
Sambil menunggu suster meminjamkan Nara gitar pada seorang Dokter. ia mendekati gadis kecil itu lalu berjongkok di depan kursi rodanya, "Hai, namamu siapa gadis cantik?" tanya Nara. Gadis itu tersenyum manis, "Nama ku Felisah, aku sedih besok aku harus operasi, aku takut," katanya dengan raut muka sedih.
"Jangan sedih, kamu ingin sembuhkan maka jangan takut." Lalu membisikan sesuatu yang membuat gadis itu tertawa.
Suster mengetuk pintu ruangan dokter Danu. "Masuk," perintah Dokter Danu.
Suster itu pun masuk memberikan susunan daftar pasien operasi. "Dokter boleh saya pinjam gitarnya? ada seorang wanita yang mau pinjam gitar untuk menghibur seorang pasien."
"Siapa? Apa keluarga pasien?" tanya Dokter Danu.
"Bukan, Dok. Sepertinya tadi datang bersama Dokter Diki."
"Hari ini giliran Dokter siapa yang visit?"
"Dokter Raya, Dok. Lalu jam 11 nanti ada jadwal operasi."
"Ok! Di mana dia? saya nanti menyusul ingin tahu apa yang di lakukannya, ini kamu berikan dulu, saya masih harus menyelesaikan laporan ini."
"Baik ada di taman, Dok. Saya permisi dulu, Dok." jawab suster sambil pergi membawa gitar meninggalkan ruangan Dokter Danu.
Suster itu pun menemu Nara dan memberikan gitar pada Nara, "Ini, Nona. Semoga gadis itu terhibur dan mempunyai semangat untuk sembuh."
"Trimakasih, Sus." Suster itu mengangguk dan pergi kembali menyelesaikan tugasnya. Nara menghampiri gadis itu," kau ingin lagu apa? mari kita menyanyi bersama."
"Aku suka lagu Not Afraid, Eminem."
"Ok! Aku juga suka lagu itu, mari kita nyanyikan." Nara pun mulai memetik gitarnya dan mulai menyanyikan lagu, di iringi suara rap gadis kecil yang lucu.
I'm not afraid (I'm not afraid)
Yeah
To take a stand (to take a stand)
__ADS_1
It's been a ride
Everybody (everybody)
I guess I had to go to that place
Come take my hand (come take my hand)
To get to this one
We'll walk this road together, through the storm
Now some of you might still be in that place
Whatever weather, cold or warm
If you're tryna get out (just lettin' you know that you're not alone)
I'll get you there
You can try and read my lyrics off of this paper before I lay 'em
But you won't take the sting out these words before I say 'em
'Cause ain't no way I'ma let you stop me from causin' mayhem
When I say I'm a do somethin', I do it
I don't give a damn what you think
I'm doin' this for me, so **** the world, feed it beans
Lagu itu di nyanyikan dengan sangat kompaknya bersama gadis itu, Dokter Danu yang sudah beberapa menit yang berada di taman tersenyum melihat apa yang di lakukan Nara. Dokter Diki pun terkejut ketika dia mendapat laporan dari susternya 5 menit yang lalu setelah selesai melakukan operasi.
__ADS_1
Dia pun segera ke taman dan nampak Nara sudah dikerubuti pasien anak-anak dari penyakit dalam, sungguh suatu surprise yang luar biasa bagi Diki ketika melihat sang istri bernyanyi dengan salah satu pasiennya dengan sangat merdu dan yang menarik baginya gadis kecil itu seperti mempunyai semangat kembali untuk sembuh dan kembali ceria.
Sementara itu, Dokter Anita hanya melihat sekilas melihat lalu pergi, dalam hati ia berjanji akan merebut Dokter Diki kembali bagaimanapun caranya. Banyak anak yang meminta lagu dan bernyanyi bersama, Nara melihat suami yang berdiri bersandar di dinding rumah sakit, melempar senyumnya dan mengacungkan tangan tanda peace.
Lalu mengatakan pada anak-anak untuk kembali istirahat agar cepat sembuh, mereka menurut asal Nara berjanji besok mau menghibur mereka di sini kembali. Nara mengiyakannya.
Anak-anak itu pun bubar tinggal gadis yang duduk di kursi roda masih berada di taman melambaikan tangan memanggil Nara untuk mendekat, Nara pun mendekati gadis itu dan berjongkok di depan kursi rodanya gadis itu pun mencium pipi Nara, "Trimakasih kak, aku tidak takut lagi,"
Nara terharu di ciumnya kening gadis itu dan berbisik, "Kamu akan sembuh percayalah, aku akan berdoa untuk kesembuhan mu gadis kecil, jika kau sembuh kita akan bisa bernyanyi lagi dan bermain. Aku akan mengunjungi rumah mu."
Gadis kecil itu pun tersenyum, "Janji." katanya sambil menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Nara, kemudian suster mendorong kursi roda gadis itu pergi meninggalkan taman.
Nara berjalan menghampiri Dokter Danu yang sekarang sedang berbincang dengan suaminya. Dia tersenyum dan memberikan gitar yang dia pinjam, "Trimakasih, Dok. Maaf kalau menganggu tugas Dokter."
"Oh, tidak! Justru saya senang anda bisa membangkitkan semangat anak-anak itu untuk sembuh, taruh saja di ruang Dokter Diki, besok anda harus menghibur mereka kembali, kan." kata Dokter Danu sambil menatap Dokter Diki, "Istri lo hebat, Bro. Salut gue, gak punya teman yang mirip dia?" tanya Dokter Danu sambil terkekeh.
"Gak ada, Dok. Cari sendiri sana!" kata Dokter Diki Frontal, Dokter Danu tertawa dan menepuk bahu Dokter Diki sambil meninggalkan mereka menuju ruang operasi.
Diki menatap istrinya lalu tersenyum merangkul pundaknya dan mengajaknya ke ruangannya.
"Hari ini Abang jatuh cinta ke dua kalinya dengan Nara Sabrina Dintara." katanya sambil mengambil gitar dan di letakan di sofa, ia pun duduk lalu menarik tangan istrinya hingga terduduk di pangkuannya, "Sejak kapan kamu bisa main gitar."
"Sudah lama sih, waktu itu tante Aila gak mau ngajak aku main lagi karena setiap ngajak aku, aku selalu kelepasan panggil dia tante, lalu tante di ledekin nih sama satu kelas dan aku di diami selama satu bulan." katanya terkekeh mengenang masa kecil.
Nara pun kembali cerita, "Lalu aku pun main di luar pintu gerbang sekolah karena bosan dan melihat seorang anak laki-laki usianya sekitar 12 tahun, ia bernyanyi dari pintu rumah ke pintu rumah lainnya. Lalu aku memangilnya ku tawarkan sejumlah uang untuknya agar aku di ajari main gitar dia bersedia, dia bilang ingin mengumpulkan uang untuk melanjutkan sekolah tahun depan.
Ku katakan padanya kenapa menunggu tahun depan, akan ku tanyakan pada daddy ku agar dia bisa sekolah dengan beasiswa dari daddy. Dia pun bersedia. Sejak saat itu dia mengajariku bermain gitar hingga bisa. Saat ini aku tak tahu kabarnya, kata daddy ia di Jerman saat ini menyelesaikan kuliahnya di sana.
Di hari pernikahan kita, Daddy mengundangnya tapi ia tak bisa datang hanya memberikan hadiah jam tangan.
"Kenapa tidak pakai?" tanya Diki sambil menatap kagum pada istrinya.
"Aku takut Abang marah, karena salah paham." katanya terkekeh.
__ADS_1