
Tak seberapa lama, kemudian ia pun sampai di rumahnya ia turun dari mobil yang telah terparkir di garasi rumahnya. Begitu pula Vino anak lelakinya yang sekarang telah duduk di bangku SMU.
"Yah, Vino langsung tidur, yaa," ijinnya pada Haidar.
Haidar mengangguk dan menutup pintu garasinya. Sebelum masuk ke rumah suara Vino terdengar lagi. "Ayah juga harus tidur," pesannya pada Ayah lalu melangkah pergi menuju kamarnya.
Terdengar seretan langkahnya menuju menjauh. Haidar pun melangkah masuk ke dalam kamar sendiri di rebahkan tubuhnya di atas ranjang. Rasanya tak sabar untuk bertemu putrinya itu.
Di raihnya foto yang yang terpasang pigora kecil di atas meja.
Di pandangi foto Rindu yang terseyum. "Rindu, kita akan punya cucu, putri kita akan punya anak, Rin," gumamnya lirih pada dirinya sendiri.
suara ayam jago terdengar sayup-sayup tak lama kemudian terdengar suara adzan berkumandang, Haidar sudah mengenakan baju koko dan sarung, untuk pergi ke masjid melaksanakan sholat subuh berjamaah bersama putranya.
Beberapa saat kemudian Haidar membuat masakan sederhana untuk sarapan pagi, setelah itu mereka menyiapkan koper di bawah keluar rumah, Raka akan menjemput mereka dan berangkat ke Bandara bersama-sama.
Setelah beberapa menit kemudian mobil Raka datang mereka pun masuk lalu berjalan kembali meninggalkan rumah Haidar menuju Bandara, sesampainya di Bandara mereka melewati pemeriksaan lalu masuk kedalam pesawat kemudian mereka duduk di tempatnya masing-masing. Tak lama kemudian, pesawat lepas landas.
Selama 20 jam perjalanan akhirnya mereka pun sampai di bandar udara internasional Logan Boston.
__ADS_1
Bara yang mendapat kabar bahwa Kakek-Nenek dan mertuanya segera berangkat dan memacu mobilnya dengan kecepatan sedang menuju bandara logan.
Sesampainya di sana Bara melangkah menghampiri mereka mengajaknya masuk ke dalam mobilnya lalu berjalan dengan kecepatan sedang menuju apartemennya setelah sampai mereka menempati apartemen sebelah yang baru di beli Angga kemarin, mereka tiba sore hari pukul 16.00.
Mereka menempati ruang tengah yang kosong dan hanya beralaskan karpet dengan sudah tersedia berbagai macam makanan ringan maupun berat.
Mereka duduk selonjoran sambil menikmati makanan ringan yang ada di sana. Vino yang perutnya sudah minta diisi pun ijin untuk makan terlebih dahulu yang kemudian di ikuti oleh Raka sambil berkelakar, "Ayo makan! Kita santai aja boleh ringan atau berat tergantung perut Anda, hehehehe!"
Haidar tertawa ia pun mulai mengambil nasi dan lauk ke dalam piringnya dan mulai menyuapkan ke mulutnya.
Setelah itu mereka masuk kedalam kamar masing-masing untuk menyegarkan tubuh mereka sehabis perjalanan jauh.
Haidar sudah terlihat segar dengan balutan kaos lengan pendek dan celana sebatas lutut membuatnya jauh lebih muda dari usianya, ia berjalan menuju apartemen sebelah untuk menemui sang putri yang begitu ia rindukan.
Haidar mengurai pelukan putrinya lalu mengajaknya duduk di sofa, ia menghapus air mata putrinya dan membelai perut buncitnya sembari berkata, "Hai cucu kakek, sehatlah terus yaa nak di perut bundamu sampai waktunya tiba. Mereka pun saling bercanda dan bergurau, mengukir kenangan yang indah hingga Vino datang dan duduk di samping kakaknya lalu memeluknya. "Kak, Aku kangen, ini cowok apa cewek?" tanya pada kakaknya. Ratih tertawa. "Aku gak mau lihat jenis kelaminnya, Dek. Maunya jadi kejutan saja kalau. sudah lahir akan lebih indah."
