Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Bayhas Ahil Dintara


__ADS_3

Pagi yang cerah suara kicau burung bersautan memberikan suasana ceria di pagi yang indah.


Aila telah memompa Asi untuk buah hatinya, ia sangat bersyukur air susunya mengalir deras hingga dia dapat menampung hingga tiga botol untuk dibawa dan ditaruh di lemari pendingin.


Frans keluar membawa botol-botol berisi Asi untuk di simpan di lemari pendingin, setelah itu ia pergi mencari sarapan untuk dirinya dan Aila, ia melajukan mobilnya dan berhenti di warung nasi pecel yang terlihat rameh entah kenapa ia memilih membeli nasi pecel, hanya ingin saja sudah lama tak menikmati nasi pecel komplit dengan Rempeyek udangnya. ia menenteng kantong plastik yang berisikan dua buah nasi pecel dan dua plastik rempeyek ukuran besar masuk kedalam mobilnya, kemudian menjalankan dengan kecepatan sedang kembali kerumah sakit. Ia pun memakirkan mobilnya di area parkir lalu keluar dan berjalan melewati lobby serta lorong-lorong rumah sakit hingga tiba keruang perawatan Aila.


Ia pun masuk dan terkejut di sana ada Dokter Danu yang sedang bercakap-cakap dengan Aila, Frans masuk dengan mengucapkan salam, dan dibalas oleh mereka berdua. Dokter Danu pun menoleh lalu tersenyum. "Darimana?" Frans tidak menjawab hanya mengangkat ke atas barang bawaannya menunjukkan apa yang telah dibelinya. Setelah itu, ia meletakan kantong plastik di atas meja. "Kenapa cuma beli dua?" tanyanya pada Frans.


"Ya, karena kita cuma berdua, Pak. Anda mau? kalau mau saya punya nomer telponnya, saya pesankan biar nanti di kirim kesini." Dokter Danu tersenyum.


"Boleh deh, suruh antar ke ruanganku yaa." Frans hanya mengacungkan ibu jarinya tanda bahwa ia setuju. Kemudian Dokter Danu keluar dari ruangan itu sedangkan Frans mulai mengambil gawainya lalu mengetik sesuatu kemudian diletakkan di atas meja habis itu ia kembali melanjutkan aktivitasnya. Aila berjalan menghampiri Frans yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua, lalu ia duduk di samping Frans. Ia menoleh dan tersenyum. "Frans apa kau cemburu?" tanya Aila.


"Sama siapa? Dokter Danu?" tanya Frans sambil meletakkan piring rotan yang berisi nasi pecel yang telah dibuka dan diletakkan di meja depan Aila duduk. Aila mengangguk.


"Sedikit, tapi dia 'kan dokter yang menangani operasimu, jadi wajar kalau dia datang di sini untuk melihat kondisimu," jawab Frans sambil menyuapkan makanan ke mulutnya, begitu juga Aila. " Tadi aku sempat takut kamu akan salah paham Frans."


Frans tersenyum. "Bukankah hari ini beliaunya baru pulang, gak bawa apa-apa, dia?" tanya Frans mengalihkan pembicaraan yang mulai sedikit berat.


"Tidak dia malah cerita tentang anaknya yang mulai sedikit bisa merangkak." Frans tertawa. "Frans apa kau sudah menyiapkan nama untuk bayi kita?" Aila menatap suaminya itu yang tengah makan dengan lahap. "Sudah baru kemarin aku menemukan nama yang bagus, Ai. Maaf yaa Ai aku gak siapkan nama sebelumya." Aila mengangguk


"Ngak pa-pa, siapa namanya?"


"Namanya adalah Bayhas Ahil, terserah belakang mau kasih apa,Ai? Karena di keluargaku gak ada nama marga yang disematkan di belakang nama anak.

__ADS_1


"Yah sudah, kasih nama Dintara saja di belakang namanya biar daddy senang," kata Aila bersemangat.


"Terserah Mami aja deh, kalau Papi asal mami senang aja ." Aila tertawa.


