Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Rencana 7 bulanan


__ADS_3

"Sebenarnya kalau beli juga gak apa-apa sih Yah, karena apartemen ini dekat kampus, jadi jika tidak di gunakan bisa disewakan, membelinya tidak akan rugi dan kebetulan pemiliknya baru saja meninggalkan apartemen itu tadi pagi lalu menitipkan pesan padaku, jika ada yang butuh apartemen dia menjualnya dengan seluruh perabotan yang ada di situ," kata Bara memberikan penjelasan pada Ayahnya.


"Aduh, kalau itu Bunda gak paham yaa terserah kalian aja deh, lagi pula Bara juga masih lama tinggal di sini," sahut Rika.


"Aku juga gak ngerti, Bun urusan bisnis, kita pindah lokasi ngobrol yuk, Bun. Bang Bara sama Ayah pasti betah kalau ngobrol soal bisnis," kata Ratih sambil beranjak dari tempat duduknya dan mengajaknya balkon di mana banyak bunga-bunga yang sudah di tanamnya di sana.


waktu sampai di sana Rika merasa takjub dengan apa yang dilihatnya. "Ini semua kamu yang tanam?" tanya Rika pada menantunya.


"Iya, Bun. Aku gak bisa diam, waktu treesemester pertama aku gak merasa apa-apa bahkan aku gak tahu aku lagi hamil, Bawaannya ingin makan dan gak mau diam, apa saja deh aku kerjakan Bun," kata Ratih.


Rika terkekeh. "Bunda waktu hamil Bara juga gak mau diam bawaan ingin melakukan sesuatu tapi treesemester awal bunda masih merasakan morning sicknes, tapi kamu engak dan anakmu itu gertiin kamu, Rat. kalau kamu sendirian di sini, jauh dari keluargamu," kata Rika pada menantunya itu.


"Iya mungkin begitu, Bun," jawab Ratih.


"Trimakasih yaa, Rat kamu sudah mendampingin putraku di sini sendirian," ucap Rika.


"Bun, aku 'kan istrinya tentu aku akan mengikuti kemanapun ia berada," kata Ratih pada mertuanya.


Rika pun tersenyum. "Ayo masuk, udaranya sudah dingin!" Ratih mengangguk dan tersenyum.


Mereka pun kembali di ruangan tengah, ketika melihat istrinya itu, Angga langsung menghampiri Istrinya dan memeluk pinggangnya dengan erat. "Aku cari dari tadi, Bun. Mau ngajak Bunda tidur, tahu sendiri, 'kan kalau ayah gak akan bisa tidur kalau gak sama Bunda," selorohnya


Rika tertawa. "Sudah tua masih genit aja," keluh Rika dan tertawa.


"Gak apa-apa, Bun. Itu artinya ayah itu sayang sama Bunda," sahud Ratih terkekeh.


"Sama aku juga gak akan bisa tidur kalau gak sama istriku," kekeh Bara, dia merangkul istrinya mengajaknya untuk masuk ke kamar tidurnya, sedangkan Rena sudah terlelap dari selesai makan malam tadi.


Angga dan Rika pun langsung merebahkan tubuhnya tidak ada ritual olahraga malam, mereka lansung terlelap saling berpelukan.


...----------------...


Ke esokan harinya setelah sholat subuh Rika sudah sibuk di dapur, ia tak membolehkan Ratih untuk memasak. "Hari ini adalah hari di mana Bunda ingin memanjakan menantunya, jadi kamu duduk saja di situ dan Bunda yang akan membuatkanmu makanan.

__ADS_1


Rika mulai mengolah makanan yang ada di lemari es, membuat beberapa varian menu, setelah selesai ia pun membawanya ke meja dan di bantu oleh Ratih juga Rena tak henti-henti berceloteh menuntut untuk pergi ke area wisata. "Bun, Kak Ratih, kapan kita jalan-jalan?" tanya Rena.


"Nanti Ren kalau tujuh bulanan kak Ratih sudah di adakan," kata Rika pada Putrinya.


"Ok! Jangan bohong ya, Bun!" ucap Rena


"Mana pernah Bunda bohong," protes Rika


"Ya, deh Rena ralat nih, Bun.Jangan lupa ya, Bun!" ucapnya dengan senyum tersungging di bibirnya.


