Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Telpon dari Boston


__ADS_3

Setelah tidur sebentar membuatnya lebih segar, dilihat jam 11.30 sudah mendekati waktu duhur, ia berjalan ke dapur terlihat nenek sedang membuat masakan, ia tidak pernah berada di dapur semuanya dilakukan oleh maminya dan asisten rumah tangganya.


Dia tidak mengenal bumbu dapur sama sekali. Ailah berjalan mendekati Nenek yang sedang mengukus masakan entah masakan apa, tenaganya begitu kuat padahal usianya pun 68 tahun tapi beliaunya itu begitu energik.


"Nenek masak apa?" tanya Aila pada wanita sepuh itu.


"Hai, kenapa ke sini cah ayu? tanya Nenek pada Aila dan ia pun tertawa. "Lihat nenek masak, maaf yaa Nek. Ai, gak bisa masak." Nenek terkekeh mendengarnya. "Gak apa-apa, Cu."


"Ai pigin bisa belajar masak dari Nenek, masakannya enak sekali."sahut Aila


"Nanti kalau kamu sudah sembuh benar yaa Cu," katanya sambil tersenyum.


"Nenek masak pepes ikan lagi? Wah, enak itu Nek," saut Aila dengan mata berbinar.


"Sudah sana lihat anakmu apa sudah bangun sepertinya tadi tidur lagi," kata pada Aila


"Yaa, Nek. Ai tinggal dulu yaa, mau lihat Yhas," pamitnya pada Nenek lalu ia berjalan menuju putranya.


Frans baru saja menidurkan putranya.


"Tidur dia?" tanyanya pada Frans dengan pelan.

__ADS_1


"Iya baru tidur, dia," kata Frans


"Kakek mana?" tanya Aila kembali dengan mata melihat kesana dan kemari.


"Kakek baru keluar, Ai. Mungkin di belakang," jelas Frans


Frans masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu berganti pakaian mengenakan baju koko dan sarung.


ia pun keluar dan berpamitan untuk pergi ke masjid. Frans mencari kakeknya untuk di ajak ke masjid bersama.


Tak lama kemudian, terlihat kakek Imran keluar dengan mengenakan baju yang sama dengan Frans, mereka pun keluar bersama.


Aila menatap putra yang terlelap di dalam box, hari ini dia tidak begitu rewel bahkan terkesan tenang.


Terdengar suara salam dari luar menunjukan kalau Frans dan kakek sudah pulang, Aila pun menjawab salam lalu keluar dari kamar putranya, menyambut dua pria yang menjadi pelindung saat setelah ayahnya. Dia mencium punggung tangan mereka, Frans langsung ke kamar dan berganti pakaian rumahan setelah itu, ia duduk di kursi depan meja makan bersama istri, Kakek dan Neneknya, mereka pun makan dengan tenang tanpa ada obrolan apapun.


Setelah selesai makan siang Frans dan Aila masuk di kamarnya yang persis di sebelah ruangan anaknya dan di dalamnya terdapat pintu penghubung antara kamarnya dan putranya.


Terdengar suara lagu sea unstoppable kesukaannya, menunjukkan ada panggilan telepon, Aila meraih gawainya yang ada di meja dia melihat di layar monitor handphone-nya terpampang jelas nama Ratih. Dia menerima panggilan tersebut dan menampakan wajah kedua orang yang berada di seberang sana, Bara dan Ratih.


Suara dan senyuman khasnya mengucapkan salam untuk mengawali pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Assalammualaikum, Tante, Om. Mana Bayhas aku ingin lihat? Aku ingin lihat dia, Tante," kata mereka serempak, Aila tertawa lalu berjalan menuju kamar anaknya lalu mengarahkan kamera ke anaknya yang tertidur pulas. "Ya, kenapa tidur aku ingin melihatmu dalam keadaan terjaga," katanya penuh dengan kekecewaan. Aila tertawa kembali. "Tadi juga gitu dibawa pulang kesini tidur dia padahal semuanya lagi ngumpul di sini ingin lihat dia dalam keadaan terbangun,


sampai semua pulang ia masih tertidur juga, setengah jam kemudian dia pun bangun, gak nangis juga," jawab Aila.


