
Bara mengantarkan Ratih pulang kerumahnya. Rumah tua nan besar itu masih terawat walaupun cat dindingnya sudah pudar di makan usia.
Motor Bara pun berhenti di halaman rumah yang luas. Ratih turun dari motor Bara, menunggu Bara memarkirkan motornya. Bara berjalan menghampiri Ratih," Ibu masih dinas di puskesmas Rat," tanya Bara pada Ratih.
Ratih menghelah nafas," Ibu sudah meninggal 1 bulan yang lalu Bar." katanya sambil membuka kunci pintu rumahnya.
"Inalillahi wainailaihi rojiun, Apa ayah mu sudah tahu kalau ibu mu sudah meninggal."
"Belum, Bar ibu melarang memberi tahu bahkan berpesan untuk menjaga surat sertifikat dan sawah peninggalan kakek agar tidak jatuh ke ayah ku. Masuk Bar silakan duduk." katanya ketika pintu telah terbuka Bara duduk di kursi kayu ruang tamu.
"Lalu apa yang akan kau lakukan Rat?"
"Aku tidak tahu Bar, andai aku minta pertolongan mu apa kau menolong ku?"
"Apa yang bisa aku bantu Rat?"
"Sebentar Bar," katanya sambil masuk kedalam tak lama kemudian membawa dua map berwarna biru.
"Bar aku minta tolong pada mu simpan lah sertifikat ini untuk ku, jika ayah ku datang aku tak akan sanggup mempertahankannya."
"Apa kau percaya padaku Rat?"
"Ya, aku lebih percaya pada mu ."
"Baiklah," kata Bara lalu menerima surat sertifikat itu dan di masukan di dalam tasnya.
"Ini akan ku bicarakan pada kakek ku, bagaimana sebaiknya."
"Trimakasih Bar, oh ya akan ku buat kan teh untuk mu."
"Tidak usah, bukan kah tadi aku sudah minum banyak di depot itu sambil menunggu mu sarapan," katanya sambil terkekeh.
"Ini uang rempeyek yang rusak tadi ku beli semua," katanya sambil memberikan lima lembar uang ratusan ribu.
"Ini terlalu banyak Bar," katanya sambil meletakan 400 rb di meja.
"Anggap saja aku memberikan modal untuk membuat rempeyek pesanan om ku."
"Jangan Bar kau sudah banyak membantuku," katanya sungkan.
"Baiklah, aku juga tidak mau menyimpan surat berharga mu ini," katanya sambil membuka tasnya.
"Baik lah akan ku trima." katanya sambil mengambil uang yang ada di meja.
Bara tersenyum dan menutup kembali tasnya.
"Rat, mana hp mu, kau harus menyimpan nomerku jika ada apa-apa kau harus segera telpon aku." katanya sambil mengadakan tangan meminta hp Ratih, Ratih memberikan hpnya pada Bara, Bara mengetik nomernya di hp Ratih lalu melakukan panggilan pada hpnya.
"Sudah tersimpan."
"Jadi kau hanya tinggal dengan Vino sekarang?"
"Iya, hanya dengan Vino."
"Kelas berapa ya sekarang?"
"Sekarang kelas 8 mau naik kelas 9,"
__ADS_1
"Wah sudah besar ya."
"Iya," kata Ratih terseyum.
"Ya sudah aku pulang dulu, kalau ada waktu deh aku main ke sini. Boleh bawa cewek?" tanyanya.
Ratih mengangguk dengan senyum yang di paksakan.
"Baiklah, selamat bekerja ya," kata sambil berjalan keluar rumah.
Ratih mengantarkan hingga ke pintu menunggu motor Bara berjalan meninggalkan halaman rumahnya.
Ratih menghembuskan nafas, 'Jangan terlalu berharap dia sudah punya kekasih, dia terlalu tinggi untuk Rat,' gumamnya dalam hati.
Ratih pun mengambil sepedanya mengeluarkan dari rumahnya lalu mengunci pintu rumahnya dan mulai mengayuh sepedanya menuju ke pasar untuk belanja bahan dagangan esok hari.
...----------------...
Sementara itu Bara sudah sampai di rumah, Ia pun masuk kedalam rumah dengan menenteng kantung plastik berisi rempeyek dan ditaruhnya di meja.
