
Waktu berputar begitu lama, bayi dan ibunya harus di selamatkan, Luky menatap keponakan lalu mereka pergi agak menjauh dari yang lain dan berbicara serius. "Akan kuurus wanita itu."
Frans kembali bergabung dengan yang lainnya. Sementara itu, Luky sudah pergi entah kemana.
Dua jam berlalu dan Dokter Danu keluar, dari ruang operasi. "Mereka selamat, Laki-laki. putramu masih harus di inkubator, hingga berat badan dan organ tubuhnya terbentuk sempurna." kata Dokter Danu menepuk bahu Frans dan Raka. Lalu meninggalkan mereka menuju ruang kerjanya.
Dokter Raya pun keluar, ia memberikan selamat pada Frans juga Daddy Raka.
"Aila belum sadar Frans tunggu 24 jam kemudian."
"Ayo ikut ke ruang kerja tante, nanti tante jelaskan. Mas Angga, Mas Ammar tolong Daddy Raka ajak pulang aja, kasihan kalau kelelahan besok aja ke sini lagi sama mama Rima."
"Iya, Dek biar tak ajak pulang daddy, dan kembali ke hotel," kata Ammar pada Dokter Raya.
"Dek, aku balik ke kantor lagi, Frans jaga Ai, dengan baik ya." pesan Angga pada Frans. Mereka pergi meninggalkan rumah sakit. Sementara itu, Frans mengikuti Raya keruangannya, menunggu tantenya membersihkan diri terlebih dulu. Raya sudah membersihkan diri menemui Frans. "Tadi yang melakukan operasi adalah dokter Danu ia berusaha untuk tidak mengangkat separuh dari rahim Aila tapi itu sukar, jika tidak lakukan akan berakibat fatal. Kemungkinan besar Aila sulit untuk punya anak lagi tapi jika Allah mengijinkan bisa punya anak lagi."
__ADS_1
"Aku Gak papa, tante kami sudah punya anak satu itu cukup, tanda cintaku pada Ai, Ai harus tahu kalau aku benar-benar mencintainya, tadi om Luky keluar untuk menyelesaikan masalah." kata Frans dengan menunduk tajam.
"Sebenarnya apa yang terjadi sampai Ai harus melahirkan sebelum waktunya." tanya Raya pada keponakannya itu.
"Maafkan aku, Tan, aku tak bisa menjaga Aila dengan baik, Naya mengirimiku pesan dengan nomer lain aku dan Ai tak menggubrisnya dan selalu di block Aila namun dia selalu mengganti nomornya lagi dan lagi. Hingga waktu kami makan siang itu dia menghampiri kami dan bertengkar."
"Ok kalau begitu ikut tante ke ruang bayi, kamu mengadzani anakmu."
"Baik,Tan."
Mereka pun pergi ke ruang bayi, Raya masuk dengan Frans menuju incubator yang di dalamnya adalah bayi Frans dan Aila, Frans mengumandangkan adzan dan Iqamah melalui lubang kiri dan kanan. Hatinya sangat bagia banyinya begitu tampan. Setelah selesai Raya memperbolehkan Frans untuk menjaga Aila. Frans masuk kedalam ruang perawatan Aila, ia masih tertidur dan kata tantenya harus menunggu 24 jam untuk sadar. Frans duduk di bibir ranjang sambil melihat istrinya yang terlelap tidak berdaya dengan jarum infus yang menancap di pergelangan tangan.
Wajah yang sekarang menjadi candu buatnya, wajah yang menyejukkan hatinya. Ia tak tahu kapan jatuh cinta pada Aila, yang ia tahu jika Aila tak ada di sisinya menjadi sangat resah. Mungkin saat dia masih kecil sudah jatuh cinta pada Aila, ia benar-benar tak menyadari kapan mulai mencintai gadis ini.
...----------------...
