
Sementara itu, di kamar perawatan kakek Amran dan istrinya itu mulai gusar menanti cucu serta cucu menantunya itu kembali di kamar mereka. Alih-alih ingin menjenguk malah di tinggal pergi oleh mereka. Raya tertawa melihat pasangan suami-istri yang tak lagi muda itu. "Mereka pacaran, Yah, Bu." Amran tersenyum dengan mata berbinar. "Biarkan saja aku bahagia, Ray. Frans sudah bisa mencintai Aila, hutang budiku pada tuan Raka terbayar lunas dengan cinta Frans pada Aila.
Frans menatap Aila kembali. "Kau percaya, 'kan, Ai? Kalau aku sudah sangat mencintaimu dan itu sejak kecil saat kau menolongku pada saat itu," katanya pada Aila.
"Bagaimana dengan Naya, kamu tertarik padannya bukan?" kata Aila mulai sedikit cemburu pada Naya.
"Naya adalah ketertarikan sesaat, mungkin itu ku ingin 'kan ada juga pada dirimu, Ai," jawab Frans.
"Lalu bagaimana jika suatu saat nanti itu terjadi padamu Frans? kau tertarik dengan Naya lainnya," tanya Aila pada Frans. "Itu tak akan terjadi pada diriku lagi, Ai. Karena semua keindahan ada dirimu, Ra. Tak akan ada lagi yang bisa menyentuh hatiku selain dirimu, Ayolah Ai, jangan seperti ini. Aku jadi ingin mengurungmu. Sayangnya harus menunggu 37 hari lagi." kata Frans sambil terkekeh.
"Apa, kau menghitungnya Frans?" tanya Aila sambil melebarkan matanya menatap tajam Frans.
"Apa boleh buat Ai, aku selalu merindukanmu setiap detik, menit, jam dan hari, kupendam kerinduan ini sampai saatnya akan ku tumpahkan padamu, Ai," katanya sambil terkekeh.
"Dasar mesum! sairmu pun berujung dengan itu," kata Ai sambil menyembunyikan rona merah di wajah dengan membuang mukanya ke arah lain.
Frans tertawa Ayo kita kembali ke kamar nanti Kakek dan Nenek mencari, aku antar 'kan dulu kamu baru aku ke musholah" katanya sambil mendorong kursi roda ke dalam ruang rawat Aila.
Setelah sampai di depan yang terbuka mereka pun masuk sambil mengucap salam dan mereka menjawab.
__ADS_1
"Darimana saja kamu? Kami menunggu sampai mau ketiduran," kata Raya.
Frans tertawa. "Habis dari taman Ai bosan di kamar, tante jangan pulang dulu temani Aila. Aku, kakek, dan Nenek mau sholat dulu ke Mushola."
"Ya, akan ku jaga Aila, pergilah kalian laksanakan dulu tugas kalian," katanya sambil menggerakan tangannya memberi kode agar segera pergi. Mereka pun pergi ke mushola rumah sakit untuk menunaikan ibadah sholat ashar, setelah selesai mereka pun kembali keruangan.
Kakek Imran menghampiri Aila yang berbaring di ranjang. ia berdiri sambil meraih tangan Aila dan mengenggam jemari tangan cucu menantunya. "Nak, maafkan cucuku yang bodoh ini, Aku tahu kamu masih meragukan cinta Frans, tapi percayalah perasaannya hanya untukmu, dan kakek ingin kalian saling menjaga cinta kalian agar tidak terkikis apapun, andai badai menerjang rumah tangga kalian maka saling berpeganganlah dan saling menguatkan agar rumah tangga utuh, Frans jangan pernah ada kata cerai di bibirmu, apa pun yang terjadi," kata kakek Imran menasehati mereka.
"Iya, kek akan ku ingat semua pesan kakek pada kami." Frans berjanji pada kakeknya itu.
