Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Kencan Ala Rendra


__ADS_3

Rendra pun mengambil kue dan memakannya, sambil merangkul gadis itu. kemudian meminum teh hangatnya.


"Aku sudah memakan jamuan istimewa dari bibi mu, sekarang kita lanjutkan perjalanan kita," kata Rendra pada gadis itu.


"Sebentar yaa, Bang. Aku pamit dulu sama bik Darmi," katanya sambil berlari menuju dapur, kemudian kembali lagi dengan mencangklong tas punggungnya dan menjinjing paper bag berisi baju seragamnya.


"Ayo kita berangkat!" ajaknya pada Rendra.


Mereka pun keluar lalu menaiki moge yang terparkir di halaman rumah.


Sambil berada di atas kuda besinya Rendra mengangguk kepala kepada Pak Sobar untuk pamit. "Iya, hati-hati Mas Rendra," jawab pak Sobar.


Rendra pun memacu moge dengan kecepatan sedang, sambil menikmati rengkuhan tangan Rena di perutnya.


"Kita mau kemana dulu?" tanya Rendra pada Rena.


"Kita putar-putar saja kemana gitu Bang," jawab Rena membuat pria itu terkekeh.


"Tidak pernah naik motor?" tanya Rendra.


"Gak pernah selalu di jemput sama pak Sobar," kata Rina.


"Kita mampir di rumah makan milik Abang dulu, mau?" tanya pada Rena


"Okeh Baiklah, tapi karyawati Abang gak galakkan?" tanya Rena


"Kenapa tanya begitu ada yang mau macam-macam, jangan takut kamu nyonyanya!" jawab Rendra dengan gelak tawanya yang renyah,


setengah jam kemudian mereka pun sampai, pekerja wanita menatap Rena dengan tatapan tidak suka, Rena tidak pernah menggubrisnya, dia pada akhirnya tidak peduli dengan mereka. Rendra mengajak Rena kedalam ruangannya. "Tunggu di sini! Di balik pintu itu ada ruangan di mana kau bisa beristirahat," katanya sambil berlalu keluar ruangan.


Rendra menghampiri pekerja wanita dan menyuruhnya berkumpul.


"Dengarkan! Gadis yang kubawa kemari adalah calon istriku, jika ada yang tidak suka silakan mengundurkan diri, masih banyak banyak mau bekerja di sini," katanya kemudian berlalu dari tempat.


Seorang dari mereka menyimpan dendam yang amat sangat karena keinginannya tak tercapai.


Rendra masuk ke ruangannya membuka ruangan yang menjadi tempat privasi terlihat gadis itu sudah tertidur dengan pulas.

__ADS_1


Rendra kembali ke meja kerjanya dan membuka email-nya dan mulai berkutat dengan angka-angka yang ada di dalamnya hingga waktu ashar tiba.


Rendra masuk ke dalam ruang di mana Rena terlelap di sana.


Rendra membaringkan tubuhnya sejenak di samping gadis yang akhir-akhir ini membuatnya gila.


Di peluk tubuh mungil itu sebentar untuk meredakan resah sesaat.


Setelah dirasa cukup dia pun membangunkan gadis itu. "Dek bangun sudah ashar."


Gadis itu tidak bergeming, Rendra pun kembali menggoncang tubuh gadis itu, hingga dia mengerjapkan matanya dan perlahan membuka matanya hingga ia terkejut saat wajah Rendra begitu sangat dekat dengan dengan wajahnya.


Pria itu tersenyum lalu beranjak turun dari ranjang dan berjalan ke.walking closed, mengambil bath robe, setelah itu kembali berjalan ke ranjang dan berkata, "Mandilah!" perintah Rendra.


Rena menerimanya dan berjalan dengan malas menuju kamar mandi.


tak lama kemudian dia keluar dari kamar mandi dengan bath robe yang membalut tubuhnya. Ia pun berjalan menghampiri Rendra, yang duduk di sofa sedang sibuk dengan handphone-nya. "Bang, Rena gak punya baju ganti, gimana dong?" aduh Rena pada pria itu.


