
Nantha kembali masuk ke salam rumah untuk meletakan bingkisan buah dari Alfa di meja makan.
"Bik..Bibik.." panggil Nantha.
"Iya den? Apa ada yang ketinggalan den?" jawab bibi.
"Nggak bik..ini ada bingkisan dari temen Nada, ntar bibi sampein ke Nada ya. Saya buru-buru mau ke kantor." balas Nantha sambil meletakan bingkisan di atas meja.
"Oh iya baik den." jawab bibi.
"Makasih bik. Saya berangkat dulu." pamit Nantha.
"Iya sama-sama. Hati-hati, den." balas bibi, dibalas anggukan kepala dari Nantha.
°
°
Sesampainya di kantor, Nantha langsung membuka laptopnya untuk memeriksa beberapa laporan dan pekerjaan yang lain. Namun, ia tidak bisa konsentrasi lantaran fokusnya tidak pada pekerjaanny, melainkan istrinya. Ia memikirkan keadaan istrinya yang memang belakangan ini terlihat kurang fit.
Dering suara telpun membuyarkan lamunannya. Dilihatnya siapa yang memanggil, ternyata telpun dari rumah. Dengan segera Nantha mengangkat, tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang terjadi.
"Hallo.."
"....."
"Iya kenapa bik?"
"....."
"Nada kenapa bik, ngomong yang jelas."
"....."
Tutt
Telpun Nantha matikan sepihak, setelah ia mendengar ucapan dari bibi bahwa Nada tiba-tiba pingsan. Ia segera bergegas keluar ruangannya dan menuju parkiran dimana mobilnya berada. Ia melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Pikirannya kemana-kemana, keadaan istrinya yang dari kemarin sempat membuatnya khawatir, di tambah dengan perlakuan kasarnya membuatnya merasa sangat sangat bersalah. Benar kata Alfa, Ia seharusnya lebih memperhatikan kondisi kesehatan Nada, bukan malah menuduh Nada dengan tuduhan yang tidak terbukti Nada melakukannya, dan bisa saja itu malah membuat Nada semakin drop.
"Bodoh lo, Nant, bodoh.." ujar Nantha frustasi.
"Sayang maafin aku sayang, maafin aku. Aku nggak akan pernah maafin diri aku sendiri kalo sampe terjadi sesuatu sama kamu. Maafin aku." gumamnya terus menyalahkan dirinya.
Tidak sampai 15 menit, Nantha sudah tiba di rumahnya. Ia segera masuk rumah dan mencari keberadaan sang istri.
"Pak, dimana Nada pak?" tanya Nantha pada Pak Danu, sopir sekaligus security rumah, yang tadi ikut membantu merebahkan tubuh Nada ke sofa.
"Ada di ruang keluarga sama bibik dan Mbak Nining, den." jawab Pak Danu, membuat Nantha segera bergegas masuk ke dalam rumah.
"Sayang, bangun sayang.." ujar Nantha dengan menepuk-nepuk pipi Nada.
"Kenapa bisa kayak gini?" tanya Nantha dengan wajah cemas.
"Tadi saya lagi bersih-bersih, den. Terus saya liat non Nada megangin kepala, terus tiba-tiba pingsan." ujar Mbak Nining, pembantu yang bersih-bersih di rumah Nantha dan Nada, yang setiap sore pulang.
"Tadi pagi juga neng Nada sempet muntah-muntah, den." sahut bibik, ia tidak bisa menyembunyikan hal seperti ini pada Nantha.
"Pak, tolong bukain pintu mobil, saya mau bawa Nada ke rumah sakit." perintah Nantha pada Pak Danu.
"Siap, den." jawab Pak Danu.
"Sayang, jangan bikin aku khawatir dong.." gumam Nantha.
"Bangun sayang..." imbuhnya.
Di pertengahan jalan, Nada sadarkan diri membuat Nantha yang dari tadi memandangi wajah sang istri langsung terkejut senang.
"Sayang..! Akhirnya kamu sadar.." ujar Nantha antusias.
"Ini kita mau kemana, Nan.. sshh." rintih Nada dengan meemgangi kepalanya yang masih sedikit pusing.
"Kita mau ke rumah sakit, karna kamu tadi pingsan." jawab Nantha.
__ADS_1
"Pulang aja ya. Aku udah nggakpapa kok." ujar Nada.
"Kalo kamu nggak kenapa-napa, kamu nggak mungkin pingsan sayang. Kali ini aku harus bener-bener pastiin keadaan kamu." ujar Nantha tegas.
"Tap.."
"Udah diem." sergah Nantha memotong ucapan Nada, tanda tidak dapat diganggu gugat.
"Yaudah turunin, aku mau duduk sendiri." ujar Nada ingin turun dari pangkuan Nantha.
"Diem." sahut Nantha semakin mengeratkan dekapannya.
"Ck.." decak Nada.
"Aku kangen." ujar Nantha namun tak mendapat jawaban dari Nada.
"Sayang?" panggil Nantha.
"Mmm.." dehem Nada.
"Kok nggak di jawab?" tanya Nantha.
"Emang kamu kangen siapa?" tanya balik Nada sengaja menggoda Nantha.
"Kangen istri orang.." ujar Nantha asal, langsung mendapat cubitan panas dari sang Nada.
"Awww.. sakit yang. Sshh.." rintih Nantha kesakitan akan cubitan sang istri.
"Ya habis kamu nanya aneh-aneh. Kangen kamu lah." balas Nantha masih dengan mengusap-usap lengannya yang sedikit terasa panas.
