
Setelah semuanya siap, mereka berkumpul di ruang tengah duduk lesehan di sana, suasana begitu santai. Sebelum mengisi makanan berat mereka memakan pisang goreng hangat dan segelas kopi.
"Enak juga ya makan model begini berasa gak formal aja. Jadi, santai banget ini," kata Raka sambil makan pisang goreng dan menyesap kopinya.
Haidar tertawa. "Kalau saya sudah biasa seperti ini memang terasa enak makan seperti ini, tidak terhalang meja dan kaki bisa selonjoran saat kaki benar-benar pegal."
Mereka sarapan dengan bercerita banyak hal hingga selesai makan, setelah itu mereka berencana untuk berwisata selama berada di Boston.
Selama satu minggu digunakan untuk menikmati hari-hari mereka di sana dengan pergi di berbagai tempat wisata.
Arnold Arboretum, taman umum Boston, Carles River Esplanade dan lain-lain.
Begitu pula dengan Vino ia melakukan kencan kilat dengan si cantik Gloria, mereka sering bertemu sekedar berbincang-bincang hangat hingga bertukar nomer telpon.
Mengunjungi tempat-tempat wisata berdua sesuai keinginan Gloria dimana ia ingin pergi.
"Apa ini juga dinamakan berkhalwat?" tanya Gloria pada Vino yang sedang menyetir.
"Tidak Anggap saja aku seorang sopir, pemandu wisata dan bodigurd yang sedang mengantarkanmu jalan-jalan kemanapun kau mau," jawabnya sambil menatap gadis itu lewat spion karena Gloria duduk di bangku tengah.
"Hahaha, bisa begitu ya." Gloria tertawa
Di sepanjang perjalanan mereka becanda, dan bergurau, di taman umum mereka duduk dengan berjarak satu sama lainnya di bangku taman, tidak mengurangi rasa senang dan bahagia di hati Vino.
Sering mencuri-curi pandang untuk sekedar menikmati wajah cantik Gloria.
Ketika mata saling bertemu mereka pun sama-sama saling menunduk. "Apakah kau tidak ingin duduk di ayunan itu? Jika kau ingin akan ku ayun dari belakang," kata Vino pada Gloria sambil menatap wajah wanita itu dari samping, Gloria menoleh dan tersenyum. "Aku bukan anak kecil yang suka duduk di ayunan Vin, aku sudah dewasa, malu jika aku di sana."
__ADS_1
"Tidak apa-apa ayunan itu tidak hanya untuk anak-anak, orang dewasa pun boleh, Ayohlah aku tak akan menyentuhmu, aku hanya menyentuh tali itu untuk mengayunmu," pintanya pada gadis itu.
Gloria berfikir sebentar lalu mengangguk. Dia berjalan ke arah ayunan itu dan Vino mengikutinya dari belakang sambil menatap tubuh indah kekasihnya dari belakang yang tertutup jubah dan hijab.
...----------------...
Tiba waktunya mereka untuk kembali pulang ke Indonesia. Bara mengatarkan mereka sampai ke Bandara hingga sampai di ruang pemeriksaan.
Mereka pun memasuki pesawat dan duduk di tempat duduk masing-masing.
Vino duduk di sebelah Rena.
Vino sedari tadi senyum-senyum melulu tidak tahu apa yang dia pikirkan membuat gadis yang duduk di sebelahnya menjadi penasaran apa yang di pikirkan oleh Vino adik dari kakak iparnya itu. "Ayo apa yang kak Vino pikirkan? Pasti kak Gloria kan," tebak Rena dengan suara keras, membuat Vino membungkam mulut Rena. "Kamu jangan keras-keras kalau ngomong bisa susah kalau kedengaran Ayah."
Rena tertawa ngakak, semua mata tertuju pada bangku yang diduduki Vino.
"Gue benar-benar sial duduk dengan kamu Rena," protesnya pada Rena
"Mereka tidak tahu apa yang kita bicarakan kak Vino, jadi tenang saja," timpal Rena.
"Iya, aku tahu, tapi pada akhirnya akan timbul pertanyaan dari mereka kenapa kamu tertawa begitu keras," timpal Vino dan Rena kembali tertawa, kali ini dia menutup mulutnya agar tidak terdengar oleh yang lain nya.
