
Rika menutup sambungan telepon dengan putrinya. ia menatap suami dan Mertuanya. "Rena, protes dia gak di ajak ke sini, sekarang lagi perjalanan mau kesini." Raka tersenyum. "Ok! Kita tunggu Rena, sebentar yaa." Mereka mengangguk kecuali Rafa dan Diki sibuk dengan pasangan sendiri, hingga membuat Raka tertawa. Suara tawa dari pasangan Raka, Ammar dan Angga membuat mereka sadar bahwa bukan mereka sendiri yang ada di sini.
"Loh, Kek kita nunggu siapa? Kok sarapan belum juga di mulai," tanya Rafa sambil terkekeh.
"Kalian asik sendiri saja, sampai gak memperhatikan siapa yang belum datang," kata Angga pura-pura sebal pada mereka.
"Siapa?" tanya Nara pada pamannya.
"Aduh, kasihan bungsuku dilupakan kakak-kakaknya," kata Angga lagi dengan mimik melas.
Mereka pun tertawa, baru tahu apa yang di bahas oleh para sesepuh tadi.
"Maaf, Paman. Kami sedikit lupa dengan bocil satu itu," jawab Nara tertawa sambil menyusup di dada bidang suaminya itu.
"Bau, Sayang," bisik Diki di telinga Nara.
"Gak papa Nara suka," kata sambil terus menempel pada tubuh suaminya itu. Diki terkekeh melihat kemanjaan istrinya itu.
Tak lama kemudian suara mobil berhenti di depan pintu pagar rumah Raka, Rena pun keluar ia menyuruh sopirnya kembali ke rumah karena dia akan pulang bersama Ayah dan Bundanya.
Mobil itu pun pergi meninggalkan kediaman Raka dan Rena pun masuk lalu berjalan kearah taman, nampak olehnya semua berkumpul di sana untuk sarapan pagi di luar, jarang-jarang mereka lakukan ini, karena hanya waktu tertentu saja seperti saat ini.
Rena berlari kecil agar segera sampai dan bergabung bersama mereka. Dengan cerianya ia menghambur ke kakak iparnya lalu duduk di sampingnya sambil mengelus perut Anin. "Hai keponakan Onty gimana kabarnya?"
"Baik, Onty. Ayo kita makan, sudah lama menunggu Onty datang dedeknya kelaparan," jawab Rafa sabil menirukan suara anak kecil. Rena terkikik mendengarnya.
Raka pun memimpin Doa untuk makan bersama. Para wanita mengambil makanan pada suaminya, namun beda dengan Diki menolak di ambilkan Nara, justru mengambil piring yang Nara pegang lantas mengambil porsi makan dua orang, sambil bertanya Nara mau yang mana kemudian menaruhnya di atas piring. Setelah itu, ia menyuapkan makanan ke mulutnya lalu ke Nara, begitu seterusnya. Ammar tertawa melihat kemesraan mereka dan terharu, ia tak mengira Diki akan memperlakukan putrinya layaknya ratu begitu pula Izah.
__ADS_1
"Kenapa kak Nara di suapi, tidak bisa makan sendiri?" tanya Rena.
Diki tersenyum. "Adiknya dalam perut minta disuapi, kasihan Bundanya nanti, kalau adiknya gak mau diam," kata Diki sambil terus menyuapkan makanan padanya dan Nara. Rena mengangguk kemudian kembali meneruskan makannya. Tak seberapa lama mereka telah selesai sarapan pagi. Art membantu Rima, dan Azizah sementara itu Diki dan Rafa ke kamar untuk membersihkan tubuhnya sehabis lari pagi tadi.
Rena bergelayut manja di lengan Kakeknya. "Kek, Rena kalau pulang sekolah ke sini yaa, temani kakek," kata Rena pada kakeknya.
"Benarkah, Kakek sangat senang sekali kalau Rena sering berkunjung ke sini menemani Kakek dan Nenek,"kata Raka menatap cucu bungsunya yang cantik itu.
