
Pak Haidar pun sampai di rumah kontrakannya, dia langsung masuk kedalam kamar, saat ini dia begitu pasrah pada hidupnya. Jika dia harus di penjara maka tak akan keberatan.
Setelah lama terpaku di kamarnya, Haidar pun keluar dari kamarnya. Dia membuka kulkas ingin membuat makan siang untuk putranya yang sebentar lagi akan pulang dari sekolahnya.
Tak sulit baginya untuk terjun di dapur karena dulu ketika bersama dengan Rindu, dia sering memasak sesuatu untuk memanjakan Rindu istrinya itu. Dia tak mengira keputusan untuk berwirausaha dengan modal yang diberikan mertuanya adalah awal hancurnya rumah tangganya, ya wanita yang di tolong Rindu untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan Haidar ternyata adik kandung Rindu dari ibu lain. Wanita itu ingin menguasai harta peninggalan ibunya Rindu.
Rindu yang tak pernah tahu masa lalu dari ayahnya itu membuat keputusan yang salah hingga memporak porandakan pernikahannya, masih terngiang di telinga Haidar istrinya itu memintanya untuk menikahi Cinta, "Kau harus menikahinya Haidar." kata Rindu dengan tegas.
"Aku tidak bisa, Rindu aku tidak mencintainya, aku pun tak ingin melepaskan mu, aku tak pernah melakukannya malam itu, Rin." kata Haidar lemah. "Dia ternyata adikku, Dar," kata Rindu dengan tatapan sendu.
"Aku tak peduli, aku tak harus bertanggung jawab dengan apa yang tidak ku lakukan Rin dan aku tak mau menceraikan mu, kau mengerti!"
"Hanya di atas kertas saja, Dar lakukan untukku." Kata Rindu pada Haidar yang tak pernah Haidar tahu alasannya, kenapa ia melakukan itu.
"Kau tahu hukumnya bukan, Rin! Jika aku menikahinya itu artinya aku harus menceraikan mu, kau gila Rin! kau benar-benar melukai ku Rin!!" kata Haidar pergi dengan membanting pintu dengan keras.
Haidar memejamkan matanya rasa sakit itu tak pernah sembuh dari hatinya.Suara salam itu terdengar dari luar. "Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Terdengar langkah kaki putranya memasuki rumahnya, senyumnya mengembang saat tahu, ayahnya tengah menata makanan di atas meja makan.
Sup ayam, bergedel kentang dan sambal kecap terhidang di meja lalu Vino bertanya pada Ayahnya, "Wah, Ayah masak, tumben kemarin-kemarin beli, kenapa?"
Haidar tertawa, "Kemarin kan Ayah banyak urusan Vin, jadi Ayah tak sempat masak. Ganti baju dulu, Nak."
__ADS_1
Vino berjalan meninggalkan ayahnya pergi ke kamarnya untuk berganti pakaiannya lalu keluar lagi dan duduk di kursi meja makan. Vino mengambil piring Ayahnya dan menyendokan nasi untuk Ayahnya, "Segini Ayah?"
"Ya, cukup Vin." jawab Haidar sambil tersenyum. Vino mengambilkan sayur di piring Ayahnya lalu meletakkannya di meja depan ayahnya kemudian ia mengambil makanannya sendiri dan berdoa bersama.Mereka mulai makan siang bersama.
"Ayah, maukah Ayah bercerita padaku. kenapa Ayah tak pernah pulang sama sekali menjenguk kita?" tanya Vino pada Ayahnya, membuat Haidar kembali teringat masa itu, ia menghela nafas panjang, lalu menceritakan apa yang terjadi dulu.
Flashback on
Saat Itu Rindu benar-benar memaksanya untuk menikahi wanita si@lan itu. Ia sudah mengurus surat-suratnya tanpa memberitahukan pada Haidar dan esoknya hari ia harus menikahi Cinta.
Haidar bersandar di depan pintu kamarnya sambil menatap istrinya dengan tatapan kecewa, "Kenapa kau lakukan ini Rindu? Kau yang membawanya bekerja dengan ku, lalu kenapa kau tak pernah percaya padaku. Baik lah, Jika itu mau mu, akan ku kabulkan, aku tak akan menceraikan mu, tapi aku akan membuat Cinta, tak pernah menjadi istriku, walau aku telah mengucapkan hijab khobul untuknya, camkan itu baik-baik, Rindu!"
