Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Aila Hamil


__ADS_3

Keesokan harinya sebelum sholat subuh Aila mencoba mengetes dengan testpack. Aila membawa kantong plastik berisi testpack ke kamar mandi, sengaja menunggu Frans pergi ke masjid bersama Deddy Raka, supaya terasa lebih leluasa saja, Aila menampung urinenya di wadah kecil lalu dicelupkan 3 testpack menunggu 5 detik lalu di ambilnya ditaruhnya di meja dekat wastafel.


Sambil menunggu, ia memutuskan untuk sholat terlebih dahulu. Dia pun mengambil air wudhu lalu keluar dari kamar mandi dan menunaikan ibadah sholat subuh, disaat Aila masih khusuk dengan ibadahnya, Frans masuk ke kamar lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, begitu melihat 3 testpack dari merek yang berbeda tergeletak di atas meja begitu saja membuatnya jadi penasaran diambil dan dilihatnya menunjukkan 2 garis merah. Dia pun terkejut mata terbelalak lebar lalu tersenyum, kemudian melangkahkan kakinya keluar kamar mandi.


Melihat istrinya selesai salam ia langsung memeluk sang istri yang masih mengenakan mukenanya itu. "Trimakasih ya sayang, Ya Allah terimakasih telah memberikan unugra terindah dari pernikahan kami, nanti sepulang kuliah kita ke tante Raya ya," ajak Frans sambil menatap istrinya yang mulai berkaca-kaca lalu air matanya merembes keluar membasahi pipinya, Aila tersenyum mengangguk, "Kenapa menangis?" tanya Frans sambil menghapus air matanya,"Frans, bagaimana kalau setelah ini aku tidak bisa memberikan mu anak lagi?" kata Aila menundukan tajam menatap sajadahnya yang masih tergelar.


"Tidak apa-apa, kita diberi satu kita tetap bersyukur, lebih pun kita bersyukur, aku tak akan menuntut lebih Ai, jika seandainya pun tidak ada aku tetap mencintaimu," kata Frans sambil tersenyum, "Bagaimana jika Naya kembali mencari mu, apa kau akan kembali padanya, Frans?" tanya Aila pada Frans sambil menatap dengan tatapan menyelidik seolah mencari kejujuran di mata lelaki itu, "Kenapa kau tanya itu? apa kau cemburu?" tanya Frans pada Aila namun Aila tak menjawabnya, Frans menghelah nafas panjang, "Dengarkan aku, Ai sudah ku bilang kan selera ku berubah, kau yang terbaik untukku, Ai bukan dia tapi kau mengerti, Ai?" Aila mengangguk, "ya sudah lepas mukenanya kita turun ke bawah, Daddy dan Mama sudah menunggu di meja makan." kata Frans sambil membantu melepaskan mukena Aila, dilipatnya mukena Aila dan ditaruh di atas ranjang. Lalu di tariknya tangannya Aila membantunya berdiri kemudian berjalan bersama keluar kamar menuruni tangga menuju ruang makan.


Setelah sampai di ruang makan, Aila kembali merasa mual, ia berlari ke toilet mengeluarkan semua yang dimakannya tadi malam. Frans sudah berdiri di belakangnya sambil memijat tengkuk dan bahunya lalu mengusap keringat di dahinya, "Ai, apa ijin saja? Biar ku ijinkan nanti," kata Frans sambil memeluk dari dari belakang Aila menggeleng," aku ingin tetap masuk, Frans. Ini hari pertama masuk." kata Aila.


"Baiklah, kita cari makan di luar saja bagaimana menurut mu, Ai?" Aila mengangguk, tanpa bicara Frans menggendong Aila dan di dudukan di sofa ruang tamu.


Mama yang melihat Ai kembali mual, segera membuatkan minuman jahe hangat, lalu mengisih kotak makan dengan irisan buah kemudian, membawanya keruang tamu. "Frans ini berikan pada Ai," kata Mama sambil menyodorkan minuman jahe hangat dan kotak berisi irisan buah pada Frans yang langsung memberikan pada istrinya minuman itu, lalu Ai meminumnya segera membuat perut sedikit nyaman.