"Tuh, ada di atas ranjang, kata Rendra tanpa mengalihkan fokusnya pada handphone,"


"Loh, kapan Bang Ren beli ini?" tanya Rena


Gadis itupun bergegas berganti pakaian setelah selesai ia pun duduk di bibir ranjang menanti pria yang selama dua hari ini bersama dengannya.


Tak lama kemudian Rendra keluar hanya berbalutan handuk di tubuhnya, tubuh yang kuat dan kekar serta pahatan di bagian perut dadanya membuat Rena terpaku. "Tutup mulutnya, Dek! Air liurmu menetes," goda Rendra sambil terkekeh.


Tanpa sadar dia mengelap mulut dengan tangan yang membuat Rendra semakin tertawa.


"Ah, Abang ngapain pakai pamer badan ke Rena?" tanya Rena menutupi malunya karena mengagumi tubuh pria tersebut.


Siapa yang pamer, Dik? Ini kan memang kamar Abang," katanya sambil berjalan menghampiri gadis itu, dan duduk di sebelahnya.


"Ingin pegang?" tanyanya pada Rena


"Ah, Abang! Sudah sana pakai baju!" kata Rena menyembunyikan rona merah di wajahnya.


Rendra tertawa dia pun berjalan menuju ke walk in closet dan berganti pakaian, di sana lalu masuk lagi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, lalu keluar lagi memanggil Rena.

__ADS_1


"Dek, Ambil wudhu sana, Abang tunggu," katanya sambil memakai sarung sebab ia memakai celana pendek selutut dengan kaos berkerah lengan pendek. aroma wangi menguar dari tubuhnya tercium oleh indra pembau Rena.


Ia pun bangkit dari duduknya berjalan ke kamar mandi tak lama kemudian kembali lagi lalu menempati shaf yang di mana sajadah dan mukenanya di siapkan oleh Rendra. Lalu mereka pun melaksanakan sholat ashar berjamaah.


Setelah selesai Rendra pun mengulurkan tangannya kepada Rena. "Latihan, Dek! Biar terbiasa!" katanya sambil terkekeh.


Rena menerima uluran tangan Rendra lalu mencium punggung tangan pria itu sambil mencebikan bibirnya.


Pria itu terkekeh, melipat sajadahnya lalu mengambil mukena yang terbungkus sajadah lalu membawanya di walk in closet.


"Ayo, kita kembali ke rumah, Mama!" ajak pada Rena.


"Bang bagaimana dengan baju kotorku?" tanyanya pada Rendra.


"Biar saja! Nanti Abang yang cuci," jawabnya dengan santai.


"Ehh! Jangan, Biar aku bawa saja, Bang!" teriaknya panik.


Rendra pun tertawa. "Kenapa emang? Gak apa-apa, Dik."


"Itu ada barang pribadi, Bang," katanya sambil menunduk.


"Ya, gak apa-apa, Dik. Itu kan cuma bungkusnya doang," katanya terkekeh.


"ABANG!" teriak Rena yang segera dibekap mulutnya oleh tangan Rendra sambil memeluk gadis itu lalu berbisik, "Jangan teriak! Nanti dikira kita lagi ngapain-ngapain."


"Gak ada peredam suaranya?" tanyanya semakin panik.


Rendra menikmati expresi lucu Rena saat dia sedang panik.


"Sudah, Dik! Gak usah dipikirkan!" katanya sambil menyeret tangan Rena sementara tangan kirinya menyambar tas dan paper bag milik Rena.


Mereka pun berjalan keluar dari rumah makan tersebut, dengan di ikuti pandangan dan pikiran yang berbeda dari karyawati Rendra.


Mereka berdua langsung menaiki moge yang kemudian berjalan cepat meninggalkan rumah makan tersebut.


Rendra menjalankanya kuda besinya dengan kecepatan sedang menikmati sore hari bersama kekasih kecilnya itu.

__ADS_1


Mereka tidak langsung menuju rumah Ammar akan tetapi mereka berjalan-jalan dulu mengitari jalan raya Jakarta, setelah puas Rendra mengarahkan mogenya ke rumah Ammar.


__ADS_2