Setelah memberi petua kepada mereka berdua Imran dan istrinya keluar dari ruang rawat Aila untuk pulang kerumahnya dengan di antar Raya.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai mobil pun berhenti Raya mencium jemari tangan kedua mertuanya itu. " Ayah, ibu Raya langsung balik yaa?" ijin Raya.
Mereka pun mengangguk lalu keluar dan berjalan menuju kediamannya. Raya kembali melajukan mobilnya membela jalanan menuju rumahnya sendiri.
Di rumah sakit Frans memeluk istrinya seolah tak ingin kehilangannya. " Kamu mau makan apa, sayang?" tanyanya pada istrinya. "Ada yang jualan pepes ikan gabus enggak yaa? katanya ikan gabus bagus untuk proses penyembuhan luka operasi," kata Aila pada Frans.
"Iya, sih adanya besok, pesan ke Nenek," kekeh Frans.
__ADS_1
"Kok pesan ke Nenek, bakal repot nanti dia, Frans. Nenek bakal nyuruh kakek belanja di pasar," kekeh Aila
"Kamu lupa kolam yang belakang rumah Kakek, itu ikan gabus," kata Frans.
"Iyakah?" tanya Aila sambil menoleh ke meja yang letaknya berdekatan dengan sofa seolah ingat bahwa neneknya tadi membawa sesuatu dan benar saja di atas sana dua rantang piknik. "Itu apa Frans? sepertinya Nenek tadi membawanya?" tanya Ai.
Frans menoleh ke arah meja lalu berjalan kesana kemudian meraih rantang piknik itu. Setelah itu, dia membuka kedua Rantang piknik tersebut. "Ada nasi dan lauk gulai ikan gabus, sepertinya ini tidak pedas karena di sini ada sambal, mau?" katanya menoleh pada Aila.
"Mau dong, Frans. Ahh, Nenek aku sangat mencintaimu, kau selalu saja tahu apa yang ku inginkan," kata Aila tersenyum lebar dan berbinar. Dia bangun perlahan dan berjalan menuju sofa dan duduk di samping Frans, "Mau makan sendiri atau di suapi, Nenek juga bawa piring rotan dan kertas bungkus, lihatlah ini," kata Frans sambil menunjukan pada Aila pada bungkusan plastik yang ada di sebelah kedua rantang itu. "Aku ingin makan sendiri Frans rasanya lebih nikmat pakai tangan dengan dituang kuah sedikit di atas nasi," katanya sambil menelan salivanya karena tergiur makanan dibawa Nenek Surti. Frans terkekeh melihat expresi wajah istrinya. Dia mengambilkan nasi dan lauk di atas piring rotan yang dialasi dengan kertas minyak lalu memberikannya pada Aila, Dia menerima dan langsung memakannya.
Frans pun ikut menemaninya makan.
Beberapa kali Frans menabahkan ikan di atas piring Aila, dan istrinya itu makan dengan lahapnya. "Ini istriku lapar, atau lapar sekali yaa?" Aila tertawa. "Habis masakan Nenek itu enak sekali, Frans."
"Iyakah? kalau begitu aku akan bilang Kakek untuk membuatkan Pepes ikan gabus besok, kata dokter juga kamu besok sudah boleh pulang, tapi putra kita belum, Sayang. Dan harus dirawat di sini sampai satu minggu ke depan. Tiba-tiba Aila merasa sedih, bagaimana tidak kalau ia sendiri yang harus pulang sementara anaknya masih di sini, baru saja hari ini ia bisa menengok anaknya dan besok harus jauh dengan anaknya karena sudah di ijinkan pulang.
"Frans apa kau tidak bisa bilang pada Pak Danu, untuk membiarkanku di sini beberapa hari, sambil menunggui anakku?" kata Aila sedih.
"Baiklah tapi tidak bisa sekarang, Ai. Karena sepertinya handphone Pak Danu tidak aktif," jelas Frans
__ADS_1
Aila menarik nafas panjang. 'kenapa di saat yang genting begin justru Pak Danu tidak bisa di hubungi?' pikirnya.