
Diki berhenti ketika mendengarkan teriakan Nara. lalu berbalik melangkah menghampiri gadis itu. Dia duduk berjongkok sambil melihat Nara.
"Jelaskan, kenapa aku harus menolong mu?"tanyanya pada gadis itu.
"Pertama karena sesama manusia wajib tolong-menolong. Kedua hanya om yang ada di sini. Yang ketiga Om adalah laki-laki gagah yang sanggup menggendong ku."
Diki tertawa," Apa kau mencoba merayu ku?"
Nara menggeleng," Aku tidak bisa jalan, Om lihat kakiku lecet semua aku berusaha bernegosiasi."
"Ok! Pertolongan akan segera di terima dengan sarat, tidak boleh panggil Om, tidak boleh memaki, tidak mengolok dan sesuai cara ku."
Nara memutar bola matanya.
"Bagaimana?deal!" Diki bernegoisasi.
"Baiklah, deal!"
"Ayo, naik ke punggung ku!"
"Apa, naik ke punggung Om?"
Diki tiba-tiba berdiri dan berkata, "Perjanjian batal."
"Jangan, Om eh Bang!" kata Nara agar Diki tak pergi begitu saja.
"Baik, panggil Bang Diki." katanya sambil menatap tajam Nara.
"Ba-- Baik, Bang Diki." kata Nara gugup
Diki berjongkok di depan Nara dan gadis itu pun naik ke punggung Diki dengan ragu.
"Sebentar mana kamera lo?" kata Diki
"Ini, Bang." Nara memberikan kamera yang kemudian dikalungkan di lehernya. Nara pun naik ke punggung Diki.
"Kenapa sampai jatuh begitu?" tanyanya sambil berjalan menggendong Nara.
"Ceritanya itu di atas sana tuh bang ada sungai yang indah, Nara tuh mau foto sungai itu carilah gambar yang tepat Nara mundur-mundur, jatuh deh."
"Umur berapa kamu, masih SMP?"
"Enak aja SMP, Nara tuh sudah lulus SMU, sudah mau kuliah Bang."
"Kenapa keluyuran ke sini, mestinya lo belajar untuk ujian masuk universitas."
"Mau rehat sebentar Bang."
"lo mau ambil jurusan Apa?" tanya Diki lagi.
"Maunya sih Kedokteran Bang tapi gak jadi."
"Kenapa, susah?" tanya Diki frontal
"Gak gitu juga sih, Bang. Lagi ingin move on gak mau ketemu doi."
"Pacar?" tanya Diki sambil mengernyitkan dahi."
Nara terkekeh. "crush gue."
Diki pun tertawa." Kenapa? di sambar orang."
__ADS_1
"Sudah jadi om gue dia, nikah sama tante gue."
"What? jadi om lo tiap kali ketemu kamu dong."
"Enggak juga sih, Bang, kan tante gue tinggal di rumahnya sekarang."
"Oh, jadi ceritanya kamu patah hati terus semedi di sini.'
"ngawur aja Abang ini, kalau semedi gak bakal gue jatuh nimpah abang, berat lagi badan Abang tuh nimpah Nara , sudah kaki Nara lecet badan sakit semuanya juga."
"Vila lo mana?"
"Itu, Bang. Di sana."
"Oh, sebelah Vila yang gue sewa." timpal Diki
"Oh, Sewa Vila punya kakek Hardan."
"Lo kenal pemilik Vilanya?"
"Kenal lah, Dia kan teman kakek gue, dulu nih Bang katanya perkebunan ini di jual Adik kembarnya. Sama om Hardan di beli lagi."
"Punya cucu cewek enggak?"
"Kenapa pakai nanya segala soal cucu kakek Hardan?"
"Itu cucu pasti pinter, karena kakeknya juga pintar, bisa tuh buat Abang?"
"Ada sih Bang tapi ya gitu gak di sini, di Jepang cucunya, cantik Bang cucunya tapi sayang Bang gak trima lowongan sudah tunangan dia." kata Nara sambil terkekeh.
"Lo mau di turunin sini apa sana?! ngeledek aja dari tadi."
"Sana, Bang. Maaf deh kita peace deh, Bang. Jangan marah Bang! Gantengnya ilang, Bang."
