Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Curhatan si kecil.


__ADS_3

Bel pulang telah berbunyi, semua murid berhamburan keluar menghampiri orang tua mereka masing-masing.


Bay dengan langkah lesuhnya menghampiri mobil maminya lalu membuka pintu dan duduk di sebelah Aila


"pakai sabuk pengamannya Bay!" perintah Aila pada putranya itu.


Setelah itu Aila pun melajukan mobilnya sambil sesekali melirik putranya itu.


"Kenapa kok lesu begitu?" tanya Aila pada putranya itu


"Ini semua itu gara-gara Ehan sama Al bikin kesel saja masa setiap hari bertengkar ujung-ujungnya kita dihukum dan aku yang paling duluan hukum padahal Bay kan lagi mereka. Eeh, malah Bay yang dihukum duluan kan nggak adil itu namanya," kata Bay dengan mengerucutkan bibirnya.


"Lah kan kamukan Om mereka emang kalau mereka bertengkar kamu yang harus melerai nah kalau memang dapat hukuman yaitu resikonya karena kan pertengkarannya di sekolah," kata Aila


"Oh jadi maksud mami kalau bertengkar itu jangan di sekolah ya kan lebih baik di jalan kalau di jalan nggak ada yang hukum, begitu mam?" tanya Bay


"Ya nggak begitu juga Bay, kalau di jalan polisi, kalau di rumah yang hukum ya mami," kata Aila terkekeh.


"Emang apa sih yang kalian pertengkarkan?" tanya Aila pada putranya.


"Itu rebutan cewek mam," jawab Bay santai membuat Aila terkejut yang mengerem mendadak mobilnya.


"Apa? Mami gak salah dengarkan?" tanya Aila pada Bay lalu menjalankan kembali mobilnya.


"Kalian itu jangan aneh-aneh loh ya, kalian ini masih kecil masak rebutan cewek kata Aila pada anaknya.


Bay terkekeh melihat ibunya panik."Mami kenapa kan bukan Bay? Yang begitu tuh Ehan sama Al makanya itu aku marah sama mereka, ehh, malah di hukum sama bu gurunya, kan Bay jadi kesel kalau begitu besok-besok Bay biarin saja sudah nggak mau aku melerai, biar situ Babak belur juga masalah kan bukan Bay," kata putranya itu.


Sementara di mobilnya Alvan mulai bercerita kepada maminya. " Mam, kak Ehan nyebelin tahu masa waktunya kan belum habis buat Al, eeh. main rebut saja," kata Al sama Nara.


Emang yang kalian rebutkan itu apa sih?" tanya Nara pada putranya itu.

__ADS_1


"Cewek, Mam, cewek!" kata Al, membuat Nara terkejut dan mengerem mobilnya dengan mendadak dan melihat sang putra.


Al terhuyung kedepan hampir terbentur kaca depan mobil. "Hati-hati dong Ma, kepala Al mau kepentok jendela, kalau Daddy tahu, cara mama nyetir mobil kayak begini, bakal marahin mama habis-habisan besoknya sopir datang mama duduk tenang di kursi tengah Daddy gak akan ijini Mama nyetir mobil sendiri," kata putranya panjang lebar.


"Ck, itu kan karena Mama kaget Al, bukan karena Mama gak bisa setir mobil," kata Nara pada putranya.


"Kalian itu masih kecil jangan aneh-aneh yaa," kata Nara sambil mengemudikan lagi mobilnya


"Itu tuh bukan ide aku tapi itu idenya Aska jadi harusnya yang dihukum kan Aska bukan kita," kata Al


"Emang Aska punya punya ide apaan sampai kalian bertengkar?" tanya Nara


Aska punya ide buat ngerjain si cewek itu karena sudah bikin aku dan Ehan itu bertengkar, yang pertama kali dapat giliran itu om Bay, Aska, Aku dan terakhir Ehan. Nah aku itu kan masih ada dua hari, Ehan merebut saja, bilang ini giliranku padahal giliran dia kan masih hari Senin besok nah terus kami bertengkar, Om Bay melerai, ehh, malah kita di hukum, yang kena malah Om Bay dulu, apa gak marah dia mam?" kata Al.


