
Ketika makan siang bersama Anin setelah meeting dengan kedua kliennya, tiba-tiba ada seorang menganggu selera makan mereka, "Oh, jadi kalian sudah jadian? mau saja kamu sama cewek bekas ini yang kerjanya di club malam, "kata seorang wanita yang ternyata matan kekasih Rafa.
"Lo siapa? gue gak kenal sama lo, jadi tolong tinggalkan meja ini, karena kami ingin berdua saja." kata Rafa pada wanita itu.
"Cek, jangan pura-pura tidak kenal, aku Clara kekasihmu dulu yang selalu kau puja." katanya sambil tersenyum sinis.
"Anda tidak ada apa-apa di banding dengan istri saya ini, dia seribu lebih baik di banding anda," kata Rafa dengan sikap datar.
"Kau sudah menikah? Dengan gadis kotor ini? Apakah seleramu sudah rendah hingga memilih gadis ini sebagai istrimu.
"Justru seleraku saat ini sangat tinggi, dia murni saat kau lempar dia di ranjangku, hanya aku, kau paham! Sedangkan kau sudah keberapa pria, tubuhmu sengaja kau lemparkan, untuk menanjakkan karirmu di bidang fashion, kenapa kau datang kemari? Jangan-jangan dia telah membuangmu, pergi! Atau aku akan mengusir dengan cara sama seperti kamu mengusirku!"
Clara menelan ludahnya dengan kasar, "Fa, aku mintak maaf, aku ingin kembali padamu, ternyata hanya kau yang benar-benar mencintaiku dengan tulus, ceraikan dia dan mari kita rajut kembali cinta kita ku yakin masih ada aku di ruang hatimu, dia tidak layak bersanding denganmu, akulah yang layak!" kata Clara sambil melirik Anin yang masih menikmati makan siangnya tanpa menghiraukan gadis yang ada di depannya itu. Namun kata-kata pedas gadis itu membuat Anin sedikit terusik. Ia baru saja ingin berdiri meninggalkan ruangan ini namun tangan Rafa telah mengenggamnya dengan sangat kuat seolah ingin mengatakan, "Tetaplah disini aku yang akan menghadapinya."
Anin pun kembali meredam rasa marahnya dan berusaha untuk tenang.
Rafa tertawa mendengar ucapan Clara, "Apa kau kira aku sudah gila? Mau menukar berlian dengan besi rongsokan yang tak berharga sama sekali, Apa yang kau punya? Hingga begitu beraninya bernegoisasi dengan ku. Pergilah!! Jangan coba-coba merusak rumah tanggaku, aku bisa melakukan sesuatu yang membuatmu hancur!" kata Rafa dengan penuh penekanan dan tatapan yang tajam pada Clara.
__ADS_1
Clara hanya bisa menunduk, saat ini dia sudah tak ada harganya sama sekali, andai saja ia saat itu tidak tergiur dengan kata-kata Aldo, mungkin saat ini dia berada di posisi Anin, "Baiklah Rafa, maafkan aku, aku tidak akan mengusikmu lagi." katanya lalu pergi meninggalkan mereka dengan hati hancur dia berjalan menuju mejanya yang duduki bersama sahabatnya sindy.
"Bagaimana, apa kau berhasil merayu Rafa kembali? Setidaknya lakukan untuk janinmu, jika janin itu tumbuh subur di rahimmu maka tamat sudah karir yang kau bangun dengan susah payah." kata Sindy setelah Clara baru duduk di kursinya. Clara menggeleng lesu," Aku sudah tidak punya harapan, mereka sudah menikah."
"Apa boleh buat kamu harus meminta pertanggung jawaban dari Aldo!" kata Sindy pada Clara yang saat ini benar-benar galau.
Di ruang khusus Rafa memanggil pelayan untuk bertanya kenapa Clara bisa masuk keruang privasi, maka saat ini berdirilah seorang pelayan di hadapan Rafa dengan tubuh gemetar.
