
Diki mengajak Frans untuk sarapan ia mengambil dua kotak makanan yang satu di berikan Frans dan yang satunya lagi untuk dirinya. "Om, sarapan dulu, nanti kalau Om sudah sama tante lagi lupa sarapan, pintunya aja lupa nutup."
Frans tertawa mengambil nasi kotak. "Kamu sama reseknya dengan istrimu itu." Diki tertawa. "Tidak 'lah, Om. Aku kan lagi mengingatkan Om saja, iya 'kan Ra?" Nara mengangguk dengan mantapnya. Membuat mereka tertawa, lagi-lagi Aila meringis menahan sakit di perutnya.
"Tante sudah buang angin belum?" tanya Diki pada Aila.
Tiba-tiba Nara berdiri sambil memencet hidung dan menjawab, "Sudah, Bang. Aduh Tante bau!" Nara beranjak pergi menuju sofa tempat Frans dan Diki duduk. Semua tertawa sambil menekan hidungnya menghindari bau menyengat, untung saja pintunya terbuka jadi buahnya segera hilang.
"Sudah boleh minum air 'kan, Bang?"
"Iya, sudah," jawab Diki sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut Nara, Nara pun menerima suapan Diki, tangannya mencari sesuatu dalam kantong plastik, setelah menemukan di keluarkan dari kantong plastik satu kotak bubur kacang hijau yang di beli khusus untuk tantenya, Aila.
Ketukan pintu mengagetkan mereka, dan menoleh kearah pintu. Nampak Dokter Danu masuk dan melihat Dokter Diki, ia menghampiri Dokter Diki. "Sudah lama?" tanyanya sambil duduk di sebelah temannya itu. "Masih ada?" tanyanya pada Dokter Diki. Dokter Diki menoleh dan mengambil satu di kantong plastik di serahkan pada Dokter Danu. "Makan saja, istriku biar ku pesankan lagi, dia gak bisa makan banyak makanya kita makan berdua," katanya sambil terkekeh. Dokter Danu menatap Dokter Diki yang lagi menyuapi Nara. "Lo ceritanya mau pamer, kalau punyak bini itu enak, begitu?" Dokter Diki tertawa. "Enggak, Kamu sendiri' kan, Dan yang lihat, makanya nikah." Dokter Danu tak menggubrisnya ia terus menyuap makanan dengan lahap.
"Loh gak makan dua hari sampai segitunya?" tanya Dokter Diki.
__ADS_1
"Rara demam Dik, jadi gak nafsu makan aku dari kemarin sore, tadi pagi demam baru turun."
"Siapa Rara, Pak? Istri, Bapak?" tanya Frans.
"Anaknya, Om? Dokter Danu belum nikah dia, Om." jelas Nara.
"Wah, Pak Danu kenapa belum nikah sudah punya anak? Jangan Bapak gak mau tanggungjawab lalu anaknya di kasihkan Bapak ya?" tebak Frans.
"Lo lama-lama gue sleding yaa!" kata Danu mulai kesal dengan Frans. Nara menupuk keningnya. "Om, Dokter Danu itu mengadopsi anak yang ibunya meninggal kembar laki dan perempuan yang perempuan di sama Dokter Danu yang laki-laki dibawa Dokter Anita."
"Kamu lagi bikin film, Frans?" tanya Dokter Danu dengan muka sebal.
Mereka tertawa melihat raut mukanya Dokter Danu. "Lo kalau mikir jangan kejauhan Frans, kalau takutnya begitu kan tinggal kirim foto dari kecil hingga dewasa, juga dididik dengan agama yang baik agar di jalan benar." jelas Dokter Danu.
Frans tertawa," Kalau cinta mana mikir begitu, Pak. Bapak saja hampir menuju jalan yang salah." debat Frans pada Dosennya itu.
__ADS_1
"Frans, loh mau ngulang satu semester?" tanya Danu semakin jengkel.
