Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Hari Bahagia Nara


__ADS_3

Waktu berjalan dengan cepat empat hari telah terlewati.


Rumah kediaman Ammar sudah di hias demikian rupa. Hari ini adalah hari bahagia untuk Nara. Awalnya keluarga ingin di adakan di hotel tapi Diki menolak, ia tak ingin acara yang terlalu mewah.


Pukul 8.00 Rombongan pihak pria datang dengan membawa hantaran, mereka di persilakan masuk ketempat acara.


Tubuh yang berbalut busana pengantin kebaya berwarna putih dengan hiasan payet di padu rok berbahan jarik sido mukti, rambut yang di sanggul modern dengan juntaian rambut di kanan kirinya dan riasan natural semakin menonjol kan kecantikannya.


Azizah menuntun putrinya untuk keluar, Acara di mulai dengan pinangan dari keluarga


keduanya duduk saling berhadapan Acara lamaran pun di buka oleh Yudi selaku kakak mempelai laki-laki.


"Assalamualaikum, hari ini kedatangan kami dengan niat baik mengantarkan Adik kami Diki Pramuda Pasya untuk meminang Putri Bapak Ammar Raditsha Dintara yang bernama Nara Sabrina Dintara supaya lebih yakin di mohon yang bersangkutan adik saya Diki untuk mengutarakan maksud dan tujuannya, silakan dek.


"Assalamualaikum, "Saya Diki Pramuda Pasya datang kesini untuk meminang. Nara Sabrina Dintara bersediakah kau menikah dengan ku hari ini juga."


"Saya Nara Sabrina Dintara menerima pinangan Anda dan Bersedia menikah dengan Anda Diki Pramuda Pasya sekarang juga.


Acara akan kami lanjutkan dengan akad Nikah.


Semua telah berkumpul akad nikah akan segera di laksanakan dengan mas kawin uang sebesar 20jt.


Pernikahan dilakukan oleh Ammar sebagai wali nikah dari Nara Sabrina Dintara.


Diki Pramuda Pasya menjabat tangan Ammar Raditsha Dintara sambil mengucapkan akad," Aku nikahkan engkau Diki Pramuda Pasya bin Wildan Kusama Pasya almarhum dengan Nara Sabrina Dintara binti Ammar Raditsha Dintara dengan mas kawin uang tunai 20 juta di bayar tunai."


"Saya trima nikahnya dan kawin Nara Sabrina Dintara binti Ammar Raditsha Dintara dengan mas kawinnya yang tersebut di bayar tunai," akad di ucapkan dengan lantang Oleh Diki


Kata Sah terdengar di ucapkan oleh mereka yang hadir di akad itu.


Nara di gandeng oleh ibu untuk duduk di dekat Dika untuk menyelesaikan rangkaian akad.


Diki memutar posisi duduknya menghadap Nara di meletakan telapak tangannya di atas ubun-ubun Naira membacakan doa buat sang istri lalu mencium keningnya kemudian Nara mencium punggung tangan Diki lalu mereka menandatangani surat nikah.


Mereka pun diarak untuk duduk di pelaminan. Para pengunjung di persilakan untuk menikmati hidangan yang tersaji di meja prasmanan.


Banyak kolega yang dari Ammar yang datang, teman-teman Diki semasa SMA dan semasa kuliah.


Setelah selesai pesta Diki dan Nara diantar ke hotel, di sana sudah di sediakan paket bulan madu untuk mereka selama 3 hari.


Diki dan Nara pun keluar dari mobil dan berjalan melewati lobby masuk ke lift.

__ADS_1


lift berjalan menuju lantai lima, setelah di lantai 5 lift terbuka mereka pun keluar dan berjalan menuju kamar hotel bersama, mengandeng tangan.


"Bang, mama kok gak bawain baju buat kita ya?"


"Lah kamu gak nanya mama?


"Enggak Bang, kita tadi kan langsung di paksa masuk ke mobil."


"Apa boleh buat Ra, kita lihat nanti."


"Kok, lihat nanti sih bang?"


" Emang kamu mau di lihat sekarang?"


"Eh? kok larinya ke situ sih bang."


Diki terkekeh," Sini, lebih dekat sama abang."