"Bik, ini ada rempeyek, tadi Bara nabrak orang, orangnya jatuh rempeyeknya rusak."
Bik Darsih datang menghampiri tuan mudanya," Lah terus den Bara gak kenapa-kenapa?" tanya bik Darsih sambil membuka bungkusan plastik tersebut.
Bara terkekeh," Kok yang di tanya Bara sih bik, kalau saya gak kenapa-kenapa, malah kasihan rempenyeknya sampai hancur begitu."
Bik Darsih terkekeh," kok malah kasihan rempenyeknya Den kalau rempeyek hancur masih bisa di makan, kalau yang jualan rugi yang kasian orangnya."
"Pinter deh bik Darsih." kata Bara tertawa
"Ini masih ada beberapa yang masih utuh Den."
"Baik lah den."
Bara menaiki tangga menuju kamarnya hatinya berbunga-bunga.
"Kau kira aku benar-benar bawa cewek apa Rat? padahal yang mau ku bawa adalah Karena."gumamnya dalam hati
"Ah, jadi pingin segera tahu reaksinya."
****
Di kediaman Ratih
Setelah Ratih mendapatkan bahan-bahannya ia mulai membuat adonannya lalu mencetaknya dalam wajan.
Ia akan berhenti ketika waktu sholat dan memulai lagi setelah selesai sholat melanjutkan pekerjaannya.
jam sudah menunjukkan jam 4 sore, baru terdengar salam sang adik dari luar rumah, setelah mendapatkan jawaban baru terdengar suara langkah kaki masuk dan langsung menuju dapur, sang adik mengambil gelas dan mengisinya dengan air dari teko lalu meminumnya sambil duduk di sebelah kakaknya.
"Kok baru pulang?"
"Iya ada tugas dari sekolah yang harus di kerjakan kak. widih dapat pesan ni?"
"Iya kita akan dapat pesanan setiap hari 400 bungkus, bantu kakak ya nanti."
"Ok, beres kak!"
__ADS_1
"Sudah ganti baju dulu sana, habis itu bantu kakak untuk bungkus rempeyek ini di plastik, kalau belum sholat, sholat dulu sana."
"Iya, kak."
****
Di kediaman Angga.
Mobil berhenti di halaman rumah, pintu mobil terbuka, keluarlah gadis kecil berseragam sekolah dasar dan seorang pria parubaya berjalan memasuki rumahnya.
Dengan langkah ceria gadis itu berjalan sambil sesekali berlari menuju ruang makan dan langsung duduk di kursi meja makan," Wou ada rempeyek banyak amat, siapa yang beli?" kata sambil membuka toples isi rempeyek.
Tangan Bara tiba-tiba menyentil tangan adiknya," Cuci tangan sana, dan ganti baju dulu!" perintahnya pada adiknya.
Bara mencium punggung tangan ayahnya ketika Angga sudah berada di ruang makan.
"Bunda belum pulang?"
"Belum Yah, mungkin sebentar lagi."
"Siapa yang borong rempeyek ini, bik?"
"Den Bara tuan."
"Oo, kok banyak sekali Bar?"
"Punya orang yang Bara tabrak tadi Yah."
"Ooh, makanya lama, pasti tadi urusan ini ya?"
"Iya yah."
"Orangnya gak apa-apa?"
"Enggak, baik-baik saja Yah."
"Cewek?"
"Iya." jawab Bara tersenyum canggung.
Angga tertawa," Cantik?"
Bara terkekeh sambil mengangguk.
Karena yang sudah berganti baju pun berlari dan duduk di samping ayahnya," Ayah dan bang Bara curang, masak ayah belum ganti baju makan rempeyek gak apa-apa, kalau Karen di marahi," katanya sambil merogoh toples dan mengambil 2 bungkus.
"Lah kalau Ayah mana berani abang, Ren." katanya sambil terkekeh.
Karena tertawa, "Ayah curang."
"Lah ayah sudah cuci tangan tadi," katanya terkekeh.
Terdengar salam dari luar dan mereka menjawab dengan serempak.
Rika sampai di ruang makan," Ada cerita apa kayaknya seru ni?" katanya sambil duduk di samping Angga.
Bara dan Rena berebut mencium punggung tangan bundanya.
__ADS_1
Terimakasih telah membaca dan jangan lupa tinggalkan jejak like dan koment agar semangat update. sehat selalu untuk anda semuanya.