Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Sebuah Awal Yang Indah 2


__ADS_3

Setelah mengantar Aila di kamar Frans turun kebawah untuk membuat potongan buah agar perut Ai sedikit terisi makanan. Sampai di dapur bertemu dengan mama yang memotong buah, " Mau potongin buah buat Ai?" tanya Mama pada Frans.


"Iya, Ma." kata Frans.


"Ini sudah Mama, siapkan ada jahe hangat suruh Ai minum ini, Frans kalau feeling Mama sih, Ai itu hamil, coba kalau masih belum terlalu malam kamu ke apotik beli tespect, barang kali benar." kata Mama Rima pada Frans.


"Benar begitu, Mam tanda-tanda orang hamil?" tanya Frans pada Mama Rima.


"Apa selama ini Ai mendapatkan haidnya?" tanya Rima pada menantunya. Frans berfikir sebentar dan mengingat-ngingat, belum sepertinya Ma," jawab Frans sambil meringis.


"Ya sudah bawah kamar buah dan jahe hangatnya!" perintah Rima pada Frans


"Ya, Frans ke kamar dulu ya Ma, trimakasih." jawab Frans sambil berlalu di hadapan Mama Rima.


Tak lama kemudian Dia sampai di kamar, meletakan baki berisi sepiring buah dan segelas jahe hangat di atas nakas.


"Ai, minum ini dulu biar enak perut kamu ini tadi Mama yang bikin." pinta Frans.


Aila bangun dari tidur bersandar di sandaran ranjang lalu menerima segelas jahe hangat dari tangan Frans dan meminumnya kemudian menyerahkan kembali kepada suaminya. Frans meletakan gelas berisi jahe hangat di atas nakas dan mengambil sepiring buah iris lalu diberikan kepada Aila.


"Makanlah ini Ai, setidaknya perutmu tidak kosong, aku mau keluar sebentar ya." ijin Frans


"Mau kemana?" tanya Aila sambil menyuapkan potongan mangga di mulutnya.


"Ada perlu dengan Arif sebentar masalah kafe." katanya sambil mengecup kening Aila lalu keluar kamar dan menutup pintu dengan pelan.


Frans Menuruni tangga berjalan menuju garasi masuk kedalam mobilnya lalu menjalankan keluar garasi kemudian melewati pintu gerbang yang dibukakan oleh sekuriti.


Mobil itu berjalan membelah jalanan yang sepi. Hingga berhenti di apotik, Frans keluar dari mobilnya masuk ke dalam dan membeli beberapa macam tespect dengan merek yang berbeda.

__ADS_1


Setelah membayar, Frans keluar lalu masuk ke dalam mobilnya kemudian menjalankannya meninggalkan apotik melintasi sepinya malam ia pun langsung kembali ke rumah kediaman Raka.


Mobil kembali melewati pintu gerbang yang telah di bukakan sekuriti lalu berjalan masuk ke garasi, setelah itu Frans turun dan berjalan masuk ke dalam rumah menutup dan mengunci pintunya. Frans berjalan melewati beberapa ruangan lalu menaiki tangga menuju kamarnya.


Ceklek!


Pintu di buka, Frans masuk ke dalam ia tak menemukan istrinya. dia mencari di kamar mandi dan tak menemukan juga Kembali keluar kamar menuruni tangga menuju dapur, Frans tersenyum ketika menemukan istrinya ada di dapur di peluknya dari belakang dan bertanya, "Mau bikin apa sih?"


"Aku pingin makan mie kuah pedas." jawabnya.


"Duduklah, akan ku bikinkan untukmu, jangan terlalu pedas kasihan lambungmu.


"Kalau gak pedas gak enak Frans." jawab Aila sambil mengerucutkan bibirnya.


"Cabenya 2 saja ya Ai?"


Tak lama kemudian satu mangkok mie kuah pedas dengan toping ayam suir dan telor mata sapi pun jadi, Frans membawanya ke meja makan dan di letakan persis di depan Ai. Frans duduk di sebelah sebelah Aila sambil menatap istrinya makan dengan lahap.


"Enak?"