"Ngapain kangen aku, bukannya kemaren udah nud--"
"Sssstttt... aku tau aku salah. Aku emang pantes dapet balasan yang setimpal dari apa yang aku lakuin ke kamu. Kamu boleh marah atau bahkan mau mukul-mukul aku, silahkan Nad, lakuin itu ke aku.." jelas Nantha sambil mengarahkan tangan Nada agar memukulinya.
"Enggak, Nan.. dengan kamu udah tau semuanya kalo kamu salah paham, aku udah lega banget.." balas Nada.
"Lagian aku juga nggak mau dibilang KDRT gara-gara mukulin kamu." lanjutnya sedikit menyelipkan intermezo.
"Makasih ya sayang. Aku bersyukur banget punya kamu di hidupku.." ujar Nantha dengan mengecup kening Nada.
"Kita sama-sama beruntung karna memiliki satu sama lain." balas Nada.
"By the way, dari mana kamu tau kalo aku udah tau semuanya?" tanya Nantha penasaran.
"Dari tadi." jawab Nada sekenanya.
"Hah?"
"Tadi pagi aku liat kamu lagi ngobrol sama Alfa dari balkon. Aku nggak begitu denger jelas apa ya g kamu obrolin sama Alfa, tapi yang aki liat dari gerak gerik kalian, kayaknya semua fine-fine aja.. hehehe." jelas Nada.
"Dan satu lagi, Alfa kayaknya emang udah bener-bener berubah." imbuhnya.
"Jadi kamu tadi liat aku sama Alfa dari atas?" tanya Nantha.
__ADS_1
"Hemm.."
"Kenapa kamu gak mau turun?" tanya Nantha.
"Mager.." jawab Nada santai
"Oh nyamperin suaminya mager?" ujar Nantha dengan bersiap-siap menggelitiki Nada.
"Nantha geli ih..." ujar Nada memberontak.
"Ini hukuman buat istri yg suka mager." ujar Nantha
"Nantha hehe Nan..." ujar Nada
"Huekk huekk.." seketika Nada merasa mual.
"Sayang, kamu nggakpapa?" tanya Nantha dengan raut wajah berubah khawatir.
"Aku mual Nan.." jawab Nada.
"Gara-gara aku kelitikin ya?" tanya Nantha merasa bersalah.
"Nggak tau." balas Nada.
"Maaf sayang.." ujar Nantha mendekapa kembali istrinya dan mengusap-usap lengannya.
Setibanya di rumah sakit, Nantha segera keluar dari mobil dengan menggendong Nada. Sedangkan Nada yang sedari tadi memberontak minta diturunkan karna malu, sama sekali tidak digubris oleh Nantha, justru Nantha mengancam akan menciumnya di depan umum. Seketika hal tersebut membuat Nada diam dengan menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami.
"Permisi.." ujar Nantha.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis rumah sakit.
"Istri saya mau priksa." ujar Nantha.
"Baik. Kalau boleh tahu, apa saja yang di keluhkan?" tanya resepsionis.
"Dari kemarin mual muntah dan tadi tiba-tiba pingsan." jawab Nantha.
"Baik, saya isi data pasien dulu ya." ujar resepsionis.
"Silahkan."
Seetelah mengurus pendaftaran, kini keduanya menunggu giliran untuk di panggil. Berdasarkan keluhan dari Nada, mereka di arahkan ke ruangan dokter umum untuk mendiagnosa terlebih dulu.
Tiba saatnya nama Nada dipanggil, keduanya segera masuk. Setelah mengutarakan keluhannya, dokter pun segera memeriksa Nada. Nantha yang sedari tadi di samping Nada dengan menggenggam tangan Nada terlihat dengan jelas bahwa ia khawatir dengan keadaan istrinya. Sedangkan Nada, ia cukup tenang, karna sedikit banyak ia sudah tahu apa yang terjadi padanya beberapa hari ini berdasarkan keluhan yang ia alami.
"Tidak ada hal yang serius. Istri anda sehat-sehat saja." ujar dokter yang diketahui namanya Claudi dadi nametag yang tersemat di jas putihnya.
"Sehat-sehat saja bagaimana, dok? Kalo istri saya sehat, kenapa bisa pingsan?" tanya Nantha tidak yakin dengan ucapan dokter Claudi.
"Itu wajar, oleh karna itu istri anda tidak boleh kelelahan. Awal-awal kehamilan memang masih rentan. Untuk itu, tolong untuk lebih memperhatikan tingkah pola dan apa yang istri konsumsi." jelas dokter Claudi.
"Ke-kehamilan?" tanya Nantha memastikan ia tidak salah dengar.
"Loh? Anda belum tahu kalau istri anda hamil?" tanya dokter Claudi.
"Belum dok. Bahkan istri saya juga belum tau."
"Sa-sayang, kamu ud--"
"Baru tau tadi pagi." Nada memotong ucapan Nantha.
"Ja-jadi beneran kamu hamil?" tanya Nantha dengan mata berkaca-kaca. Dibalas anggukan dari Nada yang juga meneteskan air matanya.
"Makasih sayang..cup cup cup cup.." Nantha menciumi wajah istrinya secara menyeluruh.
"Nan..." ujar Nada risih di perhatikan dokter Claudi.
"Eh.." Nantha yang lupa akan tempat dan keberadaan dokter Claudi merasa kikuk, namun ia tetap cuek seperti tidak terjadi apa-apa.
"Maaf dok.." ujar Nada canggung.
"Saya bisa memaklumi. Oh iya, untuk lebih jelasnya lebih baik di priksakan di dokter spesialis kandungan ya." jelas dokter Claudi.
"Oh Baik. Terima kasih, dok. Kami permisi." ujar Nantha pamit.
__ADS_1
"Terima kasih ya, dok. Mari, dok." sambung Nada.
"Sama-sama. Silahkan." balas dokter Claudi.