__ADS_1


"Trimakasih, Mam," kata Frans sambil meletakan gelas di atas meja.


"Apa kalian tetap berangkat juga?" tanya Daddy yang menyusul ke ruang tamu karena cemas dengan anaknya.


"Aila memaksa Dad, aku bisa apa? Daddy tahu sendiri bagaimana putri Daddy," jawab Frans. Raka menghelah nafas, "Baiklah, Frans jangan biarkan dia beraktivitas terlalu banyak dulu."


"Baik Dad," jawab Frans mencium kedua punggung tangan mertuanya lalu pamit setelah mengambil tas mereka berdua.


Aila mencium kedua punggung tangan orang tuanya. Raka mencium kening putri kecilnya itu yang kini sudah dewasa dan sedang mengandung itu, begitu pula sang Mama memeluk gadis kecilnya ini lalu mencium keningnya lama. Setelah itu, mereka pun dengan menaiki mobil.


"Ai, apa kau ingin makan sesuatu?" tanya Frans sambil fokus mengemudi, Ai menggeleng,


"Ai, Mama tadi membawakan kotak makan berisi irisan buah ada di tasmu ambilah dan makanlah perutmu belum terisi apapun." kata Frans tanpa mengalihkan pandangannya. Aila meraih tasnya yang ada di bangku tengah lalu di bukanya kemudian mengeluarkan kotak makanan itu.

__ADS_1


Dia membukanya lalu mengambil satu iris dimasukan dalam mulutnya, terus begitu hingga sampai di area parkir kampus dan tak terasa ia telah menghabiskan satu kotak makan irisan buah.


Mereka turun dari mobil, "Ai, apa kau benar-benar kuat berjalan?" tanya Frans pada istrinya itu. Aila hanya mengangguk. Frans berjalan sedikit di belakang Ai berjaga-jaga andai tiba-tiba Aila pingsan. Tak seberapa lama mereka sampai di kelas mereka, Frans membantu Aila untuk duduk, lalu ia pun duduk di sebelah Aila.


Tak lama kemudian dosen masuk di dalam kelas. Frans terkejut saat melihat wajah dosen itu seperti pernah mengenalnya. Lalu terdengar memperkenalkan dirinya,"Perkenalkan nama saya adalah Danu Pambudi, saya mengajar tentang mata kuliah Reproduksi, aturan dalam mengikuti perkuliahan saya jika terlambat tidak masuk silakan anda dengarkan dari luar kelas saja, absen saya tidak mau hanya tanda tangan setiap kali di mata kuliah akan saya panggil satu persatu jika tidak ada di tempat berarti anda tidak mengikuti perkuliahan saya.


Saya panggil satu persatu hingga giliran


Aila dosen itu memanggil namanya dua kali, dan anehnya dosen itu menjadi Aila sebagai ketua perwakilan kelas di mata kuliahnya, "Aila Berliana Dintara, saya angkat menjadi ketua dari perwakilan mahasiswa di mata kuliah saya, tolong Berliana, anda berikan nomer hp anda pada saya!" perintah Dosen itu


Saat Aila akan berdiri Frans mencegahnya. Dia mengambil secarik kertas dan menulis sesuatu berserta nomer telpon Aila, lalu dia berjalan ke depan menuju ke meja Pak Danu, "Maaf, Pak Aila dalam ke adaan sakit jadi saya mewakilinya," kata Frans lalu memberikan lembaran kertas itu ke pada Pak Danu. Dosen itu menerima dan membacanya lalu Dia pun bertanya, "Baik, siapa nama mu?"


"Frans Adi Nata, Pak," jawab Frans lalu permisi untuk kembali ke tempat duduknya.

__ADS_1


Aila menatap dosen itu dengan rasa tidak percaya pria yang bertemu dengan ternyata bisa sekejam dan setegas itu pada Maha siswanya. Dia pun tak mengira bahwa pria itu seorang dosen di Universitas ini.


__ADS_2