Ke esokan harinya, prosesi pernikahan di gelar dan Haidar pun mengucapkan hijab di hadapan penghulu, surat nikah pun telah di tandatangani Haidar, namun setelah Haidar menandatangi surat Nikah itu, bukan Rindu yang dia talak, akan tetapi Cinta. Rindu terkejut atas apa yang di lakukan Haidar, di hadapan orang banyak Haidar mengucapkan talak dengan lantang.
"Surat ini kan yang kau inginkan Cinta? Maka milikilah! saat ini pula kau bukan istriku lagi secara agama. Dan kau Rindu aku tak akan pulang serta tinggal di rumah ini sebelum aku bisa mengurus surat cerai untuk Cinta." Haidar pun pergi tanpa membawa apa-apa.
"Ayah maafkan aku kenapa aku tidak tahu kejadian itu."
"Waktu itu kita kan sedang liburan di puncak bukan?" kata Haidar
"Lalu ayah dan Ibu keluar, kan? dan Ayah tak kembali menjemput kami, hanya ibu yang datang." kata Vino menatapAyahnya.
"Ya," jawab ayahnya sambil tersenyum. "Ayo, selesaikan makan mu, kita mulai dari awal lagi, mungkin ini sudah takdir Vin, saat Ayah datang ingin bersama dengan ibu mu, dia malah meninggalkan Ayah untuk selamanya." kata Haidar.
"Ayah maafkan Vino ku kira Ayah sudah tidak mencintai ibu lagi dan tak peduli lagi pada kami." kata Vino menatap Ayahnya.
__ADS_1
"Kenapa kalian hidup dalam kesusahan? Bukan kah Ayah selalu mengirimkan uang pada ibu mu."
"Ibu sakit, Ayah aku tidak tahu ibu sakit apa? Dia tidak pernah bilang pada kami, uangnya habis untuk biaya rumah sakit ibu, bahkan gaji ibu pun tinggal sedikit hanya cukup untuk makan sehari-hari saja."
"Oh, iya, Ayah sekarangkan tidak bekerja, lalu bagaimana kita hidup."
Haidar tertawa," Ayah masih punya keuntungan di perusahaan itu Vin, jangan kawatir, kau masih bisa sekolah sampai tinggi dan menjadi sarjana."
Vino pun memandang Ayahnya, "Trimakasih Ayah telah menjadi Ayah yang baik untuk ku. Aduh aku lupa, Ayah ibu menitipkan surat untuk mu, sebentar aku ambilkan."
Vino pun meninggalkan meja makan dan berlari ke kamarnya dan Kembali lagi dengan membawa sepucuk surat yang di berikan pada Ayahnya.
Haidar menerima surat itu lalu berjalan ke kamarnya kemudian menutup pintunya. Ia duduk di bibir ranjang membuka amplop surat tersebut dan membacanya.
untuk suamiku tercinta
Maaf jika aku tak bisa menunggu mu, aku sakit, Dar. Kangker servik, sebelum kau Menikahi Cinta dan menalaknya aku sudah sakit, maaf menyembunyikannya darimu. karena aku tak ingin kau bersedih.
Ku pikir Cinta adalah sosok wanita yang akan menggantikan aku merawat mu dan mengasuh anak-anak kita ternyata aku salah, Dar.
Dia datang padaku dan meminta Ratih untuk bersamanya dia bilang bahwa kamu rujuk dengannya, namun apa yang terjadi pada putriku malang itu. Dia jadikan pembantunya dan berniat untuk tak menyekolahkannya.
Aku sadar bahwa aku salah.Aku yang melakukan kesalahan, Dar bukan kamu. Tolong maafkan aku. jika ajalku lebih cepat menjemput ku, sebelum kau datang. Aku menyesal membuat mu pergi dari ku. Tolong jaga Ratih dan Vino untuk, Dar.
I love you more Haidar
__ADS_1
Haidar melipat surat itu hatinya sangat sakit, jika saja dia lebih awal tahu mungkin dia bisa menemani isterinya menghadapi sakit beratnya.