Setelah semua makanan sudah tersedia di meja, Angga dan Bara bergabung di meja makan. Rika mengambil kan sang suami, makanan begitu pula yang di lakukan Ratih.


Setelah itu para Istri mengambil untuknya sendiri dan memulai menyuapkan di mulutnya sedangkan Rena mengambil makanannya sendiri kemudian makan dengan lahap.


di kesempatan itu Rika membahas tentang rencana tujuh bulanan Ratih mengenai katering dan lain-lain.


"Sebenarnya Bunda ingin mengadakan 7 bulanan buat Ratih, tapi karena kita gak tinggal di negara kita jadi hanya bisa mengadakan doa bersama keluarga saja sementara untuk makanan kita antar ke tetangga."


"Nah masalah katering bagaimana?" tanya Rika pada anaknya.


"Ada, aku ada tempat yang makanannya Enak, Bun," sambung Bara.


"Bang, di dekat sini ada sebuah rumah yatim piatu yang di asuh oleh sepasang suami-istri mualaf, aku ingin di adakan di sana," pinta Ratih pada suaminya.


"Boleh deh, kita adakan di sana saja ya, Bun. Sesuai keinginan Ratih." ucap Bara.


"Wah itu ide yang bagus kita akan melakukan doa bersama di sana bersama anak yatim-piatu, Bunda sangat setuju, tapi kita nunggu info dari kakek jadi ke sini atau tidak, yaa." jawab Rika.


"Kapan sih Bun, kakek ke sini?" tanya Bara.


" Besok kalau gak salah dan sampai lusa 'kan? jawab Rika sekaligus memastikan waktu kedatangan mertuanya pada Putranya itu.


"Iya, Bun sekitar 20 jam lebih perjalanan, apa Kakek gak capek tuh, Bun? tanya Bara kawatir.

__ADS_1


"Semoga saja beliaunya kuat melakukan perjalanan jauh, lagi pula kakekmu itu keras kepala seperti ayahmu itu," jawab Rika sambil menggerakkan kepalanya kearah Angga.


"Kok Ayah yang kena sih, Bun," protes Angga dengan wajah datarnya.


Bara terkekeh melihat dua orang yang berdebat tapi mesra.


"Sudah Ayah pasrah saja deh, kena batunya." kata Bara sambil terkekeh.


"Hari ini acara Nara tujuh bulan, setelah itu kakekmu berangkat ke sini," kata Rika pada mereka


"Yah bilang pada kakek, kalau capek gak usah kesini juga, kasihan juga kalau capek,"jelasnya pada Ayahnya.


"Ayah mana bisa mencegah kakekmu," kilah Angga pada anaknya.


"Ya sudah kalau begitu setelah sampai.ke sini, periksa saja kesehatan kakek.


Rika pun tertawa. "Daddy itu yaa, merasa dirinya masih muda saja, seenaknya ambil keputusan pada dirinya sendiri, kami anak-anaknya kadang, kawatir pada beliaunya."


"Bar bagimana apartemen sebelah?"tanya Angga pada putranya.


"Dia sudah sepakat dengan harga yang di sepakati, Yah. dan dia nanti akan ke sini dengan membawa surat-suratnya, Yah," jelas Bara.


"Terus waktu kakekmu datang kemari apa sudah bisa ditempati itu?" tanya Angga kembali.


"Sepertinya sudah bisa di tempati, Yah," jawab Bara memastikan.


"Ya, syukurlah kalau memang begitu. jadi kita tidak harus membawa mereka di hotel dan mereka tidak perlu menginap di hotel," kata Angga


Akhirnya mereka pun telah memutuskan acara akan diadakan di tempat mereka, memberikan santunan pada anak yatim-piatu, dan memberikan sejumlah uang pada pengurusnya.


Rena yang dari tadi bermain game tidak menggubris perbincanngan orang tua mereka.


Ratih mengajak mertuanya ke balkon untuk menikmati suasana pagi dengan melihat bunga-bunga bermekaran.

__ADS_1


__ADS_2