
Satu tahun pun telah terlewati aku mencoba bernegosiasi dengan kedua orang tuaku untuk membawamu serta aku tidak tega jika meninggalkanmu dengan ibumu Karena yang ku tahu dia tidak pernah mau menerima uang dariku, orang tuaku setuju.
orang tuaku menyetujuinya bahkan mungkinkan aku membawa serta Anisa sekali lagi dia tidak mau bahkan dia menantangku. "Kau boleh menikah lagi," katanya
kalau aku minta izin padanya untuk membawamu serta tapi dia tidak mengizinkannya katanya kamu adalah kekuatannya tanpa kamu dia tidak bisa hidup aku pun mengajukan syarat bahwasanya Kau boleh dibawanya tapi dia harus memakai uangku untuk makan anaknya cuma dia mau makan pakai uang apa aku sudah tidak peduli lagi, dia terlalu sangat keras," katanya pada Anin
akhirnya aku pergi dengan membawa Davin pulang ke Australia kau tinggal sendirian di sini maafkan Aku karena tidak pernah menjengukmu kau tahu kenapa karena ibumu tidak membolehkannya aku selalu rutin menelepon bahkan aku ingin mendengarkan suaramu tapi dia Tidak pernah mengizinkannya," katanya pada Anin
jadi ayah masih sah menjadi suami ibu?" tanya Anin pada andrian.
"Ya, apa Boleh aku memelukmu Aku sangat merindukanmu aku mahrom mu Anin walau aku tidak bisa menjadi wali Nikahmu," kata Andrian.
Anin berdiri dan berjalan menghampiri Andrian yang berdiri dari duduknya menyambut pelukan putrinya yang telah dirindukan selama ini.
"Maaf tidak menyambutmu dengan baik, ayah," katanya.
"Tidak apa-apa kau sudah memelukku saat ini, aku sangat bahagia aku benar-benar bahagia Anin.
"Hem, jadi betul dia kakekku mami?" tanya Ehan yang berdiri di belakang tubuh Anin.
"Betul dia adalah kakek mu peluklah dia," kata Anin.
Ehan berlari menuju Andrian lalu pria paruh baya itu meraih tubuh Ehan dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "kau tampan sekali matamu mirip aku.
"Tentu hanya aku yang punya mata seperti ini dari jadi keluarga kami," kata Ehan.
"Benarkah wah kau pasti banyak disukai anak-anak perempuan?" tanya Andrian pada Ehan.
__ADS_1
"Tidak hanya aku saja tapi juga tempat saudaraku banyak yang mengagumi kamu banyak mendapatkan hadiah-hadiah dari mereka itu aku senang karena aku tidak harus membelinya tapi kata kakek Raka itu bentuk pemanfaatan pada orang lain," kata Ehan pada Andrian
"Ayah Ayo kita makan! Ehan ajak kakekmu untuk makan di meja makan!" perintah Anin.
"Ayo Kakek kita makan ini sudah siang loh sudah waktunya makan siang," kata Ehan pada andrian.
Mereka pun duduk di kursi meja makan, Anin mengambilkan nasi pada Ayahnya
"Apa Ayah mau ini," tanyaan yang pada ayahnya.
"Aku mau juga diambilkan itu mami," kata Ehan pada Anin.
"Tak seberapa lama terdengar suara salam dari luar Anin pun menjawab salam itu dan keluar menemui suaminya dia mengambil koper dan mencium punggung tangan suaminya
"Sudah pulang Pi, di dalam ada ayahku," jelas Anin pada suaminya.
"Iya aku tahu tadi Ehan telepon dan berkata kalau ayahmu datang dia bilang padaku Kamu sempat marah itu sebabnya aku pulang lebih awal untuk menemanimu menemui ayahmu," jelas Rafa pada Anin.
Sudah lupakanlah jangan mengingat sesuatu yang telah lalu yang membuat kita tidak bisa bernafas dengan baik dan selalu merasa bersalah sepanjang hidup yang terpenting kita saat ini memperbaikinya dengan sebaik-baiknya,"kata Rafa pada Anin.