"Tidak, Pak. Maaf." kata Frans pada Dokter. Diki dan Nara tertawa. "Ra, kamu disini apa ikut Abang ke ruangan Abang?" tanya Diki pada istrinya.
"Aku ikut Abang saja," katanya sambil bergelayut manja. "Sudah sana kerja bikin mata sepet saja, aku juga mau lihat pasien yang lain." kata dokter Danu yang beranjak dari duduknya. "Sudah sana kalian pergi bikin perutku sakit saja," keluh Ai yang dari tadi menahan tawa. "Ai, kamu jangan banyak ketawa kalau gak ingin di jahit lagi, gak boleh kena goncangan yaa, Frans jaga istrimu kalau lo gak bisa jaga dia gue yang bakal ganti lo jaga Ai." kata Dokter sambil berjalan keluar ruangan. Frans mendengus," Dasar yaa Pak Dosen sukanya ngancam melulu."
Tak lama kemudian datang Raka dan Rima, Frans mencium punggung tangan Raka dan Rima. Raka menghampiri Aila yang terbaring di ranjang memeluknya. "Bagaimana kabarmu sayang? Daddy senang kau sudah sadar." Raka beralih berjalan ke sofa dan duduk di sana memberikan kesempatan pada Rima untuk dekat dengan putrinya. Dia memeluk Aila mencium kening putrinya itu. Rima menghapus air matanya karena terharu, putri kecilnya itu sekarang menjadi seorang ibu. "Mommy menangis?" tanya Aila. Rima menggeleng. "Ai, seperti baru kemarin mommy menggendongmu, kamu masih sekecil ini dan sekarang kau sudah punya putra." Rima menoleh pada suaminya. "Kita benar-benar sudah tua Dadd." Raka tersenyum dan mengangguk. "Kita belum bisa lihat anak kamu kalian ya," tanya Raka tiba-tiba. "Bisa Dadd. Mari kita keruang bayi," ajak Frans pada Daddynya.
"Frans tolong kamu video yaa, aku ingin tahu anak kita." Frans mengangguk lalu meninggalkan ruangan rawat inap Aila menuju ruangan bayi bersama Daddynya. Sesampainya di sana ia meminta ijin untuk menengok anaknya pada petugas dan mengijinkan mereka masuk. Raka masuk kedalam melihat cucunya yang masih di dalam inkubator. Di susul oleh Frans yang memulai memvideokan putranya. "Sangat tampan perpaduhan dari kalian berdua." Raka tak berkedip melihat cucunya.
"Frans terimakasih telah memberi kesempatan pada Ai, untuk mendapatkan anak, merasakan hamil dan berkesempatan menjadi ibu."
"Dadd, jangan katakan itu aku juga sangat mencintainya, aku tidak menyesal Daddy memaksaku Menikahi Aila, ku anggap itu adalah paksaan yang terindah dalam hidupku." Raka menghapus air mata di sudut matanya.
Setelah mereka puas, mereka pun keluar dari dalam ruangan. Mereka berjalan di koridor rumah sakit. "Frans di usia lanjut Daddy yang lanjut ini diberikan kesempatan untuk melihat anak kalian merupakan anugrah terindah bagiku, aku senang kalian mempertahankan rumah tangga yang kurasa sulit bagimu tapi kamu telah melewati masa- masa sulit dengan mudahnya.Ini cuma awalnya saja selanjutnya kau akan diuji kembali pesan Daddy gengam erat tangan Aila apa pun yang akan terjadi, keterbukaan adalah kunci kalian untuk tetap kuat menghadapi ujian cinta yang sesungguhnya." kata Raka menasehati Frans. Iya, Dad akan ku ingat nasehatmu itu." Mereka pun masuk ke kamar perawatan Aila, di berikan handphone-nya pada Aila. ia pun melihat rekaman itu, masyaallah tampannya anak bunda ingin sekali kali memeluknya segera. Seorang perawat masuk dan membawa alat memompa Asi. Raka dan Frans keluar agar perawat leluasa mengambil Asi untuk bayi Aila.
__ADS_1
"