"Tante Aila, 'kan sudah jarang pulang ke sini karena harus ikut Om Frans dan rumah jadi sepi jadi tugas Rena 'lah sekarang yang menemani kakek," kata Rena
"Oh, Kakek terharu sekali, Cucu Kakek ini sangat cantik dan baik, Kakek jadi merasa10 tahun lebih muda dari usia Kakek." kata Raka sambil memeluk Rena.
"Kakek, Ayo kita main game bersama, nanti kalau Kakek menang, Kakek boleh minta apa saja pada Rena, tapi kalau Rena yang menang, Rena akan minta apapun yang Rena mau pada Kakek, Bagaimana?" tanya Rena
"Ok! Siapa takut? Ayo kita ke ruang bermain!" ajak Raka pada Cucunya itu. Mereka pun kesana, Raka mulai menyiapkan dan menyalakan TV yang terhubung oleh alat game lalu mereka mulai larut dengan permainan game mereka, kadang terdengar gelak tawa mereka.
Izah memotong-motongnya lalu ditata di atas piring kemudian dibawa keruang bermain dan yang lainnya di taruh di atas meja.
Tak lama kemudian satu loyang lagi Cheese cake sudah di keluarkan dari dalam Oven, setelah agak dingin dipotong-potong kembali lalu di taruh di dalam dua piring besar, satu ditaruh di ruang bermain dan satu di meja makan.
Nara keluar dari kamarnya bersama Diki mencium bau yang menggugah selera pergi ke ruang makan di dapati bibik dan mamanya berada di sana memotong buah untuk di jadikan salat. Nara dan Diki duduk di depan meja sambil mencomot cheese cake dan memakannya. "Enak sekali ini bikinan Mama?" tanya Diki pada Izah.
"Kalau itu bikinan bibikmu, yang bronis itu bikinan Mama, Dik," jawab Izah sambil menutup beberapa kotak makanan yang yang berisi salat buah lalu di simpan di lemari es. Diki mengambil satu potong bronis dan di masukan ke dalam mulutnya. "Yang ini juga enak, Mam. Ra, kamu bisa bikin yang beginian?" tanya Diki pada istri.
Nara hanya mengangguk sambil menikmati roti bikinan bibiknya.
"Dia bisa, Dik. Cuman gitu, kalau kamu ingin Nara yang bikin tunggu mood dia dulu, kalau dia yang pengen gak ada yang mau buat, baru deh dia buat, Bibik bisa buat itu yang ngajari ya Nara." jawab Rika panjang lebar.
__ADS_1
"Yang, kok gak pernah buat sih? Aku 'kan juga pengen merasakan roti buatan kamu," kata Diki sambil menatap Nara.
"Iya, nanti Nara buatkan kalau di rumah.
"Kakek dan Nenek kemana, Bik, Ma?"
"Di ruang bermain bersama Rena," jawab Izah.
"Gak mau kesana?"tanya Diki Nara menggeleng.
"Aku kesana ya?" ijin Diki pada Nara.
"Iya, aku mau kembali ke kamar, ngantuk," jawab Nara sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Aku Antar, yaa?" Mereka pun menaiki tangga untuk menuju ke Kamar Nara.
Setelah mengantar Nara ke kamarnya Diki, menuruni tangga menuju ruang bermain di sana ada Raka dan Rena sedang bermain game sementara Rima menyemangati mereka.
"Siapa yang menang?" tanya Diki.
"Aku," jawab Rena lantang sedangkan Raka hanya tertawa saja.
"Ayo lawan Abang, kalau Abang menang poinnya buat kakek, kalau kamu yang menang kamu boleh minta apa saja pada Abang."
"Ok! siapa takut?"
"Ayo, rebut kemenangan Dik," kata kakek menyemangati.
__ADS_1
Mereka pun bermain game bersama dengan Antusias, ronde pertama Diki yang menang lalu ronde kedua dan ke tiga membuat Rena sedikit kesal.