Diki menempelkan Card lock ke pintu lalu membuka pintu, setelah terbuka mereka masuk kedalam lalu mengunci pintu itu.


Diki berjalan ke sofa menghempaskan pantatnya ke sofa dan menyandarkan bahu di sandaran kursi.


Diki menoleh melihat ke arah Nara, ia mengeryitkan keningnya," Kenapa kamu? muka jelek amat seperti ketemu hantu."


Diki bangkit dari duduk, berjalan ke arah Nara, tiba-tiba pintu lemari dengan cepat ditutup ketika Diki sudah hampir dekat.


"Kenapa di tutup? tanya Diki dengan tatapan penuh tanya.


"Coba lihat sini apa yang membuat membuat mu ketakutan."


"Jangan di buka bang!"


Semakin membuat penasaran Diki hingga dengan keras ia menarik gagang pintu yang berusaha ditekan Nara agar tidak terbuka namun karena tarikan yang keras membuat lemari itu terbuka.


Saat itu juga Diki melihat isi dari lemari itu, ia menyipitkan mata lalu menatap Nara setelah itu tertawa.


"Sudah gak papa dari pada gak pakai, tapi kalau gak mau ya gak papa, aku malah senang." katanya masih terus tertawa sementara itu Nara cemberut tanpa mau melihat Diki.


"Mama the best deh, I love yo mam."


"Bang Nara gak mau pakai baju itu."

__ADS_1


"Kalau gak mau ya sudah Nara, gak usa pakai."


"Kok gitu sih bang."


Tanpa di sadari Nara, Diki menarik gesper yang ada di belakang gaunnya alhasil gaun itu pun merosot turun, segera dengan panik Nara memegang baju bagaian dadanya.


"Mandi Ra, atau aku ... ."


"Iya bang, Nara mandi," kata Nara sambil berlari ke kamar mandi.


Terdengar suara gemericik air di kamar mandi, hingga tak lama kemudian suaranya berhenti namun Nara tak kunjung keluar dari dalam kamar mandi.


Kembali ia mengeryitkan dahinya. Lalu teringat gadis itu tak membawa apa-apa saat masuk kamar mandi.


Dika tersenyum smir, ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke lemari pakaian. di ambilnya handuk dan lingerie, ia kembali berjalan ke kamar mandi lalu diketuknya pintu kamar mandi, " Ra ini handuk mu dan baju mu jangan lama gue juga belum mandi." Pintu terbuka sedikit, tangannya terulur sambil mencari-cari handuk dan baju yang di janjikan Diki.


Diki menggodanya dengan menjauhkannya," Bang mana?"


Diki malah mengelus tangan Nara membuatnya berteriak," Bang?"


Diki terkekeh lalu menaruh di jemari tangannya. Nara menarik tangannya ke dalam lalu di tutupnya pintu kamar mandi.


"Kemarin aja nantangi gue, sekarang giliran halal lo takut."


Menunggu beberapa saat Nara belum juga keluar. "Ra cepat keluar abang belum mandi."


" Nara gak bisa bang keluar pakai baju gini. "


"Sudah keluar saja abang gak akan lihat."


Benar ya bang?"


"Iya, cepat!"


Nara pun membuka pintu kamar mandi


terlihat Diki berdiri membelakangi pintu, Nara melewati Diki dengan langkah pelan, namun ia terkejut saat tangannya di tarik dengan cepat, tangan kiri Diki menggamit pinggang lalu memeluk erat dan melepaskan cengkramannya dari tangan Nara.


Tatapannya menyapu seluruh tubuh Nara, sambil ujung jarinya menyentuh wajah turun perlahan ke leher terus kebawa menyusuri tubuh Nara hingga ia lupa bernafas, "Abang minta hak abang sekarang Ra, pakai mukena dan tunggu abang," kata Diki sambil melepaskan pelukannya dan masuk kedalam kamar mandi.


Trimakasih telah berkunjung dan membaca karya saya, dukungan anda sangat berarti buat saya, selalu dukung saya dengan memberi Like dan koment agar lebih semangat lagi untuk update dan sehat selalu serta di berikan kelancaran rizki bagi anda semua.

__ADS_1


__ADS_2