
Vancouver, 06:00 a.m
Pagi ini Devan sudah siap dengan setelan casualnya yang terlihat santai. Selesai dengan aktifitasnya di dalam kamar, Devan segera turun ke bawah untuk sarapan dan menemui kedua orang tuanya.
"Morning, mom dad.." sapa Devan.
"Morning sayang, kok udah rapih banget. Bukannya take offnya masih jam 9?" tanya mommy.
"Iya biar nggak terburu-buru nanti mom." jawab Devan.
"Yaa nggak lah, kan airport juga deket. kamu berangkat jam 7 juga masih keburu waktunya." ujar mommy.
"Eee.. ada yang masih mau Devan urus di luar mom." ujar Devan sedikit terbata.
"Cewek?" tebak mommy.
"Ee buset kenape nyokap gue jadi cenayang gini." bisik Devan dalam hati yang kaget dengan tebakan mommynya.
"Hah? Enggak.." Devan mengelak.
"Urusan cewek juga nggakpapa kok, brarti kamu udah mulai ada progress. Tapi kalo ceweknya nggak bener awas aja." ujar mommy.
"Ck, apaan sih mom, orang aku belum ngapa-ngapain." decak Devan.
"Ya cepet dong. Inget loh ya sebulan." mommy mengingatkan.
"Iyaaa.."
"Udah ah Devan pamit, udah selesai." ujar Devan hendak pamit, sebelum selesai menghabiskan makanannya. Berlama-lama di ruang makan membuat ia jadi bulan-bulanan mommynya. Wkwkwkwk
"Kok nggak di habisin?" tanya mommy.
"Kenyang. Ntar aja lagi di pesawat." jawab Devan.
"Bye mom, dad. Assalamualaikum." pamit Devan.
"Waalaikumsalam." balas mommy dan daddy.
"Take care yaaa.." lanjutnya.
"Okay, mom.."
"Mommy mulai lagi deh nyinggung Devan." ujar daddy setelah Devan keluar rumah.
"Ya biarin dong dad, biar Devan cepet berproses. Kalo nggak mommy singgung-singgung, ntar dia nyantai aja." balas mommy.
"Tapi nggak pas lagi makan juga mom, kasian kan dia makannya keburu gitu, jadi kayak nggak selera." ujar daddy.
"Tadi dia bilang kan kalo laper makan di pesawat." sahut mommy.
"Yaudah terserah mommy lah." daddy tidak sanggup berdebat dengan istrinya yang sudah pasti menang itu.
__ADS_1
"Udah pokoknya daddy support mommy terus aja, biar kita cepet dapet mantu."
"Hmmmmm..."
°
°
Dua puluh menit kemudian Devan sudah berada di depan gedung apartemen yang di tempati Shena. Jam masih menunjukan pukul 6:25, belum genap jam 7. Devan sengaja menjemput Shena lebih awal, karna ia ingin segera bertemu dengan Shena. Konyol memang, dengan apa yang Devan katakan kemarin bahwa ia seolah menolak perasaannya, namun entah mengapa ia merasa selalu ingin melihat gadis itu. Wajahnya yang sedari semalam memenuhi pikiran Devan. Ia juga tidak memberitahu Shena jika akan datang lebih awal.
Devan segera masuk ke dalam lobi gedung untuk bertanya pada resepsionis dimana letak unit yang di tempati Shena. Namun, resepsionis tidak dapat memberitahunya lantaran terkait dengan privasi, bahkan ia akan menghubungi Shena untuk memastikan apakah benar Shena mengenali Devan.
Namun, bukan Devan namanya jika tidak bisa membereskan urusan sekecil ini. Devan pun menunjukan kartu nama Shena tanda bahwa ia mengenali Shena dan juga kartu namanya sendiri yang ia gunakan khusus di Kanada, yang menyatakan bahwa ia adalah direksi dari Mahendra's Company.
Resepsionis yang melihat itu pun sedikit terkesiap, ia juga menyampaikan permohonan maaf, siapa yang tidak tahu Mahendra's Company, perusahaan yang bergerak di bidang properti yang sudah sangat terkenal dan masuk jajaran 10 besar setiap tahunnya.
Tidak lama resepsionis itu pun menyebutkan letak unit yang di tempati Shena. Bahkan ia akan mengantarkan langsung, namun Devan segera menolaknya dan akan mencarinya sendiri.
Sesampainya di depan unit Shena, ia memencet bell pintu, tidak lama Shena keluar dengan masih menggunakan piyama dan rambut yang masih terbungkus handuk.