"Assalamualaikum, Ayah sudah lama?" sapa Rafa
"Wa'alaikumsalam, lumayan ada sekitar satu jam-an, sudah pulang?" tanya Andrian
"Sengaja pulang Ayah tadi Ehan menelpon kalau ayah datang dan Maminya marah," kekeh Rafa dan Anin mencubit perut Rafa
"Kenapa bilang kan aku jadi malu," kata Anin pada Rafa
__ADS_1
"Ayah lanjutkan makan saja aku tadi sudah makan di kantor Aku mau masuk dulu ke dalam," pamit Rafa.
"Silakan, Nak," kata Andrian.
"Silakan tambah lagi ini Anin lho yang masak sendiri," kata Anin pada Andrian.
"ini enak sekali masakanmu seperti masakan ibumu masa rinduku pada ibumu seolah sudah terpenuhi tapi walaupun begitu Aku ingin mengunjungi kamu, perlu kau tahu aku tidak pernah menikah lagi, hanya ibumu seorang," katanya pada putrinya itu.
"Aku sudah selesai, kalian silakan rindu-rindu dulu, Mami, kakak, aku akan ke kamarku," kata Ehan
terima kasih sayang," jawab Anin.
"Sama-sama, mami," jawab Ehan
"Aku tahu ayah dari cerita Ayah, Ayah sangat mencintai ibuku aku sangat bahagia mendengarnya kupikir Ayah meninggalkannya karena tertarik dengan wanita lain Apa ayah tahu itu selalu menangis di malam hari sambil menatap foto tapi ketika aku datang foto itu disimpan dengan rapat Aku tidak tahu foto siapa itu Ayahkah atau kekasih, ibu, tapi setelah meninggal aku menemukan foto ayah dan juga ada rekening sampai sekarang uang itu masih tersimpan di bank dan aku tidak berani memakainya dan Ibu tidak pernah menjelaskannya padaku sampai dia meninggalkan pun, dia tidak pernah mengatakannya justru dia mengatakan jangan cari ayahmu, Dia tidak punya hak untuk menjadi wali nikahmu,"
kata beliau padaku.
Saat itu aku sedih sekali Ayah sedih karena ternyata aku terlahir bukan dari sebuah pernikahan itu sebab, ketika aku dan suami dijebak seseorang aku langsung minum obat anti hamil dan aku takut anakku mengalami hal yang sama denganku aku tidak hamil pada waktu itu dan satu bulan kami menikah baru aku hamil Ehan," kata Anin.
Suamiku dulu itu tidak semanis itu dia menganggap aku menjebaknya padahal kamu sama-sama terjebak," katanya terkekeh sambil memeluk sang Ayah.
"Kenapa ayah tidak datang diam-diam? Lalu memelukku waktu aku masih sangat kecil aku selalu merindukan ayah dan mencarimu, kamu pergi tapi masih sangat kecil dan tidak mengingat sama sekali tentang dirimu," kata Anin pada Ayahnya
"Maafkan ayah Anin, Ayah takut ibumu makin membenci ayah, itu sebabnya Ayah tidak benar bisa memutuskan untuk menemuimu sedang diam-diam harusnya begitu ya," katanya terkekeh.
Dia mengambil dompet lalu mengambil sebuah foto anak perempuan kecil yang di panggungnya sambil mencium pipi karena suci itu.
__ADS_1
"Lihatlah ini foto masa kecilmu Kamu duduk di pangkuan Ayah, foto inilah satu-satunya harta yang paling berharga buat Ayah jika ayah merindukanmu, dan ini adalah foto Ibu masih muda dia cantik sekali mirip denganmu dan membedakanmu antara ibumu adalah matamu dan kamu sedikit punya wajah dariku juga sehingga tidak terlalu mirip dengan ibumu," kata Andrian terkekeh.
"Kau adalah paduan dari kami berdua," katanya sambil menatap sendu Anin