
"Ya, aku tahu ayah sangat mencintai ibu maka dari itu wanita yang paling cantik adalah ibu betul begitu kan, aku hanya yang kedua,"kata Anin terkekeh.
"Mana suamimu Kenapa tidak ke sini?" tanya Andrian
"Karena ingin memberi waktu aku bersamamu, Ayah, maka dari itu dia tidak kemari," kata Anin sambil tersenyum.
Setelah cukup lama Rafa memberi waktu istri untuk bersama dengan ayah dia pun keluar dan menemui Ayah istrinya itu.
"Bagaimana apa kamu sudah bisa berdamai dengan masa lalu?" tanya Rafa pada istrinya
"Iya, Setidaknya Ayah telah meraih hati ibuku walaupun hatinya tak tersentuh oleh kegigihan ayah dalam memperjuangkan cintanya," kata Anin menatap sang Ayah.
"Terimakasih, Sudah mendampingi ibuku walaupun dia menolakmu, dan terimakasih ternyata Ayah mendampingiku saat aku kecil," katanya lagi memeluk sang Ayah. Andrian tersenyum bahagia.
"Aku sangat bahagia, jika istriku bisa memaafkan Ayah dan mau mendengarkan semua kisah Ayah, Setiap orang bisa tergelincir dari sebuah kesalahan hanya bagaimana kita bisa memperbaiki kesalahan kita, bukan begitu Ayah?" tanya Rafa pada Ayah mertuanya itu.
"Betul, tapi ibumu tak perna melihat diriku yang baru ia selalu melihat kesalahan dan selalu mengingatkanku, atas kesalahan yang pernah ku lakukan padanya," katanya.
"Sebentar Ayah aku akan mengambil harta milik ibu, dan orang yang ditangisinya setiap malam," kata Anin pada ayahnya.
Anin masuk kedalam kamarnya untuk mengambil sesuatu, sementara itu Rafa mulai berbincang-bicang dengan ayah mertuanya itu.
"Ayah sudah berapa lama tinggal di sini?"
"Sudah satu Minggu, Nak," katanya pada menantunya itu.
"Selama ini Ayah tinggal di mana?" tanya Rafa pada ayah mertua itu.
"Ayah tinggal di Apartemen Ayah, selama berada di sini," kata Andrian
" Tinggallah di sini Ayah, mungkin Anin akan senang, dia begitu merindukan figur seorang Ayah maka ku mohon isilah ruang hatinya yang telah kosong bertahun-tahun lamanya karena merindukanmu, Ayah," kata Rafa pada Ayah mertua itu.
__ADS_1
Anin pun kembali dengan sebuah kotak besi bekas kue kering yang sudah tak terpakai, meletakan di meja depan Ayahnya.
"Ini, Ayah, milik ibu tersimpan di sini, bukalah! Ayah akan tahu siapa yang di tangisinya," kata Anin sambil menatap sang Ayah.
"Andrian membuka kotak itu ada buku rekening, kartu debit, dan tiga foto yang semua adalah miliknya, lalu sebuah Amplop berwarna merah muda yang bertuliskan namanya itu artinya surat itu untuknya.
Andrian mengambil surat tersebut dan mengembalikan sisanya pada Anin.
"Ini untukmu, Nak, terima lah. Davin sudah mendapatkan dariku, jika kalian punya waktu datanglah ke Australia, Mereka akan senang melihatmu Anin," kata Andrian
"Aku menyesal karena terlambat datang, andai saja aku datang sebelum dia pergi, mungkin aku tidak akan menyesal seperti ini," katanya
Di sore harinya Anin sekeluarga bersama Andrian Ayah yang baru bertemu tadi siang pergi ke pemakaman
Mereka masuk kedalam mobil Rafa duduk di belakang kemudi dan Anin duduk di sebelahnya sementara itu Ehan duduk di bangku tengah. Andrian naik ke dalam mobilnya sendiri.
Mereka pun berangkat ke pemakaman umum, mobil berjalan dengan kecepatan sedang setelah setengah jam kemudian mereka sampai di pemakaman umum, mobil pun berhenti,
Mereka memanjatkan doa terbaik untuk Annisa Prameswari sebagai ibu, mertua dan nenek serta istri bagi Andrian.