"Ehh? kenapa tadi gak nelpon, Te?" tanya Bara penuh dengan rasa kecewa


"Aku ketiduran, Bar. Tadi sama Kakek dan Frans mungkin dia lupa gak nelpon kamu,"kata Aila yang berjalan kembali masuk ke kamar, Frans yang mendengar keluhan dari Bara menyaut,"Lupa aku, Bar. Kalau kamu lagi gak ada di sini," kekeh Frans. "Ya sudah nanti kala Bay bangun, telpon kami yaa, jangan sampai lupa loh, Assalamualaikum," pinta Bara.


"Iya, wa'alaikumsalam," jawab Frans sambil menoleh Aila yang duduk di sampingnya, sambungan telepon terpon pun terputus.


Bayhas begitu tenang tiba di rumah Imran rumah bangunan lama yang masih kokoh itu begitu sejuknya halaman yang luas di depan rumah dengan pohon-pohon yang besar mengelilinginya di tambah dengan kebun di belakang rumah, juga sangat luas ditanami berbagai macam tanaman, setelah taman bunga yang tertata rapi serta bangku taman yang terbuat dari bambu disebelah kiri taman dengan atap galvalum yang di buat sendiri oleh Kakek Imran semasa mudanya.


Bayhas hanya terbangun saat ia lapar dan buang air kecil itupun sebentar, setelah diganti popoknya dan disusui ia pun tidur kembali mulut kecilnya menyesap sumber makanannya dengan lahapnya sambil matanya tetap terpejam. Aila tertawa melihat ulah putranya itu. "Seperti siapa sih tidur sambil minum susu begini padahal kamu di tunggu kak Bara dan kak Ratih loh, Dek."


Frans tersenyum. "Aku juga tidak tahu Mi, waktu bayi aku nggak ingat, apa aku seperti itu yaa, tidur sambil menyusu. Kalau sekarang lebih enakan bangun lah, Mi. Sambil lihat pemandangan," kelakar Frans sambil terkekeh yang mendapatkan pelototan dari Aila.


Ia pun tertawa sedikit keras, namun tak mengusik putranya itu hanya menggeliat sebentar, setelah sadar Frans pun menutup mulutnya dan berhenti tertawa.


Tepat pukul 20.00 Bayhas terbangun ia menatap kedua orang yang berdiri didepan box bayi tersebut bibirnya tersunging senyum seperti ia mengenali mereka adalah orang tuanya. Aila mengambil Bayhas dari box bayi dan membaringkannya di ranjang yang telah di alasi karpet bayi. Frans mengambil handphone-nya dan menghubungi Bara lalu mematikan kembali.


Aila menoleh ke Frans. "Kok, di matikan lagi?" Frans terkekeh. "Telpon luar negeri mahal biar dia yang telpon yang ingin ketemu kan dia," jawab Frans dengan santainya tak seberapa lama terdengar bunyi telpon. Frans segera mengambilnya dan menerima panggilan dari Bara, Salam terdengar dari mulut dua pasang suami istri itu yang sekarang berada di Boston. Frans menjawab mereka, lalu mengarahkan kamera ke arah Bayhas, terdengar suara Ratih yang begitu hebohnya saat melihat Bayhas, yang sudah bangun dari tidurnya.

__ADS_1


Mata Bayhas yang terbuka lebar dengan senyum mengembang melihat dua orang yang berada di kotak kecil, mungkin ia menganggap itu mainan sehingga senyumnya makin melebar ketika terdengar suara dari dalam kotak tersebut.


Frans dan Aila terkekeh dan dua orang yang ada di layar handphone itu pun juga tertawa melihat reaksi bayi mungil itu.


__ADS_2