Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Kehamilan Anin dan Nara


__ADS_3

Satu bulan kemudian, di Apartemen Rafa, di sore hari jam 7 malam saat makan malam bersama di meja makan bersama istrinya Anin.


Tiba-tiba bau menyengat di hidung Rafa.


"Kau masak apa, Nin? Mengapa baunya menyengat sekali?" katanya sambil berlari ke wastafel yang berada di dekat dapur, Anin pun terkejut melihat suami muntah-muntah karena bau masakannya padahal yang dimasaknya saat ini adalah makanan kesukaan Rafa.


Ia pun menyusul Rafa di pijatnya tengkuk suaminya. lalu mengambilkan segelas air hangat untuk di minum.


"Nin, tolong singkirkan dulu masakanmu aku gak kuat dengan bau menyengatnya." katanya sambil menutup hidungnya lalu berlari ke kamarnya. Anin menyusul Rafa di dalam kamar sambil membawa segelas jahe hangat yang baru dibuatkannya.


"Fa, kamu minum aja ini dulu, aku makan duluan saja ya, itu masakan kalau dibuangkan sayang. Kamu mau makan apa aku masakan, makan di kamar saja dulu nanti makanannya aku antar ke kamar."


"Buatkan mie kuah saja ya, Nin." kata Rafa sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

__ADS_1


"Baik tunggu sebentar ya," kata Anin sambil melangkah keluar kamarnya, Rafa menatap punggung Istrinya hingga menghilang di balik pintu. Tak lama kemudian, Anin datang membawa semangkuk mie rebus untuk Rafa.


"Fa, Aku taruh di sini, kamu makan sendiri ya, Aku mau habiskan masakanku yang ku masak tadi, sayanglah kalau dibuang," katanya sambil terkekeh.


"Kuat habisin masakan sendiri, itu tadi banyak loh porsinya, Nin. kalau ngak kuat habisin, disimpan aja taroh di wadah kedap udara, baru taruh kulkas ya, Nin. Biar kalau aku pas buka kulkas gak kecium baunya."


"Iya deh, ya sudah aku makan dulu, sudah dari tadi laparnya," katanya sambil berjalan keluar kamar menuju meja makan, dan mulai memakan masakan yang ia buat tadi, setelah selesai sisa masakan dia taruh di wadah plastik kedap udara lalu di masukan ke dalam kulkas, kemudian Anin masuk kedalam kamar melihat keadaan Rafa. "Gimana keadaan kamu, Fa?" tanya Anin sambil menyentuh kening suaminya itu.


"Nggak panas nih, kenapa sebegitunya ya, kamu punya riwayat sakit lambung, Fa?" tanya Anin pada suaminya itu.


"Kenapa aku mau ngerjain tugas dulu."jawab Anin.


"Nanti saja kerjakan tugasnya, saat ini aku ingin kamu peluk, jadi peluklah aku, sekarang." kata Rafa memelas. Anin naik keranjang, dan tidur di sebelah Rafa. Sambil memeluk suaminya itu.

__ADS_1


"Begini?" tanya Anin


"Hem, peluk aku sampai tidur ya," katanya sambil meyusupkan wajahnya di dada Anin.


Malam ini begitu aneh suaminya yang cuek dan tegas terlihat lembut serta sedikit manja, tak seberapa lama terdengar suara dengkuran dari suaminya. setelah di pastikan suaminya tidur iapun mengerjakan tugas yang diberikan padanya juga suami. Selama satu jam dia berkutat dengan tugas-tugasnya setelah selesai ia pun menyusul tidur di sebelah suaminya.


Tak seberapa lama ia pun ikut terlelap.


...----------------...