"Hem," jawabnya sambil mengunyah makanannya.


"Jangan sering makan makanan instan ya," kata Frans sambil membelai rambut Ai.


"Tidak, baru sekali Frans," jawab Ai.


"Ai, gak terasa ya Ai, kita menikah sudah 1 bulan 2 mingu ya."


"Masak sih Frans?" tanyanya sambil menatap Frans dan menghentikan makannya, lalu berfikir sejenak, "Frans aku belum haid sejak kita menikah." kata Aila sedikit berteriak. Frans terkekeh, "Itu yang ingin ku katakan Ai, aku sudah membeli tespect coba besok pagi ya Ai."

__ADS_1


Aila mengangguk sambil tersenyum.


...----------------...


Di tempat yang berbeda di kediaman Diki, setelah bulan madu di hotel selama 3 hari Diki memboyong ke rumahnya sendiri.


Di kamar di dalam satu selimut Diki memeluk istrinya yang terlihat lelah, "Ra, kau tak menyesal memutuskan tidak kuliah, kalau kamu ambil saja jurusan perawat di universitas swasta juga tidak apa-apa, aku yang akan membiayaimu, "katanya sambil tangannya tak bisa diam meraup sesuatu yang di sukai, sesekali terdengar lenguhan Nara yang berakhir dengan pukulan keras ke tangan Diki. Tersangkanya pun tertawa keras.


"Aku kemarin di trima di institut pertanian Bogor Bang, tapi aku gak mau pisah sama kamu itu sebabnya aku tidak ingin ambil kuliah sekarang mungkin tahun depan Bang aku gak mau salah langkah," katanya sambil memejamkan matanya.


"Salah langkah bagaimana?" tanya Diki sambil tanganya beraksi lagi.


"Ini kenapa tangan gak bisa diam, Nara gak bisa jelaskan terganggu sama tangan Abang," katanya manja.


"Ok! Jelaskan sekarang." katanya masih sambil memeluk.


"Suamiku ini adalah dokter bedah jantung, karirnya bagus, sering pergi seminar ke daerah lain, juga pria mapan ganteng dan matang apalagi omesnya bukan main kalau gak di jaga bisa bahaya, pelakor bertebaran di mana-mana bisa itu perawat, dokter atau mantan tiba-tiba datang, bukan gak percaya abang, tapi apa iya kalau ada seorang yang menggoda Abang terus gak kepancing sebelum tali pancingnya menjulur aku putusin saja."


"Oh, jadi begitu, sekarang dengarkan Abang, Abang ini bukan cowok yang mudah menyukai seorang wanita, jadi kamu gak usah kawatir dengan yang namanya apa tadi?"


"Pelakor Bang," jawab Nara sambil tertawa.


"Ya itu. Begini, Ra, Abang gak mau di salahkan atas keputusanmu, Nanti di kira Abang gak dukung pendidikan mu.


Abang sudah janji sama Daddy kalau kamu tetap akan kuliah setelah menikah dengan Abang maka menurut kamu pikirkan lagi keputusanmu, nanti kamu nyesel loh Ra kalau kamu jadi yang gak pinter sendiri, satu hal perlu kamu tahu Abang suka cewek pinter, kalau kamu gak pinter rasa suka Abang hilang 20% lalu ada cewek pinter ini ketemu Abang nah 20% bakal di tempati si dia."


"Ih, kok gitu sih bilangnya?" kata Nara marah.


"Abang cuma bilang menjaga suami tidak begitu Nara, kamu harus tahu kesukaan suami mu penuhi kesukaannya, begitu pula Abang, kamu suka di perlakukan bagaimana itu yang harus Abang cari tahu. Kalau sekali-kali ikut Abang seminar pas kamu libur kuliah Ayok, gak papa tapi kamu harus pinter, jangan bod*h Abang gak suka di tanya ini jawabnya itu bisa sebel Abang tahu. kalau mau di kuliah di negeri ya kamu harus nunggu 1 tahun lagi, jadi pikirkanlah. Satu kali lagi ya, Ra?"

__ADS_1


__ADS_2