"Klien anda dua orang tadi mengatakan akan ada seseorang yang mengantarkan file pada anda di ruangan ini dan saya mengira bahwa wanita itu tadi yang mereka maksud tadi," jawab pelayan menjelaskan apa yang terjadi tadi.
"Baiklah kau boleh pergi sekarang," katanya pada pelayan itu.
"Anin, lihatlah aku!" perintah Rafa.
Anin pun mendongak menatap wajah Rafa, tampak buliran-buliran air mata membasahi pipinya yang tadinya ia tahan sekuat hatinya.
Rafa menghapus air mata istrinya,"Kau percaya aku kan, Nin. Apapun yang terjadi percayalah padaku, hanya padaku." Anin menggangguk.
__ADS_1
"Baiklah ayo kita pulang."
Mereka pun keluar ruangan privasi setelah menbayarnya. Rafa berjalan sambil memeluk istrinya keluar menuju area parkir lalu mereka masuk ke dalam mobil yang kemudian berjalan meninggalkan restoran itu. Ada sepasang mata menatap pilu melihat kemesraan mereka, ya dia adalah Clara yang masih duduk di meja pesanannya di ruang terbuka dimana dapat melihat lalu lalang orang berjalan keluar masuk restoran. Dulu ketika dirinya bersama Rafa tak pernah sekalipun Rafa memeluknya justru dialah yang bergelayut manja, hanya tatapan memuja yang di tangkap oleh clara itu pun cukup membuatnya senang namun lama kelamaan ia menjadi bosan atas sikap Rafa, yang berakhir keputusan menjalin kasih dengan Aldo, Aldo memberikan tawaran yang menggiurkan jika dia bisa merusak nama baik Rafa dan hotel orang tuanya, maka ia akan di publikasikan sebagai model papan atas dan banyak mendapat tawaran job serta uang yang nilainya fantastis, tapi sekarang apa gunanya itu popularitas yang di dapatkannya sebentar lagi akan sirna ketika kehamilan sudah tidak bisa di tutupi lagi. dia berpikir akan bisa menjebak Rafa kembali agar bisa menikahinya agar anaknya memiliki Ayah dan karirnya tidak meredup.
"Cla, apa ku antar kau untuk bertemu Aldo?"
"Tidak usah Sin, aku sendiri saja, aku tadi bawa mobil ke sini."
"Baiklah, ayo aku antar sampai ke mobil, ya." Mereka pun berjalan bersama dan masuk ke dalam mobilnya masing-masing dengan tujuan berbeda.
Di perusahaan fashion ternama di Jakarta yang baru saja mendapatkan penghargaan terbaik dan baru berdiri sekitar 5 tahun yang lalu, seorang pemuda berusia satu tahun lebih tua dengan Rafa, duduk di kursi kebesarannya, terdengar ketukan pintu dari luar, "Masuk!"
"Maaf Pak, Nona Clara meminta bertemu," kata seorang wanita yang menjadi sekertarisnya.
"Suruh masuk."jawab pria itu.
Clara pun masuk ke ruangan CEO itu dan pintu pun tertutup, "Apa maumu?"
__ADS_1
"Al, tolonglah aku, setidaknya nikahi aku sampai anakku lahir."kata Clara memohon.
"Kau tak berhasil dengan tugasmu, kenapa aku harus menolong mu, bahkan kau telah mendapatkan keinginan mu, hanya 2 tawaran yang kuberikan padamu, Nikah dengan satpam ku atau menghilang selama satu tahun, untuk melahirkan anakmu dan kembali kesini, sebagai rasa terimakasih ku untuk kenikmatan yang telah kau berikan padaku itu lah tawarannya, maka pikirakanlah!" jawab Aldo tanpa melihatnya sedikit pun, hati dan harga diri Clara benar-benar hancur tak tersisa.