
Pagi hari setelah sholat sholat subuh Nara, sudah sibuk di dapur membuat sarapan untuk suaminya, sesuatu yang tak pernah di lakukannya sekarang harus di dilakukan.
Suaminya yang sedang sholat di masjid belum juga pulang, jam setengah enam, Nara baru selesai membuat kopi, berdiri di depan kulkas dengan pikiran bingung, apa yang harus di masaknya. Tiba-tiba sebuah tangan meraih pinggang gadis itu dan memeluknya dari belakang, "Abang, bikin kaget saja, kenapa gak salam?" tanya Nara sambil menoleh kebelakang menatap wajah suaminya.
"Sudah, kamu gak dengar, mau masak apa, sih kok cuma berdiri saja di sini?" tanya Diki.
Nara terkekeh, "Aku gak tahu mau masak apa karena gak bisa masak aku Bang."
Diki tertawa,"Dasar bocil, Ya sudah kita sarapan roti saja."
Di tariknya tangan Nara, lalu didudukan istrinya dengan menekan pundak sangat pelan.
Diki mengambil Roti dan berapa toples selai. Mengambil 2 lembar roti di isi dengan selai coklat, diberikan kepada istrinya, "Loh kok malah kamu, Mas, yang melayani ku." katanya sambil memakan pelan roti yang di berikan suaminya.
"Ya gak papa, tadi malam kamukan melayani Abang, jadi gak papa giliran Abang yang manjain kamu," mendengar ucapan suami membuatnya tersipu, rona merah membias di wajahnya.
"Kenapa itu wajahnya jadi merah begitu apa kamu sakit," katanya sambil tersenyum samar. Nara terkekeh dipukul nya lengan Diki. Diki pun tertawa.
"Sudah kamu pikirkan, mau kuliah di mana?"tanya Diki pada Nara
"Belum, Bang. Belum tahu Bang, pinginnya sih di fotografi jadi kerjanya itu gak terikat bisa ngintilin Abang kemana-mana?" Nara tertawa sambil mengerlingkan matanya pada suaminya.
"Terserah kamu, Nara," kata Diki sambil memukul keningnya.
Setelah sarapan pagi Diki mengganti pakaian kokohnya dengan pakaian dinasnya, Nara mengikutinya hingga ke kamar, saat berbalik arah dan sedang melepas pakaian dia terkejut Nara sudah di hadapannya, "Loh kenapa ikut masuk?" tanya Diki terkejut juga senang karena biasanya Nara akan merasa malu jika dia berganti baju di hadapan istrinya itu.
__ADS_1
"Mau bantu Abang ganti baju, biar banyak pahala dan Abang makin Cinta pada Nara." kata Nara tersenyum sambil mengancingkan baju suaminya, setelah selesai Nara menatap wajah suaminya sambil bergelayut manja, "Bang, boleh ya... Nara ikut, janji gak akan ganggu Abang, Nara di ruangan Abang aja, kalau enggak ya jalan-jalan keliling rumah sakit deh, kalau tidak nongkrong di warung-warung dekat rumah sakit, dan kalau tidak ... "
"Stop, Nara! Baiklah lekas ganti pakaianmu," kata Diki sambil menghela nafas, "Begini ya... kalau nikahnya sama anak bau kencur." Diki membatin.
Setelah Nara selesai berganti pakaian dan memakai lipbam pada bibirnya agar tidak pucat, dia menyusul suami ke depan mengunci pintu lalu masuk kedalam mobil di mana suaminyasudah berada di dalam, tak lama kemudian kendaraan itu melaju meninggalkan kediaman menuju rumah sakit di mana Diki bertugas.
Mobil sampai dan berhenti di area parkir. Mereka pun keluar dan berjalan menuju pintu masuk, melewati lobby dan masuk ke lift menuju lantai tiga sesampainya di lantai tiga pintu pun terbuka mereka berjalan menuju ruangan Diki. Sesampainya di sana dia terkejut ada seorang yang wanita yang memakai jas kebesaran dokter berdiri di depan pintu. Saat semakin dekat semakin membuatnya terkejut.
"Selamat pagi Dokter Diki, sebentar lagi waktu operasi, saya partner yang akan mendampingi untuk melakukan operasi."
