
Nara mengenakan hem lengan pendek warna putih yang dikeluarkan di padu dengan celana jins.
Dia sudah mengemasi pakaiannya dan ditaruhnya di koper. diseretnya ke luar dari Vilanya.
Nara berjalan menuju Vila sebelah. diketuknya berulang kali tak ada jawaban.
ia mulai menekan nomor Diki, lama sekali menunggu hingga akhirnya tersabung.
Terdengar dengan suara serak di seberang sana, "Hello, siapa ?
Bang Diki...!! Baru bangun tidur ya?" terdengar tawa dari sebrang,"Iya, rencana tadi cuma rebahan saja ternyata ketiduran."
"Bang Nara di depan ni pintu masih tertutup rapat."
"Iya, sebentar." sautnya sambil menutup sambungan telpon.
Nara menjebikan bibirnya saat panggilan telepon terputus sepihak.
Lalu tak seberapa lama Vila pun terbuka, Diki berdiri di samping pintu dengan wajah bantalnya menatap dari atas kebawah lalu terkekeh, " Masuk dulu deh Ra."
Nara masuk membawa kopernya dan ditaruh dilantai saja. Mata Nara menyorot tajam seolah ingin mengajukan pertanyaan.
"Duduk dulu sini." kata Diki sambil menarik tangan Nara dan memintanya duduk.
"Abang lagi kurang enak badan tadi jadi habis minum obat rebahan sebentar, eh..malah ketiduran."
"Terus gimana dong? Nara sudah rapi ni."
"Gimana ya?" tanya Diki pura- pura bingung."
"Gak jadi pulang?"
"Maunya lo?"
" Gak tahu, gelap bang."
"Gelap gimana? lah wong sudah terang begini.
"otak Nara bang...!
Diki tertawa," Nanti Siang kita berangkat."
Nara cuma diam aja.
"Kamu marah, karena pulangnya gak sekarang?"
Tidak ada jawaban.
Diki menghelah nafas," Abang jadi bingung nih kalau kamu merajuk gini, mau di cium bukan istri, gak di cium kok tetap merajuk."
"Abang..!!
"Apa, Nara?"
"Abang nyebelin tahu Nara sudah rapi abang malah baru bangun tidur, ya sudah lah Nara tunggu di sini. Abang cepetan mandi sana!"
"Ya sudah abang tinggal dulu ya?"
__ADS_1
"Iya."
Diki masuk ke kamarnya, mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Tak seberapa lama kemudian dia keluar dan berganti pakaian santai berjalan ke ruang tamu menemui Nara.
ketika ia sampai di ruang tamu dia terkekeh saat melihat Nara tertidur di sofa.
di melihat masih jam 10 pagi. Dia pun duduk di sofa sambil melihat Nara tertidur lalu ia sandarkan kepalanya di sandaran kursi memejamkan mata sesaat.
Tiga jam berikutnya. Nara terjaga dari tidurnya dan baru saja membuka matanya terbelalak melihat Diki yang tertidur juga dalam keadaan duduk di sofa," Bang...bang...bangun," Nara mencoba membangunkan Diki dengan menggoyang-goyangkan tubuh Diki.
Diki mengerjapkan matanya perlahan membuka matanya. Pertama yang ia lihat adalah Nara yang sedang mengerucutkan bibirnya terlihat marah.
"Ada apa lagi kok marah." tanya Diki dengan suara serak baru bangun tidur.
"Gimana gak marah abang ketiduran lagi."
Diki terkekeh "lihat kamu tidur jadi ketiduran, jam berapa?"
"jam 12 bang."
"Ayo sholat dhuhur dulu baru berangkat." Nara mengangguk ia membuka koper dan mengambil mukena lalu mengikuti Diki yang sudah berjalan mendahuluinya.
Di mushola Vila mereka melaksanakan Sholat dhuhur setelah selesai Diki kedalam kamar lalu keluar kembali dengan menggeret kopernya keluar Vila di ikuti Nara dari belakang, lalu mengunci Vila dan menyerahkan pada satpam lalu mereka berjalan ke mobil. Diki membuka bagasi mobil memasukan kopernya juga koper Nara.