"Ayah ayo kita pulang!" kata Anin pada Andrian.
"Kalian pulang dulu Ayah mau di sini dulu," jawab Andrian.
"Kakek sebentar lagi magrib," kata Ehan
"Jika magrib tiba kakek akan sholat di sana," jawab Andrian sambil menunjuk mushola dekat pemakaman.
"Baik, Ayah kami pulang dulu, jangan malam-malam pulangnya, kalau masih rindu besok boleh datang lagi, Ayah," kata Rafa.
"Iya, terima kasih, Nak," jawab Andrian
__ADS_1
Anin, Rafa dan Ehan pulang ke rumahnya, mereka masuk kedalam mobilnya lalu menjalankan meninggalkan pemakaman.
Andrian duduk bersimpuh di makam istrinya. "Kenapa kau tidak mengatakan padaku bahwa kau sudah mencintaiku, Kenapa tidak ingin bersamaku, jika merindukanku, kenapa menjadikan menjadi orang yang buruk di matamu, walaupun begitu istriku aku memaafkan mu. karena aku sangat mencintaimu," katanya lalu berdiri berjalan meninggalkan pemakaman itu.
Andrian masuk dan menjalankan mobilnya meninggalkan pemakaman, ia melaju menuju apartemennya untuk membawa beberapa baju ganti buat menginap di rumah putrinya, hari ini banyak kesedihan dan kebahagiaan, bertemu dan putri dan cucunya, walaupun ia hanya menjumpai makam istrinya ia sudah merasa legah, masih ingat di benaknya lima tahun setelah kepergiannya di Australia dia kembali ke sini sekedar untuk melihat anak dan istrinya.
Hatinya sedih saat sang istri bekerja sebagai buruh cuci, ia mendatangi majikan istrinya meminta tolong untuk memberikan sejumlah uang padanya mengatakan bonus akan kerajinannya bekerja dan Anis tidak pernah curiga bahwa sebenarnya bonus itu dari suaminya.
Andrian berhenti di area parkir, dia berjalan melewati lobby masuk kedalam lift dan keluar saat sudah sampai di lantai lima lalu berjalan menuju apartemennya.
Dia menempelkan key card lalu masuk ke dalam apartemen kemudian masuk ke kamar berjalan menuju walk in closet mengambil beberapa pakaian di masukan kedalam ranselnya.
Setelah selesai, dia keluar kamar dan berjalan keluar apartemen lalu menutup pintu.
Berjalan melewati beberapa flat lalu masuk ke dalam lift yang membawanya ke lantai dasar, setelah itu dia keluar dan berjalan kembali menuju area parkir di mana mobilnya berada.
Andrian masuk dan duduk di belakang kemudi, memasang sabuk pengamannya serta melajukan mobilnya membela jalan raya yang mulai sedikit gelap.
Dia mampir sebentar ke masjid untuk menjalankan sholat magrib setelah itu, kembali ke mobilnya dan kembali menjalankannya menuju, rumah putrinya.
Setengah jam kemudian, dia sampai dan berhenti di halaman rumah anaknya lalu keluar dari mobil berjalan menuju pintu masuk rumah itu.
Andrian mengucapkan salam dijawab oleh putrinya yang bergegas menghampirinya, Anin mencium punggung tangan Andrian dan mengambil alih tas ranselnya.
"Ayah, aku kawatir padamu, aku kira Ayah, masih di pemakaman, baru saja mas Rafa akan menyusul Ayah," kata Anin yang tidak berhenti berbicara.
"Ayah, mampir dulu ke apartemen untuk mengambil pakaian, baru berangkat ke sini," katanya pada putrinya.
"Lain kali telpon dulu Ayah, agar aku tidak kawatir padamu," katanya pada Ayahnya.
"Aku tidak punya nomor telepon mu, bagamana aku menelpon mu, Nak," katanya pada putrinya itu.
__ADS_1
"Oh, iya aku lupa belum meminta nomer Ayah dan aku belum memberikan nomer telpon ku," jawabnya terkekeh.