"Devan?!!.." Shena terkejut dengan kehadiran Devan di depan pintu unitnya.
"Kenapa kayak ngeliat setan gitu?" tanya Devan.
"Kamu ngapain kesini jam segini?" tanya Shena tidak memperdulikan pertanyaan Devan.
"Kan aku udah bilang mau jemput jam 7." ujar Devan santai.
"Ya sekarang kan belum ada jam 7, lagian juga pesawat take off masih jam 9. Kenapa sih buru-buru banget?" ujar Shena tidak habis pikir dengan Devan.
"Kamu belum sarapan?" tanya Shena.
"Tepatnya belum kenyang." balas Devan.
"Yaudah tunggu." ucap Shena hendak kembali masuk ke dalam.
"Nggak sopan." celetuk Devan.
"Hah?"
"Baiknya tamu itu di suruh masuk." ujar Devan.
"Enak aja. Nggak. Nanti kamu macem-macem lagi." sahut Shena.
"Keliatan ya kalo aku mau macem-macem?" ucap Devan sengaja iseng.
"Tuh kan.. Sana ih."
"Becanda. Aku nggak sebrengsek itu. Kamu kalo mau siap-siap ya silahkan, aku cuma mau liat tv. Ada tv kan?" ucap Devan sambil nyeloning masuk, membuat Shena semakin kesal dibuatnya.
"Devan! Aku kan belum nyuruh masuk." ucap Shena sedikit teriak.
__ADS_1
"Huhhh.." menghela napas prasah.
"Awas ya kamu macem-macem." Shena memperingati
"Nggak. Palingan aku cuma masuk kamar aja." ucap Devan santai.
"Devannn...!!!" teriak Shena.
"Hahaha.."
°
°
Saat ini mereka telah berada di bandara, dengan sedikit drama yang terjadi. Siapa lagi jika bukan Devan yang membuat Shena kesal, bahkan Shena sudah hampir membatalkan penerbangannya dengan Devan hari ini. Bagaimana tidak, di saat Shena sudah siap untuk pergi, tiba-tiba Devan dengan enaknya meminta Shena untuk di buatkan kopi dengan alasan ia mengantuk, dan jika Shena tidak menurutinya, ia juga beralasan bahwa nanti akan berbahaya jika berkendara dalam keadaan mengantuk. Akhirnya dengan terpaksa, Shena pun menuruti permintaan tamunya yang tak di undang itu. Saat Shena kembali dari dapur dan membawakan kopi, ia terkejut melihat Devan yang sudah tertidur, sontak saja hal itu membuat Shena semakin di ujung tanduk. Mendengar teriakan dan ancaman Shena membuat Devan segera bangun dan langsung meminum kopinya, menikmati rasa kopi yang sepertinya belum pernah Devan rasakan sebelumnya rasa kopi yang pas seperti ini. Hingga lirikan tajam Shena, yang Devan paham maksudnya, membuatnya langsung menenggak habis kopi itu dengan rasa panas yang masih terasa di tenggorokan.
°
°
"Next kalo ketemu, buatin lagi ya." ujar Devan.
"Hah?"
"Kopinya pas." jelas Devan membuat Shena memutar bola matanya malas.
"Beneran." lanjut Devan.
"Ogah banget. Bikin sendiri." ucap Shena.
"Masih kesel?" tanya Devan.
"Super duperr keselll." jawab Shena di dukung wajah kesalnya.
"Tau gini aku masih tidur." lanjutnya.
"Kalo tidur kapan sarapannya." ucap Devan, namun tidak mendapat tanggapan dari Shena yang cemberut.
"Udah makan. Jangan cemberut mulu. Bikin aku gemesss." ucap Devan membuat Shena semakin memelototkan matanya.
"Udah-udah bentar lagi boarding." lanjut Devan.
Mereka berdua sudah selesai boarding tiket, begitu pun dengan Mr. Smith.
Tak lama pesawat take off. Shena duduk di dekat jendela disusul dengan Devan di sampingnya.
"Kenapa liatin akunya begitu?" tanya Devan.
"Harus ya duduk bareng? Tuh Mr. Smith kasian sendiri." ucap Shena.
"Biarin dia cowok. Dari pada kamu yang sendirian." balas Devan.
__ADS_1
"Udah biasa."
"Mulai detik ini, nggak akan ku buat biasa." ucap Devan dengan menatap Shena serius.