
Masih memeluk Anin yang berdiri balkon menatap kota Jakarta dari atas balkon, walau Rafa begitu membelanya di hadapan Clara. Tetapi ia tak pernah menunjukan rasa cintanya padanya.
"Nin, jangan kamu diamkan aku dong, kalau aku gak cinta gak tiap malem aku tidurin kamu." kata Rafa sambil tangannya merayap di bagaian dada Anin.
"Apaan sih, Fa?"kata Anin sambil memukul-mukul tangan Rafa yang mulai nakal.
"Kalau aku gak cinta, aku gak akan memelukmu seperti ini, bermain ini, yang menjadi kesukaanku," katanya sambil tangannya terus bermain di dada istrinya dua jemari saling merem@s, membuat gelenyar aneh merayap di seluruh tubuhnya, tanpa sadar Anin mendes@h, tubuh terasa lemas, Rafa tersenyum menyeringai, tanpa menunggu lama ia mengangkat tubuh Anin menggendongnya dan membawanya keranjang.
Dibaringkan tubuh istrinya dan melepaskan semua yang melekat hingga tak tersisa sedikit pun.
Rafa pun melakukan hal yang sama lalu mengukung tubuh wanitanya dan mulai mencium dan mencumbuinya saling memberikan rasa yang ada dalam hati. Cinta, kasih sayang, hasrat dan rindu membaur menjadi satu.
...----------------...
Sementara itu di jalan sepanjang muda-mudi mengelilingi jalanan dengan motornya untuk mencari jajanan pasar yang di mintak Aila, malam sudah merayap begitu cepatnya, sedangkan yang di cari belum didapatkannya.
"Ai, semua itu adanya di pagi hari, kalau malam mana ada yang jual, "kata Frans sambil mengendarai motornya.
Sudah cari aja, ini kan untuk anakmu," kata Aila sambil menyangkutkan dagunya di pundak Frans.
"Ai, kita sudah putar-putar datangi beberapa pasar tradisional loh, Ai. Masak iya harus cari sampai pagi, makanan gatot itu susah carinya, Ai. Ada juga di Jawa tengah. Lah kita ada di mana coba."
"Masih segitu doang sudah mengeluh si, Wak," kata Aila sambil tertawa.
"Lo makin lama makin menyebalkan, Ai. Masak gue, lu panggil Wak." kata Frans tak trima.
__ADS_1
"Habis lo bawel amat sih." kata Aila tertawa.
"Bukan Bawel tapi memang kenyataannya susah carinya, Ai," kata Frans yang masih mengemudikan motornya, hingga menemukan gerobak yang bertuliskan jajanan tradisional, Frans memberhentikan motor tepat di depannya lalu bertanya, "Pak, ada gatot?"
Wah, maaf geh, Mas. Gatot sudah pulang, "jawab pedagang itu tanpa merasa bersalah. Frans menepuk keningnya lalu tertawa, diikuti oleh Aila yang ada di belakangnya.
"Maksud saya jajanan yang namanya gatot ituloh, Pak." jawab Frans.
"Oalah, Mas. Iya saya ngerti sekarang, masih ada dua mika, Mas. Lah tak kira sampean cari anakku yang namanya Gatot, maaf geh, Mas. Efek getuk belum laku ini," katanya sambil terkekeh.
"Kalau begitu saya ambil semua gatotnya sama sekalian dibungkuskan getuk juga ya, Pak, " pinta Frans pada pedagang itu.
"Dibungkuskan berapa?" tanyanya pada Frans.
"Tolong Bapak bungkuskan 20 ya, Pak," pinta Frans kembali.
Setelah selesai Frans membayar kemudian pergi meninggalkan pedagang itu. Motor berjalan ke pusat kota dan berhenti di Alon-alon kota Jakarta.
Dua porsi gatot dan getuk di keluarkan dari kantong plastik besar lalu sisanya ia berikan kepada pemuda yang sedang mangkal di situ. Aila duduk di kursi taman sambil memakan gatot cemilan tradisional yang dia inginkan dari tadi. Frans duduk di sebelah Aila sambil ikut menyomot makanan itu. Frans mengusap perut Ai sambil berkata, "Cuma pingin makanan ini aja kok sampai ngajak Bapaknya putar-putar, Nak." Aila tertawa dengan keluhan Frans.
