
Sementara itu, Vino terduduk lemas di lantai. Hatinya hancur remuk tak berdaya, dipandang wajah nan ayu dari kekasihnya, 'Kenapa kau tega melakukan ini padaku? tak pantaskah aku menemani mu saat kau dalam keadaan sakit. Kenapa Glo?"
Ketukan di luar tak dihiraukan oleh Vino bahkan seolah telinganya gak bisa mendengarkan pikiran entah kemana?"
Sementara itu Haidar yang ada di luar kamar merasa heran dengan anak lelakinya itu, tidak biasanya anak itu sepulang sekolah langsung masuk kamar tanpa makan siang.
Lelaki Paruh Baya itu duduk di kursi depan meja makan, dalam pikirannya pasti ada sesuatu yang tidak baik-baik saja.
Haidar pun makan siang sendiri, ia hanya berharap ketika anaknya itu lapar ia akan segera mengisi perutnya.
Terdengar suara pintu terbuka, Vino keluar dari kamarnya, dan duduk bergabung dengan ayahnya. "Ayah sudah selesai?" tanya Vino
"Sudah, Kan ayah sudah dari tadi Vin, kamu Ayah panggil gak dengar Vin,"
"Aku ketiduran Yah," katanya sambil mengambil makanan dan lauknya lalu menyuapkan di mulutnya.
"Yah Vino ijin yaa, besok ke rumahnya mbak Ratih dan mas Bara," ijinnya pada Ayahnya.
"Memang ada apa? kok kesannya begitu mendadak," tanya Ayah pada Vino
"Yah, teman Vino yang ada di sana meninggal, Vino ingin mengunjungi makamnya, tolonglah kasih ijin, berangkatnya juga dengan om Angga," pintanya
__ADS_1
"Baiklah kamu boleh pergi?" sahut Haidar
"Trimakasih ayah," jawabnya.
beranjak dari duduknya. "Jangan terlalu sedih yaa!" Lalu pergi meninggalkan Vino di meja makan, dia segera menyelesaikan makanannya dan segera kerumah paman Angga untuk menemui Rena karena telah berlaku kasar padanya. Beberapa menit kemudian menyelesaikan makanannya lalu beranjak pergi ke garasi menaiki motor menuju kediaman Angga, ia menjalankan kuda besinya dengan kecepatan tinggi, beberapa kendaraan lain hampir bertabrakan dengannya umpatan dan makian akan meluncur di lidah mereka ke pada Vino namun dia tak menggubrisnya sama sekali. dengan sangat cepat Vino sampai di rumah Angga, tanpa menoleh ke Pak Sobar ia masuk ke dalam dan bertemu mbok Darmi. "Rena mana Mbok?" tanya Vino pada wanita paruh baya itu.
Non Rina di kamarnya Den, gak tahu marah-marah sama siapa, semua di marahi tuh kursi saja ia marahi, padahal non Rena yang nabrak duluan," jawab mbok Darmi panjang lebar lalu terkekeh.
"Ya sudah, Mbok aku ke kamarnya, sudah makan apa belum dia?" tanya Vino pada mbok Darmi.
Belum, Den. Non Rena itu kalau lagi marah, pasti gak mau makan," jelas Mbok Darmi.
Vino mengetuk Kamar itu dengan keras berkali-kali, terdengar di telinganya umpatan gadis itu pada orang yang menggedor pintu kamarnya lalu langkah kaki yang di seret menunju pintu yang kemudian terbuka, di depan Vino berdiri seorang gadis yang memasang muka juteknya menatap tajam. "Kenapa ke sini? Mau cari gara-gara lagi?" katanya sambil tangannya akan menutup kembali pintu kamarnya namun Vino dengan cepat mengganjal dengan kakinya.
"Kalau marah gak boleh lama-lama, apa perutmu gak protes, demo dan unjuk rasa? karena pemiliknya gak mau makan," kata Vino.
