
Siang dini hari, Nada dan Nantha pergi ke mall untuk sekedar refreshing, sekalian belanja bulanan kebutuhan rumah.
Seharusnya hari ini Nantha masih berada di kantor, namun karna ini sudah memasuki akhir pekan dan Nada sudah merengek pada Nantha dari semalam agar menemaninya pergi ke mall. Akhirnya Nantha pun menuruti permintaan istri tercintanya itu, serta tak lupa memakai baju couple yang sudah di siapkan Nada. Nantha yang melihatnya terheran-heran kapan istrinya itu menyiapkan baju tersebut. Alhasil Nantha pun hanya bisa pasrah, dari pada ia tidak dapat jatah. Wkwk
Sesampainya di mall, Nada kegirangan seperti orang yang tidak pernah masuk mall sebelumnya, karna memang sudah seminggu lebih Nada tidak masuk mall, tak lain tak bukan karna Nantha yang melarangnya untuk tidak banyak pergi keluar rumah, dengan alasan klise, agar Nada tidak kelelahan.
Sepanjang mereka masuk mall, hanya Nantha yang terlihat tidak menikmati kebersamaan mereka berdua. Nada yang menyadari hal itu langsung menodong suaminya dengan berbagai pertanyaan.
"Kamu kenapa sih dari tadi diem aja?"
"Kamu nggak seneng ya jalan sama aku?"
"Kamu udah bosen jalan sama aku?"
"Atau kamu udah ada temen jalan yang baru?"
"Oh pantesan kamu ngelarang aku keluar-keluar rumah, karna kamu sendiri udah ada yang lain, biar nggak ketauan ak---"
Cupppppp
Serangan mendadak dari Nantha membuat Nada terkejut bahkan hampir saja terjungkal jika Nantha tidak menahan badannya. Sontak saja hal itu mengundang perhatian publik, banyak orang di sekitarnya memotret adegan pasutri tersebut. Bahkan beberapa orang ada yang mengenal sosok CEO muda tampan tersebut.
Setelah menyadari mereka menjadi pusat perhatian, Nada langsung mendorong Nantha pelan, selanjutnya ia menundukan kepalanya, karna ia sangat malu dengan apa yang suaminya itu lakukan. Sedangkan Nantha tetap, stay cool, namun menyadari jika istrinya malu, ia lantas mengangkat dagu sang istri lembut.
"Sayang?" panggil Nantha.
"Pulang, Nant. Aku maluuu...hiks hiks" ujar Nada yang sudah menangis sambil memejamkan matanya.
"Loh sayang kok nangis, kita belum sempet liat-liat loh yang." ujar Nantha.
"Nggak mau, pokoknya pulang." kekeh Nada yang kembali menundukan kepalanya, lantaran ia tahu jika keduanya masih menjadi pusat perhatian.
"Sayang nggak usah malu. Mereka liatin kita ya itu urusan mereka." ujar Nantha.
"Ya tapi aku malu, mereka ada yang foto kejadian tadi. Kalo mereka nyebarin di sosmed gimana?" tanya Nada yang sudah sedikit tenang.
"Ya biarin aja. Toh kita suami istri ini." jawab Nantha sangat santai.
"Ihhh kamu mah.. Udah ah aku mau pulang."
"Sayang... heii, dengerin aku. Ada aku disini, aku yang akan lindungin dan ngejaga kamu, nggak akan ada yang berani nyenggol kamu sedikitpun. So, please don't worry." jelas Nantha, sedangkan Nada diam saja mencerna ucapan Nantha.
"Sayang..kita disini buat spending time, jadi kita harus have fun. Kasian dong junior udah seneng-seneng di ajak ke mall, eh malah di php in sama mommynya." ujar Nantha sedikit intermezo.
"Kita lanjut ya.."ucap Nantha memastikan, dibalas anggukan Nada.
Lalu keduanya pun berjalan dengan santai di tengah keramaian orang, lebih tepatnya Nantha dengan tak lupa merangkul sang istri yang masih terlihat risih dan malu di perhatikan beberapa orang.
Saat ini Devan sudah siap dengan setelan casualnya yang santai, lengkap dengan sneaker dari brand terkenal berlogo huruf "G" kembar.
Dengan gaya coolnya ia keluar darinkamar hotel dan segera menuju ke basement untuk mengambil mobil yang tadi sore di antar oleh orang suruhannya di kota ini.
Jarak tempuh dari hotel yang Devan tempati dengan apartemen Shena hanya hanya sekitar 20 menit. Bukan perkara sulit bagi Devan menemukan apartemen Shena.
Devan masuk ke dalam gedung dan segera naik lift menuju unit yang Shena tempati.
Sampai di depan unit Shena. Devan mengambil napas sejenak untuk menutupi rasa gugupnya. Naif jika ia tidak grogi bertemu dengan Shena, namun Devan pandai menutupinya dengan sikap dinginnya.
__ADS_1
Devan memencet bel pintu unit Shena. Pencetqn ke dua dibuka Shena, dan seperti biasa tatapan Shena terkesan tidak bersahabat.
"Kok belum siap-siap? Kan kita mau dinner." ujar Devan.