__ADS_1
Di ruangan Raya, Luky yang keluar beberapa jam lalu telah kembali ia duduk di sofa ruang kerja istrinya. Raya menghampirinya dan duduk di samping nya. "Bagaimana Mas, bisa menghadapi wanita itu?" Luky menghela nafas " Aku serahkan pada mas Aiko biar di urus oleh anak buahnya. Bagaimana dengan Aila dan bayinya." Raya menatap suaminya yang nampak begitu lelah. "Dia baik-baik saja, anaknya laki-laki, namun kita tak bisa mempertahankan rahimnya, dan mengangkat separuh dari rahimnya." Luky menyadarkan bahunya di sofa. "Aku sangat lelah Ray." Raya menyuruh untuk menghadap memunggunginya lalu ia memijat bahu suaminya. "Istirahat diruanganku, akan lebih nyaman di banding di sofa."
"Aku ingin yang lain Ray, apa tugasmu sudah selesai, kalau sudah selesai kita ke hotel, akan lebih nyaman di sana."
Raya memukul bahu Luky, dia pun tertawa. "Aku tahu apa yang kau maksud kenyamanan di hotel," kata sambil mengambil tas kecil nya. "Syukurlah kalau kau mengerti aku tak perlu menjelaskannya," kata Luky dengan senyuman yang menyeringai
Luky beranjak dari duduknya dan berjalan bersama meninggalkan rumah sakit. Sesampainya di tempat parkir mereka masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan rumah sakit menuju hotel. Tak lama kemudian mereka sampai dan memesan kamar untuk sedikit melepas lelah, penat, rindu dan cinta yang kadang terkikis oleh kesibukan masing-masing.
...----------------...
Jam empat sore Diki keluar dari ruangan kerjanya, dia berjalan melewati lobby rumah sakit menuju area parkir, sesampainya di sana dia pun masuk kedalam mobil meninggalkan rumah sakit. Dia mengemudi dengan kecepatan sedang melaju di jalan yang mulai terlihat agak gelap. Lembayung senja mulai menampakan wajahnya mengantikan sinar matahari yang mulai tengelam. Diki sampai di pintu gerbang rumahnya.
Dia keluar dari mobil dan membuka pintu lalu kembali lagi masuk kedalam dan bejalan memasuki gerbang berhenti dihalaman rumahnya, keluar dan berlari menutup pintu gerbang lalu berjalan memasuki rumahnya. Berjalan sambil mengucap salam berkali-kali karena belum mendapatkan jawaban dari isterinya, dari ruang ke ruang hingga terdengar suara yang merdu yang menyejukkan hatinya di ruang tengah. Diki segera masuk keruang tengah menghampiri istrinya yang sedang berbaring di sofa sambil melihat televisi tangannya memegang satu bungkus keripik singkong dan mulutnya tak berhenti mengunyah camilan yang di kirim mamanya tadi pagi.
Diki menghampiri Istrinya mencium pucuk keningnya lalu perut sang istri yang mulai terlihat kandungannya.
__ADS_1
Dia duduk di sofa mengangkat kaki istri dan ditaruh di pangkuannya, dia merogoh kantong plastik berisi kripik singkong dan menyuapkan ke dalam mulutnya. "Dari siapa?"
Dari mama, tuh di meja banyak makanan. Maaf semenjak hamil, Nara malas masak malas lakukan apa-apa, yang gak malas cuman dandan," katanya sambil tertawa lebar. "Ga papa yang penting anak kita baik-baik di dalam tapi jangan lupa jalan-jalan itu baik untuk ibu hamil, tadi siang tante Ai sudah melahirkan," katanya sambil memijat kaki istrinya. "Loh, kok bisa kan baru tujuh bulan, Bang." Diki menceritakan apa yang terjadi pada tante Aila. "Lalu bagaimana dengan wanita itu, Bang?" Diki mengangkat bahunya. "Gak tahu Ra, tadi kulihat om Luky pergi entah ke mana Abang gak tahu." Nara mengangguk. "Besok ajak aku jenguk tante Ai yaa, Bang." Diki mengangguk lalu mencium pipi gembul istrinya.