"Ai, pulang yuk sudah malam," ajak Frans dan Aila pun mengangguk.
Frans naik motornya di ikuti oleh Aila yang duduk di belakangnya. Lalu menstater motornya dan menjalankan dengan kecepatan sedang. Aila merapatkan tubuhnya pada Frans dan memeluknya erat. Beberapa menit kemudian mereka sampai di kediaman Raka, Frans memasukan motornya ke garasi, lalu berjalan ke dalam kamar melewati beberapa ruangan dan menaiki tangga di mana kamar mereka berada.
Aila sudah masuk terlebih dahulu, berjalan ke dapur dan menyimpan makanannya di kulkas, lalu menaiki tangga menuju kamarnya di buka pintunya kemudian masuk kedalam, ia melihat Frans tengah tel@njang dada membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menatap Aila yang baru saja masuk, pipi chubby menjadi pandangan yang sangat menarik untuknya, di mata Frans, Aila lebih menarik dari pertama ia menikahinya, Aila melepaskan jaket dan bajunya kemudian mengambil baju tidur. Tiba-tiba sebuah tangan memeluk dari belakang, ya suaminya'lah yang melakukanya, tangan kanannya mengambil baju tidur dari tangan Aila, lalu membuangnya begitu saja di lantai. Ia mencium bahu yang polos sambil berbisik, "Begini saja tak perlu memakainya karena yang lainnya akan ku buka, aku menginginkanmu, Ai."
__ADS_1
Hembusan nafas Frans yang menerjang leher lalu gigit@n kecil membuatnya terhanyut, dan tak mampu menolak, dengan nafas yang terengah-engah, "Frans ...."
"Aku tahu, Ai. Aku akan pelan-pelan." katanya dengan suara serak menahan hasrat
Tiba-tiba tubuhnya sudah melayang di udara, Frans menggendongnya menuju peraduan terindah di malam ini, ia tak melepaskan tatapannya pada tubuh polos istrinya, di sana ia labuhkan hasrat terindah, meraih semua yang menjadi kesenangan, juga candunya terhadap tubuh istrinya, nyanyian merdu dari bibir sang istri membuatnya ingin mengila namun ia tahan karena ada buah hatinya dalam perut Aila.
Malam yang dingin tak mampu membendung hasrat yang semakin meninggi, meluapkannya dengan penuh kasih sayang hingga akhirnya saling memberikan kepuasan.
...----------------...
Di Amerika Serikat di Boston nampak Ratih menangis tak berhenti membuat Bara kebingungan. "Apa yang terjadi? katakan padaku! Rat. Jangan kau pendam sendiri! Apa ayah Haidar sakit?
Apa Vino baik-baik saja? Apa kita pulang di akhir liburan? Ayolah katakan padaku jangan membuatku semakin cemas padamu."
"Tolong jangan kau tanya dulu, Bang. Biarkan aku menangis dulu meluapkan kesedihanku." jawab Ratih tak berhenti menangis.
"Ok! Aku tunggu di sini sampai kau puas menangis. Setelah itu, ceritakan padaku," kata Bara yang sedang duduk di sofa kamarnya sambil bertopang dagu.
"Bang ...."
"Iya, apa kau sudah puas menangisnya?" tanya Bara dan Ratih mengangguk.
"Ke marilah, Bang. Aku ingin kau peluk sambil bercerita." kata Ratih sambil melambaikan tangannya ke Bara.
Bara melangkahkan kakinya menghampiri istrinya yang duduk di bibir ranjang, ia pun duduk lalu memeluk istrinya. "Katakan padaku apa yang terjadi?" tanya sambil terus mendekap istrinya.
__ADS_1
"Tadi waktu aku ingin menelpon ayah ada pesan dari tante Cinta, tante minta maaf padaku, ia mengatakan bahwa telah mendapatkan karmanya karena ingin berbuat buruk padaku." katanya pada Bara dan Ratih bercerita apa yang terjadi pada tante Cinta. Bara menghelah Nafas. "Maafkan dia sayang." Ratih mengangguk tersenyum.