"Emang gue mau?" balas Shena ketus.
"Emang gue nerima penolakan?"
"Ganti baju or gue yang gantiin?" balas Devan tak mau kalah.
"Ba*st*rd!" umpat Shena yang kesal karna tingkah Devan
"Calm down, baby..." balas Devan.
Brakk
Shena menutup pintunya kembali, di sertai dengan bantingan yang sedikit keras.
Setelah berkutat kurang lebih 15 menit, akhirnya Shena keluar dengan setelan feminimnya memakai dress selutut tanpa lengan, serta rambut yang dibiarkan tergerai, make up tipis ia poleskan di wajah cantiknya.
Menyadari Shena membuka pintu, membuat Devan yang awalnya sibuk dengan handphonenya, mendongak dan terkesiap melihat pemandangan indah di depannya.
"So pretty.." gumam Devan
"Gue tau gue cantik. So, jangan lama-lama lo mandangin gue, ntar naksir lagi." ujar Shena.
"Kalo gue naksir, gue boleh dong macarin lo?" tanya Devan.
"No Way!" sergah Shena.
"Thank you.." balas Devan dengan senyuman mautnya.
"What?!" ujar Shena bingung, meski begitu ia tak begitu ambil pusing ucapan Devan.
Saat ini, Devan dan Shena baru saja keluar dari resto yang dekat dengan danau. Selesai dinner yang di lalui dengan tenang tanpa ada drama apapun, kini mereka berjalan menuju danau. Shena pun menurutinya tanpa banyak bicara.
"Udah berapa lama di New York?" tanya Devan memulai percakapan sambil berjalan
"Dari lulus kuliah." jawab Shena.
"Lumayan." ujar Devan.
"Hmmm.."
"Nggak pengen kerja di Indo aja?" tanya Devan.
"Pengen sih, tapi masih betah juga disini. Lagian juga masih banyak tanggung jawab." ujar Shena benar adanya.
"Is there a target for marriage?" tanya Devan sedikit berhati-hati, membuat Shena menoleh.
"Emmmm.. nggak tau, sedikasihnya aja sih." jawab Shena, kemudian mengalihkan pandangannya dari Devan.
"Kan udah di kasih barusan." ujar Devan sambil tersenyum tulus
"Maksudnya?" tanya Shena mengernyit bingung.
"Kan kita udah fix pacaran mulai hari ini." balas Devan santai.
__ADS_1
"Gila lo." sahut Shena.
"Once again, gue nggak nerima penolakan." ujar Devan tidak dapat di ganggu gugat
"Devan, lo jangan nyebelin deh." balas Shena.
"Gue serius, Shen.." ujar Devan mulai serius.
"Tapi-"
"Since the beginning of our second meeting." Devan memotong ucapan Shena.
"Awalnya gue memang sempet menolak rasa itu, tapi semakin gue menolak, rasa itu semakin besar." jelas Devan mengungkapkan perasaannya, namun membuat Shena belum bisa percaya, karna ia tahu terkadang Devan hanya bercanda.
"Shen..." panggil Devan berhenti sejenak dengan menggenggam tangan Shena.
"Udahan atau gue ketawain lo.." ujar Shena.
"Gue serius, Shen.." balas Devan.
"Kemarin juga pas di pesawat, lo ngomong mode serius gini, tau-tau juga cuma lawak." jelas Shena.
"Karna kemarin gue belum bener-bener siap buat ngomong kayak gini." balas Devan.
"Jadi ini..-"
"Gue sayang sama lo." ucap Devan yakin dan Shena pun tidak menemukan adanya kebohongan di mata Devan. Devan terlihat begitu tulus.
"Tapi gue nggak bisa Dev.." ujar Shena pelan.
Deg
Meskipun Devan seorang yang tidak bosa meneroma penolakan, namun ucapab Shena baru saja membuat ia takut. Yaa, Devan takut jika Shena benar-benar tidak bisa menerimanya.
"Why?" tanya Devan lembut.
"Gue takut.." ujar Shena tersendat.
"Gue belum siap ngejalin hubungan sama cowok, Dev." lanjutnya.
"Lo takut kalo gue bakal nyakitin lo?" tanya Devan.
"Gue nggak pernah seserius ini sebelumnya sama cewek. Gue nggak akan pernah nyakitin lo. Lo bisa pegang ucapan gue." lanjutnya menjelaskan.
"Dev..."
"Please.."
Assalamualaikum
Hello my dearest readers....π€π€π€
Maaf bangetttt ya udah lama nggak up. Seperti biasa, di real life lagi hectic banget, bahkan cuma buat buka NT aja bener-bener nggak sempet (sering kelupaan)π
So, once again I say so sorryyyy for this π₯Ίπ₯Ίπππ
Semoga setelah ini bisa lebih rajin up lagi (jika nggak terlalu sibuk)π
__ADS_1
Thanks buat kalian yang selalu sabar nunggu update an chapter cerita ini. Aku bisa lanjut ini juga karna support dari kalian... Makasiiii bangetttt, thank you so muchhhh...π₯Ίπ€
Love you, my readersπ€π€π€π€