"Iya, kemarin kita katanya mau merubah panggilan, tapi kita selalu lupa saja. Jadi namanya Bayhas Ahil Dintara, yaa."


Dering telepon berbunyi saat mereka telah selesai sarapan, terpampang di layar monitor handponenya nama Ratih, Aila pun menerima panggilan video.


"Assalammualaikum, Tante." terlihat oleh mereka wajah Ratih dan Bara di layar dengan senyum manis mereka.


"Wa'alaikumsalam, Rat, Bar. apa kabarnya?" tanya Aila dengan hati gembira. "Aku baik , Kabar Tante bagaimana? Lalu Si kecil bagaimana juga? terus mana dia kami ingin lihat."


Aila dan Frans tertawa. "Tanyanya satu-satu lalu yang mana nih yang harus di jawab?"


"Semuanya Om," jawab mereka serentak. Frans terkekeh,"Berasa seperti tua yaa, Ai kita." Aila tertawa. "Yaitu yang kurasakan dulu, kalau mereka bertiga itu panggil, Tante. Aku dan bayiku baik, saat kalian tidak melihat karena masih di inkubator. Jadi kalian harus sambar menunggu."


"Sama dong dengan Nara, ia sudah enam bulan juga."


"Iyakah, kami belum berbincang-bincang lagi dengan dia, Tan."


"Iya, tuh anak bikin heboh kalau datang di sini," kata Aila pada mereka.


"Si kecil sudah punya nama apa belum, Tante?" tanya Bara sambil memeluk istrinya.

__ADS_1


"Sudah baru didapat Om mu tuh," jawab Aila sambil menggerakkan kepalanya menunjuk pada Frans.


"Siapa, Om?" tanya Bara pada Frans.


"Bayhas Ahil Dintara," jawab frans


"Bagus sekali Om, itu artinya, 'kan pemimpin atau raja yang gagah dan berani. Aduh, jadi gak sabar untuk lihat adik tercinta, kirim Fotonya atau vidio dong, Tan, Om."


"Iya, nanti deh Om kirim foto dan videonya. Sudah tahu jenis kelaminnya, belum?" tanya Frans pada mereka berdua.


"Belum, kami ingin kejutan saja Om, gak ingin tahu jenis kelamin apa, Ratih inginnya, begitu," kata Bara sambil terkekeh. "Lah, kamu maunya apa?" tanya Frans sambil tertawa.


"Aku inginnya tahu sih, Om. Ya kembali lagi apa kata nyonya," kata Bara melirik Ratih.


"Iya mungkin Ratih tidak ingin mendahului takdir, itu sebabnya ia tidak mau melihat jenis kelamin anaknya," kata Aila pada Bara.


"Betul itu, Tante. Aku tahu dan mendukung istriku, Ya sudah Tan, nanti kalau sudah pulang hubungi kami, jangan lupa, Om! kirimi kami foto dan Video, Assalamualaikum.


Wa'alaikumsalam. Mereka pun menutup panggilan videonya, Frans menatap Aila yang masih fokus pada layar handphone-nya mencari video putranya, setelah ketemu ia kirimkan kepada, Bara dan Ratih, merasa ada yang memperhatikan Aila menoleh pada Frans. "Apa?" Pria itu tersenyum.


"Sekarang kita mau kemana? di ruangan ini saja ataukah kita jenguk Yhas ataukah berjalan-jalan di taman?" tanya Frans pada Aila.


"Kedua-duanya, kita kunjungi Yhas dulu baru nanti kita ke taman," ujarnya.

__ADS_1


"Baik, Ratu. Sekarang duduklah di kursi roda ini biar aku membawa kemanapun yang kamu inginkan." kelakar Frans


Aila duduk di kursi roda lalu Frans mendorong keluar ruangan menuju ruangan bayi, di sana mereka menatap haru pada putranya yang sudah banyak perkembangan, Frans memotret sang putra dan merekamnya dengan kamera ponsel Aila kemudian ia mengirimkan kepada Bara dan Ratih.


__ADS_2