Persetan sama itu semua, yang jelas aku ingin nonjok kepala Mas Vin dengan sekuat tenaga, agar tetap waras," sarkasnya. Vino menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia tersenyum canggung dengan memamerkan gigi yang putih itu.
"Dek jangan bawa-bawa setan di antara urusan kita, gak baik apalagi Mas Vin sedang bawa makanan, takut di minta sama yang ada di pojokan kamarmu itu loh dek, dari tadi senyum ke kak Vin," katanya menakut-nakuti Rena yang memang penakut itu.
Rena meraba tengkuknya dengan tangan kirinya dan tangan kanannya menarik tangan Vino kedalam, lelaki itu tersenyum, ia duduk di sofa dan diletakkan piring berisi makanan di meja. Rena mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Tak ada apa-apa selain kikikan suara vino yang mentertawai dirinya. "Mas Vin, bohong yaa, sama Rena?" tanyanya sambil menata lelaki muda yang duduk di sofa kamar tidurnya itu.
__ADS_1
"Mau makan di sini apa di luar nih, kalau di dalam pintu buka saja, takut Bunda Rika datang, ngira kita yang enggak-enggak," kata Vino pada Rena,
"Kalau begitu, Mas Vin, keluar aja! aku mau makan di sini!"kata Rena dengan kasarnya karena dia masih sangat marah pada adik dari kakak iparnya itu.
"Aku itu mau mastiin kamu, benar-benar makan apa Enggak, kalau terjadi huru-hara di dalam perut kamu, Mas lagi yang disalahkan, Bunda pasti tanya begini, Ren Kenapa sakit magnya kambuh? dan kamu juga akan jawab begini, itu Bun, Mas bikin gara-gara jadi malas makan, begitu. Iya 'kan Ren," jawab Vino dengan panjang lebar membuat gadis itu terbengong.
"Hoii! mulut tutup Ren! cicak nyasar ke situ, baru tahu rasa loh!"teriak Vino,
Rena tersadar segera menutup kembali mulutnya sambil terkikik. Ia berjalan menuju sofa dan duduk di sebelah Vino lalu mengambil piring yang berisi makanan itu kemudian melahapnya hingga tandas. "Nih sudah habis, Mas Vin takut jadi tertuduh, 'kan?" tanya Rena pada lelaki itu.
"Ya jelas toh, pasalnya kamu itu adalah kesayangan seluruh anggota keluarga sebelum Bayhas besar dan semua cicit kakek Raka nongol menggantikan ke tengilan mu itu," katanya sambil berjalan keluar dengan membawa piring kotor, di depan pintu berpapasan dengan Rika.
"Vin, kamu di sini?" tanya Rika.
"Iya, Bun. Rena ngambek gak mau makan, Vino kan jadi kawatir, apalagi Bunda dan Paman datangnya, 'kan sore?" jawab Vino dengan tenang dan di sambut dengan deraian tawa Rika.
"Kenapa Bunda tertawa?" tanya Vino bingung.
"Kamu kalau panggil Bibikmu ini Bunda, panggil juga Pamanmu itu dengan Ayah, kalau dia mendengarnya bisa ngamuk dia, kesan jadi bagaimana begitu Vin, coba kamu pikir sendiri," kata Rika berlalu dengan derai tawa yang masih di dengar oleh Vino.
Vino memukul dahinya saat menyadari dengan panggilan yang salah pada Pamannya. Terdengar suara salam dari luar, yang sudah di jawab oleh Mbok Darmi. Vino meneruskan langkahnya menuruni tangga, terlihat di kursimeja makan Angga duduk sambil meminum segelas yang di berikan oleh Rika yang duduk di sampingnya, ia menghelah nafas ketika mengingat kembali Gloria yang pergi tanpa memberi kesan indah, justru kemarahan dan kekecewaan, walaupun ia tahu bahwa Gloria berfikir itu adalah yang terbaik, tapi tidak dengan Vino. Ia merasa tidak tahu apa-apa dan bukan orang terpenting untuk Gloria.
__ADS_1