Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Ngidam


__ADS_3

Bara hanya melihat sambil tersenyum ketika sang istri memakan banyak cemilan walaupun begitu dia tidak membiarkan istrinya memakan.makanan yang tak sehat, Setiap hari sepulang kuliah ia selalu membeli makanan jenis apapun agar bisa ada yang dimakan saat istrinya merasa lapar.


Di Indonesia di pagi harinya badan Nara terasa lemas tak bertenaga, kepala berdenyut tak mampu bangun dari ranjangnya.


Diki, menghampiri istrinya yang masih berbaring di atas tempat tidurnya. Ditempelkannya punggung tangan di dahi istrinya, sedikit hangat lalu ia segera menelpon orang tua Nara, belum juga tersambung tiba-tiba Diki melihat Nara bangun dari ranjangnya dan berlari ke kamar mandi, dengan sangat terkejut, ia pun menaruh begitu saja handphone-nya dan berlari menyusul istrinya, Nara memuntahkan seluruh isi perutnya tidak terkecuali makanan yang di makannya tadi malam. Diki memijat tengkuk Nara. Setelahnya itu ia pun lemas. Ia pun menggendong istrinya dan di baringkan di atas ranjang.


Handphone Diki berdering, ia pun mengambilnya dan menerima panggilan dari mertuanya.


"Assalamualaikum, Mam. Nara sakit Mam, apa bisa Mama kesini untuk menemani Nara? Saya ada Operasi hari ini, Mam," kata Diki pada Mama Azizah.


"Wa'alaikumsalam, Iya mama akan ke sana," kata Azizah kepada Diki menantunya.


"Baik, Diki tunggu ya, Mam. Assalamualaikum." Ia pun mengakhiri panggilan. Lalu ia kembali menghampiri Nara istrinya, lalu memeriksa keningnya.


"Sayang, sebentar Abang buatkan jahe hangat," katanya lalu keluar dari kamar dan pergi ke dapur lalu kembali lagi dengan jahe hangat, dan satu piring buah potong, kemudian ditaruhnya di atas meja. "Sayang, Abang ke apotik dulu, tolong urinmu ditampung di sini nanti ya, Ra," kata Diki sambil meninggalkan Nara, beberapa langkah ia menoleh lalu mengingatkan istrinya kembali,"Ra, makan buahnya, Abang tinggal sebentar." Ia pun melanjutkan langkahnya dan keluar dari rumahnya mengendarai motornya.


Diki sampai di apotik membeli tespect lalu kembali pulang. Sesampainya di rumah ia pun langsung ke kamar menemui Nara, sambil berjalan mendekati istrinya. "Sudah ditampung urinnya?" tanya Diki

__ADS_1


"Sudah, Bang. Ada di kamar mandi." jawab Nara


Diki pun pergi ke kamar mandi dengan membawa tespect. Tak lama kemudian dia keluar dicium kening istrinya. "Trimakasih, Sayang. Kamu saat ini sedang hamil, cobalah makan sesuatu, ya. Mama nanti keseni untuk menemanimu." Nara mengangguk, dia sangat bahagia, akan ada yang hidup di dalam tubuhnya.


Terdengar ketukan pintu dan salam, mereka menjawab bersamaan. Diki keluar menuju ke pintu lalu membukakanya, nampak Azizah di depan dengan menenteng rantang, Diki mencium punggung tangan Azizah. "Ma, saya langsung berangkat, ada operasi jam sembilan pagi." Azizah pun menjawab, "Ya, berangkatlah biar mama yang jaga." Diki mengangguk dan mengucapkan salam lalu keluar dengan mobilnya.


Izah, menaruh rantangnya ke atas meja


lalu ia masuk kedalam kamar Nara, masuk dan melangkah mendekati Anaknya itu, di belainya pipi putrinya. Nara membuka matanya terlihat mamanya duduk di sampingnya. "Mama, dari tadi datangnya." Izah tersenyum dan berkata, "Baru saja, Ra.


Mama bawakan bubur kacang hijau, mau yah?" Nara mengelengkan kepala, Nara gak bisa makan apa-apa ini tadi makan buah Ma, Abang yang siapkan tadi," katanya pada Mamanya.