"Anggap saja kita lagi bercanda, jadi tidak ada masalah Kak," kata Rena
Vino membuang muka menatap jendela.
"Apa kak Vino sedang membayangkan bermain di atas awan bersama Gloria berlarian di sana sambil berpegangan tangan melompat dari satu awan ke awan yang lain," ungkap Rena membuat Vino semakin kesal, dia telah menyembunyikan perasaan sedemikian rapi tapi Rena tetap mengetahuinya juga. 'Dasar cewek usil!' umpatnya dalam hati. "Kenapa kakak diam? Jangan-jangan kakak sedang mengumpatku, yaa" bisiknya pada Vino sambil terkikik.
__ADS_1
Vino menoleh dan menatap tajam Rena kembali tertawa. "Ayohlah jangan marah padaku! Aku punya rahasia tentangnya, kalau kau ingin tahu bertemanlah dengan adikmu ini, Kak," kekeh Rina
"Apa? Kau punya rahasia apa tentang dia? Ayo katakan padaku!" tuntut Vino penasaran, membuat Rena semakin jahil menggoda dan membuat dia menjadi gusar.
Perjalanan masih begitu pajang untuk mencapai tujuan 20 jam penerbangan waktu yang begitu panjang membuat mereka lelah bercanda dan akhirnya tidur saling bertumpu kepala.
...----------------...
Ammar yang sedang bersantai mendapatkan telpon dari daddynya untuk menjemput di bandara, karena barang bawaannya mereka semakin bertambah sebab banyak barang yang di beli mereka untuk oleh-oleh secara otomatis mobil Raka yang di kendarai sang sopir penuh dengan barang hingga tak bisa memuat penumpang lebih banyak lagi.
Amar bergegas mengambil kunci mobil dan langsung melaju ke bandara, ia mengendarai dengan kecepatan sedang, setengah jam kemudian Ammar sampai di Bandara, dan berjalan menuju terminal kedatangan hingga matanya menangkap rombongan orang yang berdiri menanti kendaraan yang menjemput mereka, Ammar pun berhenti tepat di depan Raka berdiri, dan membuka jendela sambil berkata, "Ayo masuk, Dad, Pak Haidar!"
Mobil-mobil itu berjalan meninggalkan Bandara, mengantar mereka pulang satu-persatu.
Sore itu begitu lengang hingga melancarkan perjalanan menuju ke rumah mereka, satu mobil yang membawa semua koper-koper mereka berjalan mengantar ke rumah mereka, hingga terakhir di rumah majikannya sendiri yaitu Raka.
Sesampainya di rumah Raka dan Rima lansung masuk ke kamar mereka dia langsung membersihkan tubuhnya dan berganti dengan pakaian yang lebih santai.
Begitu pula Haidar, begitu sampai di rumahnya ia langsung ke ruangannya untuk membersihkan tubuhnya, berganti pakaian dan memesan makanan lewat aplikasi di handphone, karena perutnya terasa sangat lapar, dia keluar dari ruangannya dan berjalan menuju sofa ruang tamu menanti pesanan makanan datang.
Tak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar dan dia membukanya, seorang pemuda berdiri di depan pintu dengan mententeng sekantung plastik berisi makanan, Haidar menerimanya lalu membayar sejumlah uang dan pengantar makanan itu pergi dengan sepeda motornya yang terparkir di halaman.
Haidar menutup pintu rumah lalu berjalan ke ruang makan dan mengeluarkan semua makanan yang di belinya dan meletakan di meja, kemudian dia memanggil Vino untuk keluar bergabung dengannya.
Vino keluar dari kamar dengan tampilan yang segar karena sudah membersikan dirinya sehabis bepergian. Dia menyeret kakinya berjalan dan duduk di depan meja makan, mengambil satu kotak makanan serta membukanya lalu memakannya.
Mereka makan dengan tenang dan lahap, setelah selesai mereka duduk di sofa ruang tamu sambil berbincang- bincang ringan dan tak menghiraukan koper-koper yang berjejer di sudut ruangan.
__ADS_1