
Wajah tegas dan muram tergambar pada pria muda yang menatap nisan bertuliskan Gloria Ashalina dan rangkaian bunga mawar yang masih segar di atasnya.
Luka yang tersayat begitu dalam tak mungkin kering dalam waktu yang singkat.
Tiada kata perpisahan yang terucap di bibir sang kekasih hanya secarik kertas, bertuliskan selamat tinggal.
Vino Albinara berjalan tanpa menengok kebelakang.
__ADS_1
Hati yang telah berlabuh pada sosok yang telah pergi, seperti terkunci rapat dihatinya.
Bisakah Vino menerima wanita lain selain Gloria?
Mampukah Belvina mewujudkan keinginan saudara kembarnya menjadi penggantinya? Sementara yang dihadapinya pria gila yang setiap harinya menantang mautnya, hanya untuk menyusul sang kekasih.
Disebuah perayaan Tujuh bulanan kakaknya Ratih Andita yang dilaksanakan di rumah yatim piatu sepasang suami istri mualaf Abraham Smit dan Katarina Yusuf, Vino bertemu seseorang gadis yang membuatnya terpesona saat itu juga.
__ADS_1
Vino tak melepaskan tatapannya pada gadis yang baru dia tahu namanya saja.
Gadis itu kembali duduk di antara saudara-saudaranya sesama panti.
Saat gadis itu mengambil makanan, Vino memberanikan diri untuk mendekati dengan ikut mengantri makanan ia berdiri di belakang gadis itu.
Sambil menunggunya, dia pun bertanya tentang namanya. "What is your name?"
__ADS_1
gadis itu menoleh lalu menyebutkan namanya kemudian pergi. "Gloria."
Baca juga kisah Vino, Gloria dan Belvina