Lain Anin lain pula Nara, di kediamannya Nara sudah muntah-muntah dari sore tadi tidak berhenti sampai sekarang, Diki yang baru pulang kaget, pasalnya ketika sampai di pintu rumahnya tak ada orang yang yang membalas salam nya. Lalu ia pun masuk mencari istrinya. Ia pulang dari rumah sakit sedikit aga malam, membuatnya cemas karena meninggalkan istri sendirian di rumah terlalu lama. Dia mencari di dapur tidak ada, di ruang televisi juga gak ada. Ia pun ke dalam kamar tak menemukan pula namun terdengar suara orang yang sedang muntah didalam kamar mandi. Diki masuk kedalam dan terkejut saat melihat istrinya tengah jongkok di depan kloset sambil memuntahkan seluruh isi perutnya. Dipijat tengkuk Nara dan dia menoleh ke belakang, tersenyum pada suaminya lalu menyapanya. "Bang, sudah pulang." Tubuhnya serasa lemas, tak mampu bangkit dan sekedar berdiri,


Diki membopong tubuh istrinya karena terlihat begitu lemah kemudian dibaringkan di atas ranjang setelah itu, diperiksanya denyut nadinya. "Ra, kapan kamu terakhir mentruasi?" tanya Diki pada istrinya itu.

__ADS_1


"Satu minggu sebelum menikah dengan Abang," jawab Nara pada pada suaminya itu. Diki pun mulai berfikir ke arah sana. "Mungkin Nara sedang hamil." Diki seorang dokter spesialis jantung namun begitu ia juga tahu bahwa istrinya tengah mengandung.


"Sudah makan belum?" tanya Diki pada Nara menggeleng dan menjawab, "Belum Bang gak ingin makan apa-apa, Bang." Diki menatap Nara dengan rasa ibah. "Ok! kau ingin apa, akan kucarikan?" tanya Diki pada pada istrinya. Nara mengelengkan kepalanya. "Aku tak ingin apa-apa, Bang." jawabnya kepada suaminya. Diki menghelah nafas dan berkata, "Perutmu harus diisi sesuatu, Ra. Tidak boleh kosong begitu, jika tidak mau nasi bisa makan Roti, atau buah-buahan. Kalau perlu aku akan mencari makanan yang kau inginkan saat ini." Nara kembali menggeleng. "Lagi gak enak makan, Bang." Diki mengangguk dan keluar kamar menuju dapur di bukanya lemari pendingin mencari buah-buahan untuk di berikan kepada istrinya sebagai mengisi perutnya yang kosong. Dia menemukan pepaya, Apel dan stroberi lalu dikupasnya buah-buahan itu kemudian dipotong-potongnya dan ditaruh di dalam piring. Setelah itu, ia membuat teh hangat serta membawanya ke dalam kamar dan meletakan di atas nakas, ia duduk di bibir ranjang di samping Nara sedang berbaring lalu di bantunya untuk bangun dan bersandar pada bantal yang ditumpuk tinggi, tangan kanannya membawa segelas teh hangat untuk diberikan ke Nara. "Ra, minum teh hangat dulu lalu makan potongan buah ini untuk mengganjal perutmu, jangan sampai kosong, sepertinya kamu sedang hamil, Sayang. jadi kau harus mengisi perutmu untuk anak kita." katanya sambil menyodorkan gelas berisi teh hangat. Nara pun meminum teh tersebut. Lalu memberikan kembali gelas itu kepada suaminya. Diki menaruhya di atas meja lalu mengambil sepiring buah potong disuapkanya ke dalam mulut istrinya. Dia menyuapi dengan sangat telaten. Satu piring buah potong pun tandas. Ia tersenyum dan mencium bibir Nara sedikit agak lama. "Aku tunggal dulu ke dapur ya," katanya sambil mengambil piring dan gelas kotor untuk di bersihkan di sana. Setelah itu, ia kembali ke kamar dan menganti bajunya dengan piyama, setiap akan pulang Diki selalu mandi terlebih dahulu di rumah sakit, agar kuman-kuman tak terbawa pulang. Ia naik keranjang lalu berbaring di samping tubuh istrinya. Memeluknya dengan posesif dari belakang hingga ia tertidur. kedua suami istri itu pun terbuai di alam mimpi hingga adzan subuh membangunkannya kembali dan siap Menunaikan kewajiban untuk sholat subuh berjamaah.


__ADS_2