dengan kekasi modelnya itu. Rasa baru kemarin pria yang menyandang kata suami itu menatapnya dengan kebencian tapi juga memberikan perhatian yang luar biasa. Anin mengulum senyum di bibirnya lalu ia pejamkan kembali matanya dan ikut telelap karena tubuhnya memang masih lemas.


...----------------...


Di Boston jam 07.00 pagi mereka sudah berkumpul di ruang tengah sedang duduk di atas hamparan karpet menikmati sarapan paginya. Vino dan Rena sudah begitu rapi serta koper mereka sudah di masukan dalam bagasi hari ini mereka akan pulang ke Indonesia, sebenarnya Rika tak tega membiarkan mereka pulang sendiri tapi apa boleh buat mereka memang harus belajar mandiri.


Mereka sudah menyelesaikan sarapan paginya, lalu berpamita kepada kakek-nenek dan ayah-bunda begitu pula Bara yang mengantarkan mereka ke bandara, mereka pun keluar dari apartemen dan masuk kedalam lift yang mengantarkan mereka ke lantai Dasar lalu mereka berjalan menuju mobil yang sudah siap. Mereka pun masuk kedalam dan kendaraan yang membawa mereka itu pun berjalan dengan kecepatan sedang meninggalkan apartemen menuju bandara. Satu jam lamanya perjalanan ke bandara yang mereka tempuh mobil itu pun berhenti di terminal keberangkatan, mereka pun keluar dan berjalan menuju pintu masuk, Bara menunggu mereka hingga melewati pemeriksaan petugas sebelum masuk dalam pesawat. Tak lama kemudian mereka pun menghilang dari barisan orang yang mengantri untuk pemeriksaan. Bara pun lega ia pun kembali menuju mobilnya dan masuk ke dalam setelah itu menjalankannya dengan kecepatan sedang meninggal bandara.

__ADS_1


__ADS_2