"Baiklah, Ma, jawab Nara. Izah keluar kamar menuju meja di mana ia meletakan rantang yang di bawanya tadi lalu membuka Rantan itu dan mengambil bubur dan di taruh di mangkuk kecil kemudian ia kembali ke dalam kamar, menyuapinya dengan sangat telaten dan Nara pun bisa memakannya tanpa merasa mual.


"Ma, kok gak mual sih Ma, tadi Nara mual loh, Mah," kata Nara pada Mamanya.


"Mau tambah? Kalau mau tambah akan mama ambilkan," kata Izah pada anakya.

__ADS_1


"Boleh, kapan lagi Nara bisa manja-manja sama mama, kalau pas gak gini," kata Nara pada Mamanya.


"Ya, sekarang ada suami, Ra. Kamu bisa manja-manja sama Diki," kata Izah pada Nara sambil keluar lagi mengambil bubur dan kembali lagi membawa mangkok penuh dengan bubur di berikan kepada putrinya. "Nih makan sendiri buburnya, jangan manja," kata Izah sambil menasehati putrinya.


Nara makan dengan lahap setelah itu ia taruh mangkuknya di atas nakas.


Mana obatnya, Ra?" tanya Izah.


"Ngak ada Mam, sebenarnya Nara gak sakit, cuma dari kemarin sore dan pagi ini, Nara merasa mual saja makanan yang di makan Nara tadi malam keluar semua." kata Nara menjelaskan.


"Jangan-jangan kamu hamil, Ra? tanya Izah pada putrinya. Nara mengangguk dan seketika Izah mencium pipi putrinya itu. "Senangnya mama akan punya dua cucu,kakak iparmu juga sedang hamil tapi yang mengalami morning sicknes adalah kakak mu Rafa, " kata Izah pada Nara.


Nara terkekeh mendengar penjelasan mamanya. "Itu anaknya bang Rafa lagi punya misi balas dendam pada bapaknya karena selama ini kan bang Rafa itu judes banget sama kak Anin."


Izah tertawa karena kelakar Nara tentang kakaknya itu. "Mungkin iya, ya Ra. Abangmu itu, sekarang malah lebih manja pada sama kakak ipar kamu gak bisa di tinggal ke mana-mana selalu ngintilin kakak iparmu itu. Keadaannya lebih parah dari kamu dalam segi manjanya," timpal Izah sambil tertawa.


"Untung yang morning sicknes ini Nara yang mengalaminya, bukan bang Diki, kasihan pasiennya nanti kalau bang Diki yang ngalamin morning sicknes apalagi papanya kan kerjaannya nolong orang, anakku ini tipe anak yang ngerti tanggung jawabnya papanya," kata Nara pada mamanya sambil tersenyum.

__ADS_1


Saat ini Nara merasakan lebih baik dari yang tadi, rasa mualnya sudah berangsur-angsur menghilangkan, ia menatap mama sambil berucap, "Ma, trimakasih ya, sudah mau jenguk Nara, jagain Nara saat sakit, dan bawain makanan untuk Nara, kirain kalau Nara sudah menikah Mama gak mau lagi, jenguk Nara dan ngurusin Nara lagi." Izah pun sepontan menjitak kepala Nara. "Sakit, Ma. Rara ini sakit loh, Ma. Kenapa malah dijitak?" Izah menatap tajam putrinya. "Yang namanya orang tua itu, Ra. Walaupun kau sudah menikah kamu tetap anak Mama, tidak merubah itu semua. Kalau anaknya sakit pasti orang tua tetap memikirkannya. Jadi jangan pernah berfikir yang macam-macam!" Nara tertawa. "Maaf, Mama. Habis Mama gak pernah kunjungi Nara." Azizah menghelah nafas. "Bagaimana mau mengunjungi kamu? Kalau kamu sendiri saja ngintilin suamimu, gak pernah ada di rumah, ikut aja suami pergi kerja." Nara tertawa. "Di sana Nara banyak fansnya, Ma. Adik-adik kecil itu minta Nara bernyanyi. Ya bagaimana lagi mereka selalu mencariku." Izah hanya tersenyum dan membelai rambut putrinya dengan lembut.


__ADS_2