Setelah itu ia pun masuk kedalam mobil dan duduk di belakang kemudi dan Nara duduk di sampingnya.
Diki pun menjalankan mobilnya setelah memastikan Nara memasang sabuk pengamannya.
"Kamu sudah meninggalkan pesan pada mbak Ririn belum?"
"Sudah tadi pagi ketemu mbak Ririn yang mengantarkan makanan ke Vila."
"Kita nanti mampir makan dulu, baru lanjutkan perjalanan."
"Iya, bang."
"Kenapa kok lesu gitu."
"Lapar bang,"
Diki terkekeh," Ok! kita cari tempat makan."
Setelah mereka makan di sebuah restoran mereka melanjutkan perjalanan menuju Jakarta sekitar jam tiga sore mereka sampai di Jakarta, Diki membelokan mobilnya ke masjid untuk menunaikan shalat ashar.
Setelah selesai mereka melanjutkan perjalanan kembali tak seberapa lama mobil itu masuk ke halaman rumah besar milik keluarga Burhan.
Mobil itu berhenti di halaman luas rumah itu, terlihat mobil lain baru saja masuk.
Diki dan Nara keluar dari mobil bersamaan dengan Ammar dan Azizah.
"Dad !" teriak Nara.
"loh sama siapa?"
"Sama bang Diki."
__ADS_1
"Assalamualaikum ... ." Diki terkejut melebarkan matanya.
"Mas Ammar kan?"
"Wa'alaikum salam, siapa?" Ammar mengeryitkan dahinya.
"Diki kan adiknya mas Yudi." tebak Azizah teringat saat ia melihat foto wisuda Diki waktu pergi datang ke rumah Yuna kemarin bersama Aila.
"Iya betul mbak, saya kemari mengantar Nara pulang sekalian ada perlu."
"Ya udah ayo masuk," kata Ammar
Mereka pun duduk di ruang tamu.
"Ada perlu apa nih? sepertinya serius sekali.
Sementara itu Nara yang sudah memasukan kopernya di kamarnya kembali ikut bergabung di ruang tamu dan duduk di sebelah Diki
Diki menggaruk tengkuknya," Saya sebenarnya bingung ni mas mau menjelaskan dari mananya?"
"Jelas kan saja gak papa, apa Nara buat onar?"
Diki terkekeh," Betul mas, dan buat saya harus bertindak sebelum ada hal yang membuat mas Ammar kecewa pada saya dan putri mas."
"Loh kok buat onar si bang, Nara kan cuma numpang tidur di Vila yang abang tempati karena Nara gak berani sendirian di Vila kakek Raka."
Ammar mulai memijit keningnya yang tiba-tiba pusing mendengar pengakuan putrinya.
"Sebentar, abang kan belum selesai ngomong sama Ayah mu Ra."
Sementara itu tangan Azizah sudah mulai gatal itu menjitak kepala Anaknya.
"Aduh!" ma sakit," katanya sambil mengusap kepalanya.
"Lanjut kan Dik!"
"Jadi mas intinya saya mau serius dengan putri mas, dan karena usia saya pun sudah 26 tahun saya pun ingin segera menikahi putri mas, kalau terlalu lama saya gak bisa jamin saya gak khilaf."
Ammar pun tertawa pada akhirnya mendengar pengakuan Diki adik temannya itu."
"Kemarin masih Aman gak?" tanya Ammar.
"Hampir lah mas, Itu sebabnya saya putuskan untuk menyudahi liburan dan mengajak Nara pulang sekalian meminta Nara, secara resminya besok saya sama kakak datang kemari mas."
Ma, telpon Yuna suru datang ke sini dengan Yudi."
"Baik Dad."
"Kita tuntaskan saja langsung Dik, nanti lamaran sekalian nikahan, jadi tunggu kakak mu dulu."
"Baik mas,"
Tak lama kemudian datanglah Yuna dan Yudi. Mereka berbincang dengan serius dan di putuskan acara lamaran dan akad satu minggu berikutnya.
Mereka berbincang-bincang sejenak setelah itu mereka pun pamit untuk pulang.
Mereka semua memasuki mobil masing-masing, Yudi bersama Yuna dan Diki membawa mobilnya sendiri."
__ADS_1