Adzan magrib pun tiba mereka melakukan sholat jamaah di ruang tengah apartemen sebelah hingga waktu sholat isya'. Setelah itu, mereka berbincang-bincang akrab sambil makan makanan ringan sambil membahas acara besok pagi, Rika mengambil alat-alat kedokterannya yang selalu ia bawa kemana ia berjalan dan duduk di dekat Raka, mertuanya itu. "Daddy sok muda deh, masih memaksa untuk ikut ke sini," protes pada lelaki tua yang masih gagah itu sambil memeriksa kesehatannya setelah itu beralih ke Rima.
Raka terkekeh. Ini adalah hari spesial buat aku tak mungkin aku lewatkan begitu saja, di pesawat aku juga tidak lari-lari duduk di bangku penumpang."
__ADS_1
Rika tertawa. "Ya, iyalah Dad." Menggelengkan kepalanya mendengar kelakar orang tua itu. "Daddy selera humornya tinggi," kata Angga sambil merangkul bahu sang ayah.
"Harus itu, kalau tidak demikian Daddymu ini gak akan terlihat tampan," candanya lagi. "Ok! Daddy memang tampan buktinya nih anak-anaknya ganteng-ganteng, kalau gak ganteng ni mana mau Rika sama aku Dad," katanya pada istrinya dan Rika tertawa " Selain itu ada lagi yang membuatku tertarik padamu yaitu uangmu," kekeh Rika sambil merangkul suaminya itu.
"Aduh, Daddy pesonaku kalah dengan isi kantongku," kata Angga terkekeh yang membuat semua tertawa.
Mereka berbincang-bincang hingga pukul 21.00, Raka sudah mengantuk terlihat menguap beberapa kali hingga dia dan istrinya masuk ke dalam kamar yang di sediakan, begitu pula yang lain pak Haidar dan vino di kamar sendiri-sendiri, beberapa kali bercanda setelah dirasa ngantuk mereka pun pergi keruangan masing-masing.
Rena kembali ke apartemen Bara dan masuk ke kamarnya.
Malam semakin pekat, menghantarkan ketenangan, bagi orang yang sedang lelah dan terlelap ditidurnya hingga berganti pagi disambut suara adzan subuh dan tak seberapa lama, kemudian burung-burung berkicauan, menjadikan suasana meriah di antara kesibukan masing-masing orang.
kegiatan di lakukan seperti biasa melaksanakan sholat subuh, sarapan dan yang lainnya setelah itu mereka mulai menyiapkan apapun yang perlu di persiapkan untuk acara tujuh bulanan.
Setelah semua siap, mereka pun berangkat bersama, Bara menyewa mobil untuk akomodasi mereka pergi kemana-mana.
Setelah semua siap merekapun berangkat ke rumah yatim piatu yang dekat dengan apartemen mereka, mobil berjalan dengan kecepatan sedang tak seberapa lama kemudian mereka pun sampai disebuah sederhana dengan halaman yang sangat luas, ada beberapa anak kecil bermain di sana.
Mereka pun keluar menemui pengurus yang ada dan terlihat sepasang suami-istri keluar untuk menyambut mereka.
__ADS_1
Tuan Abraham dan istrinya pun menjelaskan bahwa jika pagi anak usia 6 hingga 15 tahun sedang bersekolah, sementara di panti itu hanya bisa menampung sekitar 40 anak yatim-piatu dan lima anak balita usia dua hingga lima tahun. Mereka mengatakan jika ingin mengadakan acara sebaiknya sore hari atau malam karena semua berkumpul. Setelah berbincang-bincang sejenak mereka memutuskan untuk mengadakan acara jam 19.00 setelah sholat isya'. Rena dan Vino tengah asik bermain dengan anak-anak panti yang masih balita.
Raka menyerahkan sejumlah uang kepada pasangan mualaf itu untuk keperluan panti, kemudian mereka berpamitan pulang dan kembali lagi nanti malam