"Al ngerjain orang tuh nggak boleh kalau kamu dikerjain Bagaimana coba kan sebel tuh," kata Nara.


"Kan bukan Al mam, itu yang punya ide adalah Aska, nah katanya kalau gak ikut, Al gak punya setia persodaraan," kata Alvan.


"Ya, kalau yang dibilangi cuma Al kan percuma saja Mam, Wong Al sebenarnya gak mau ngikut, tapi karena Al suka Lea jadi Al ikut juga," kata Al lagi yang membuat Nara kembali shock dan mengerem mobilnya tiba-tiba. Kembali Al terhuyung ke depan.


"Mam!" teriak Al dan Nara hanya terkekeh.


"Habis kamu bikin Mama jantungan saja," kata Nara mengemudikan mobilnya lagi.


"Nanti biar Al bilangin Daddy kalau mama sudah gak bisa nyetir mobil lagi biar gak dikasih ijin lagi sama Daddy," kata Al sambil matanya menyorot ke Mama.


"Ehh, kamu yang ngomongnya bikin shock Mami, malah sekarang Momi yang di salahkan gimana sih, Al," kata Nara Jengkel.


Al terkekeh, lalu mengecup pipi Mamanya. "Jangan shock, Ma. Ini yang cium Al bukan Daddy," kata Al sambil tertawa.


"Ehh, godain Mama lagi," kata Nara gemas.

__ADS_1


Karakter Al yang paduan dia dengan Diki membuatnya gemas, putra kecilnya itu pembawaannya kalem, lembut tapi sekaligus absur, membuatnya tak bisa marah berlama-lamaan.


"Kita mau kemana, Ma?" tanya Al ketika jalan yang dilaluinya bukan jalan menuju rumahnya.


"Di ajak makan siang di luar sama Daddy sudah di tunggu di restoran," kata Nara pada putranya itu.


Tak lama kemudian mereka sampai di restoran tersebut, Nara dan Alvan turun lalu berjalan masuk ke restoran Korean food.


Nara dan putra berjalan menuju meja yang telah direservasi oleh suaminya, Alvan yang melihat sang Daddy sudah duduk di kursi yang di pesannya berlari menghampiri sang Daddy meninggalkan mamanya.


Diki berdiri dari duduknya dan menyambut sang putra dengan senyuman hangat menangkapnya dan menggendongnya lalu mendudukkannya di sebelahnya.


"Bagaimana dengan sekolah mu, Boy," tanya Diki pada pada putranya itu. Namun, justru sang istri yang menjawab pertanyaannya.


"Parah, Dad," jawab wanita cantik yang sedang menggeser kursi ke belakang lalu duduk di sebelahnya dengan raut muka yang sedikit cemberut itu.


"Diki tertawa dikecupnya pipi sang istri sambil bertanya, "Para bagaimana, sayang."


Sang anak memutar bola matanya keatas jengah melihat kemesraan orang tuanya.


"Tanya tuh putramu, yang sudah bikin Mamanya pusing, masih kecil sudah berebut cewek sama Ehan," keluh Nara.


Diki tertawa dan menatap sang putra, "Oh, yaa, siapa yang menang Boy?"


"Kok ditanya siapa yang menang sih, Dad! Nasehatin dong putramu itu!" protes Nara.


"Ok, sayang! pesan makanan dulu yaa, marah butuh tenaga, nasehatin juga butuh trik agar putramu itu enjoy mendengarkan nasehat Daddy-nya ini seperti mendengarkan lagu kesukaannya," kata Diki lembut.


"Baiklah, mana buku menunya?" tanya Nara.


"Itu, di depan kamu, sayang," kata Diki sambil tertawa.

__ADS_1


__ADS_2