"Kenapa Anda? bukankah saya bersama dengan dokter Andrian, tidak bisa ada perubahan mendadak tanpa konfirmasi dengan saya, yang mengetahui sistem kerja saya adalah dokter Andrian." kata Diki sambil menekan panggilan pada nomer Dokter Andrian, panggilan pun terhubung, setelah mengucapkan salam Diki langsung berbicara pada titik permasalahannya, "Kamu di mana?" tanya Diki pada dokter Andrian, dan terdengar dari Seberang suara Andrian berbicara, "Aku ada di parkiran segera ke sana." Ketika ia tengah berbicara dia melihat istrinya berdebat dengan dokter wanita itu.
"Kenalkan saya Dokter Anita, kekasih Dokter Diki," katanya dengan percaya diri memperkenalkan dirinya pada Nara.
"Apa? Anda istrinya, jangan bohong anda."
"Kenapa saya harus berbohong kalau kenyataannya memang begitu?"
"Jika Anda memang istrinya seharusnya tidak berkeliaran di sini menganggu tugasnya saja, harusnya anda menjadi pendukungnya."
"Suami saya tidak keberatan, kenapa Anda yang pusing." kata Nara pada Dokter Anita yang tampak kesal dengan kehadiran Nara.
Setelah ia selesai berbicara dengan dokter Andrean dan pimpinan rumah sakit, ia pun menghampiri ke dua wanita itu,"Maaf tidak ada perubahan formasi, silakan hubungi pimpinan rumah sakit."
Lalu Diki menggamit pinggang Nara, Ayo sayang masuk dulu di ruanganku."
__ADS_1
Nara mengernyit dahinya, sedikit merasa aneh dengan pendengarannya namun segera menetralkan dengan cepat. Diki membuka pintu ruangannya, dan menyuruh Nara duduk di sofa, lalu berbisik, "Nanti ku jelaskan, setelah selesai operasi." Lalu mengecup bibir Nara sekilas, nampak seorang perawat datang menemui Dokter Diki, "Pasien dan ruangan sudah sudah siap Dok."
Diki menoleh sebentar pada istrinya dan Nara mengangguk sambil tersenyum.
Diki dan perawat itu pergi meninggalkan Nara diruangannya, berlalu melewati Anita yang masih termangu menatap punggung pria yang pernah dicintainya itu, kemudian ia pergi meninggalkan ruangan Diki. Dia berjalan dengan hati gusar masih ingat dalam ingatannya betapa senangnya dia saat di pindah tugaskan dari Surabaya ke Jakarta karena ingin bertemu dengan Diki ingin memperbaiki hubungannya yang sepat terputus karena ketahuan selingkuh dengan sahabat Dokter Diki sendiri. Anita berjalan di kantor pimpinan rumah sakit, lalu mengetuk pintu dan terdengar suara dari dalam menyuruhnya masuk.
Silahkan duduk, kata pimpinan rumah sakit. Anita pun duduk di sofa.
"Maaf saya kira mengajukan anda sebagai Dokter pendamping Dokter Diki adalah ide bagus ternyata Dokter Diki menolaknya jadi mohon maaf kalau membuat anda kurang nyaman.
"Tidak masalah pak, pasien kamar berapa yang harus saya kunjungi?"
pimpinan rumah sakit menjelaskan secara terperinci pada dokter Anita.
Sementara itu Nara yang bosan di ruangan suaminya keluar berjalan-jalan menuju taman, nampak seorang anak kecil usia 9 tahun yang duduk di kursi roda didorong oleh seorang perawat, terlihat begitu sedih, Ketika ada suster melewatinya Nara pun bertanya walaupun ia tahu yang akan di tanyakan kemungkinan tidak ada di sini.
"Suster, adakah dokter yang menyimpan gitar di ruangannya?"
Suster itu tersenyum, "Ada, mbak dokter Danu, spesialis kandungan."
"Di mana ruangannya? Bisakah Suster membantu saya untuk meminjamkannya? Aku ingin menghibur nya.
"Baik, Mbak.Tunggu sebentar saya juga akan kesana untuk memberikan laporan mengenai pasiennya."
"Ya, Baik, Suster."
__ADS_1