"Lo di turunkan di sini apa di dalam?"
"Di dalam dong, Bang. Yang tuntas dong, Bang. Kalau mau nolong."
"Sudah lo jangan bawel!"
Diki membawa masuk Nara dan mendudukkannya di sofa. Di saat itu Riri keluar.
"Loh, Non. Kenapa?"
"Jatuh mbak Riri."
"Apa di bawa ke rumah sakit? lukanya banyak loh, Non."
"Ngak usa gak papa. Mbak, punya kotak obat?"tanya Diki pada Riri sambil meletakan kamera Nara dan kamera miliknya di meja.
Riri membawa kotak obat dan di berikan pada Diki. Diki lalu membuka kotak obat namun apa yang di carinya gak ada di menengok kesana kemari "Ada kertas ngak Ra sama bulpoin?"
"Mbak Riri, ada kertas sama bolpoin?" teriak Nara.
"Ada, Non sebentar, "
Tak lama kemudian Mbak Riri datang, sambil membawa baki berisi minuman dan makanan kecil serta buku kecil dan pena.
"Ini, mas kertas dan penanya sama di minum dulu mas minumannya, Non Nara, juga."
Diki menulis sesuatu di kertas lalu di sobeknya.
__ADS_1
"Mbak ada yang bisa disuru gak beli ini ke apotek untuk bersihin lukanya."
"Ada Mas, sini biar saya suruh sekuriti beliin ini."
Diki pun hanya mengangguk, lalu duduk di sofa kemudian mengambil kamera Nara."
Di lihatnya bidikan Nara, sesaat mengernyit namun kemudian tertawa terbahak-bahak kemudian menyentil kening Nara.
"Aduh, Bang. Kenapa coba di tambahin sakit aku?" tanya Nara dengan jengkel.
"Lo ngapain motret orang mandi, Ra?"
"Lo kalau patah hati para banget deh, Ra. Mengerikan tahu."
"Gak mungkin lah Bang gue itu tadi lagi motret pemandangan yang ada di sungai, indah banget, wong gue tadi juga cuci muka di situ."
"mana lihat coba," kata Nara menyambar dengan cepat lalu melihatnya, matanya terbelalak, dia pun menelan salivanya sendiri.
Diki menyambar kamera Nara,"
'Sudah jangan di pelototi kamu masih kecil belum cukup umur, biar gue hapus ni foto ketahuan mamamu digantung kau, Nara."
Nara hanya bisa nyengir sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal.
Setelah di tunggu agak lama, mbak Riri membawa pesanan yang di minta Diki.
Diki menerima dan mulai membersihkan luka Nara. Dengan hati-hati membersihkan luka Nara.
"Bang Diki, dokter?"
"Kenapa punya masalah jantung kamu?"
"Ye, enggak lah, Bang. Jantung gue baik-baik saja kecuali kalau ketemu sama om Frans." Kekeh Nara.
Diki menyentil kening Nara, "Lo kecentilan Ra cowok takut sama lo."
"Bukannya cowok lebih suka yang centil-centil gimana gitu, Bang."
"Ya enggak lah Ra, cewek yang begitu cowok lebih suka manfaatin lalu di obok-obok kemudian ditinggalkan. Patah hati lo makin parah, tahu."
"Enak aja, emang kobokan di obok-obok."
Diki terkekeh mendengarnya.
"Kalau tomboi apa juga cowok gak suka Bang?"
"Tergantung dari seleranya, Ra."
"Kalau Bang Diki seleranya yang bagaimana?" Tanya Nara sambil menyipitkan matanya.
"Kenapa tanya, mau daftar?"
"Enggak lah, Bang. Ketuaan," kata Nara sambil mengerucutkan bibirnya. Diki menyentil bibir Nara.
"Aduh, Bang. Sakit tahu dari tadi aniaya Nara terus."
"Habis dari tadi lo ngatain gue tua, yang seperti gue gini yang namanya matang."
"Kalau lo baru bau kencur. Lo kalau daftar lulus perawat dulu."
"Apa, Bang? kirain, Bang."
__ADS_1
Diki terkekeh, "Kirain apa? ini sudah selesai, istirahat jangan mainan melulu, di minum obatnya, gue mau pulang."