
Izah menatap tajam pada pada Rendra. Pria itu terkekeh. "Benar Mam, Rendra gak bakal nyasar ketempat tidur orang lain, lagi pula apa Mama dan Daddy gak kangen sama anak angkatnya?" kata Rendra dengan muka memelas.
"Enggak!" jawab Ammar dan Izah bersamaan. Mereka semua pun tertawa mendengar jawaban iza dan Amar Hendra mencebikan bibirnya. "Kalian masak sih nggak kangen Rendra," tanya rendra kembali. Izah pun tertawa lalu berkata," Yaa, sudah tapi jangan macam-macam."
"Nggak akan Ma, paling cuma satu macam," kekeh Isa sambil. memukul kepala Rendra. "Mama sukanya pukul kepala untung aku sudah lulus, kalau belum lulus Bagaimana coba, kalau terjadi sesuatu dengan otak di kepalaku?" katanya sambil tertawa. "Sudah sana pergi ke kamarmu Kamu sudah makan belum, sudah salat belum," tanya Izah
"Sudah mam," jawab Rendra.
"Kalau sudah, pergi ke kamarmu sana! Kamu juga Rena kunci pintu kamarmu!" kata Izah.
Aku nggak akan nyasar Ma," jawab Rendra.
"Jaga-jaga Ren," kata Izah sambil terkekeh, Rendra pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu pergi ke kamar, yang selalu ditinggalinya saat berada di rumah orang tua angkatnya. Rena pun mengikuti dari belakang, Ia pun pergi ke kamarnya sendiri, sebelum masuk renda pun menarik Rena. "Ren jangan kunci pintunya ya," pesan Endra. "Emang kenapa? tanya Rena sambil terkekeh.
"Nggak kenapa-kenapa barangkali kamu butuh bantuanku," kata Rendr
Rena pun kembali tertawa. "Aku tidak butuh bantuanmu Bang Ren. lelaki itu pun ikut tertawa. "ya ya yah aku tahu kamu pasti takut kan."
"Tidak juga Bang Ren, nggak mungkin lakukan apa yang menjadi larangan dari mereka.
"Baiklah terserah kamu lah," katanya sambil berjalan menuju kamarnya. Setelah itu memasuki ruang kamarnya. Dia menatap ruangan itu yang lama dia tinggalkan, Mama masih menjaganya dengan sangat baik bahkan sangat bersih, jadi setiap hari dibersihkan oleh Art, Rendra berjalan menuju working closed dan mencari baju tidurnya, "Masih tetap rapi dan wangi mungkin juga beberapa kali di cuci.
Dia mengambil piyamanya lalu memakainya dan berjalan menuju balkon kamarnya, hari belum lah terlalu malam, dia duduk di sana sambil melihat kota Jakarta dari tempatnya berdiri, lalu dia melihat bahwa balkon kamarnya terhubung dengan balkon Rena. Pria itu pun tersenyum, Dia mempunyai ide untuk menjalankannya sesuatu, yang akan dilakukan nanti, ketika semua sudah pada tertidur.
Rendra pun kembali ke kamarnya lalu merebahkan tubuhnya di sana. Angannya mengembara pada beberapa tahun yang lalu ketika seorang gadis kecil menghampirinya dan berkata,
__ADS_1
"Kamu pandai sekali main gitar bisakah kamu mengajariku bermain gitar? Akan kuberikan uang ini padamu, cukup bukan untuk bisa mengajariku bermain gitar. Dia pun menjawab, "Tentu ini sangat cukup, terima kasih aku mengumpulkan uang untuk bisa masuk sekolah di SMP saat ini, aku belum berani untuk daftar karena uangku belum cukup, untuk membeli seragam buku-buku dan lain-lainnya apalagi adikku sedang sakit, terima kasih banyak ini akan aku gunakan berobat untuk adikku," katanya sambil tersenyum.
Setelah mengajari gadis itu dia pun berlari menuju rumahnya yang jauhnya berkilo-kilometer.
Terus berlari tanpa lelah, hingga sampai di rumahnya ia pun terkejut, ada bendera kuning di kibarkan di depan rumahnya.
Dia pun berjalan masuk dengan gontai, ibu yang duduk di tubuh adiknya yang sudah terbungkus kain kafan.
Di terduduk lunglai sambil tersedu.
Dia membuang ingatannya tentang itu, dipandanginya langit-langit kamarnya. Dihembuskan nafas dengan kasar. Lalu di pejamkan mata dan berusaha untuk tertidur. Tidak lama kemudian ia pun tertidur melupakan keinginan jahilnya pada Rena.
Malam semakin larut kesunyian mengantarkan mereka dalam tidur lelapnya memberikan ketenangan hingga pagi menjelang.
Rendra melangkah dengan malas, menuju kamar mandi membersihkan diri beberapa saat ia pun keluar dengan memakai handuk sebatas. Lalu dia mengambil baju koko dan sarung lalu memakainya melaksanakan sholat subuh di kamar pribadinya karena dia sudah terlambat untuk berjamaah di masjid. Karena dia tidak menyalakan alarm handphone-nya. Setelah selesai ia pun keluar kamar lalu menuruni tangga menuju meja makan.
Hari ini adalah hari Minggu, dimana semua orang sedang menikmati waktunya bersama di rumah. Ia melihat mama Izah dan bik Siti sedang membuat sarapan pagi, Rendra pun duduk di kursi meja makan.
Ma, Daddy kemana?" tanya Rendra pada mama Izah.
"Dady lagi jalan-jalan sama kakek Burhan keliling komplek," jawab Izah.
Kalau Vino dan Rena kemana?" tanya Rendra.
'Vino setelah solat subuh dia kembali ke kamarnya, sedangkan Rena kalau Minggu begini mah sama saja, habis subuhan, tidur lagi dia molor anaknya, kebiasaan itu gak ilang-ilang," jawab Izah.
__ADS_1
"Ma, kalau kira--kira tunangan dulu, boleh apa nggak yaa,?" tanya Rendra pada Izah.
Mama gak tahu," jawabnya pada Rendra.
"Kalau menikah boleh apa engak, Ma?" tanyanya lagi dan pertanyaan kali ini mendapatkan pukulan telak di kepalanya dari Izah.
"Aduh, Ma. Sakit!" teriak Rendra sambil mengusap kepalanya.
"Kamu semenjak kenal, Rena. Otak kamu gak kamu dipakai, Rena itu masih kecil bagaimana bisa mengurus surat Nikahnya," kata Izah pada Rendra.
"Rendra tahu, Ma. Nikah siri dulu kalau sudah besar urus surat nikahnya," jawab Rendra pada Izah.
"Kamu jangan ngadi-ngadi kamu Ren," gerutu Izah
"Enggak Ma, aku ngak lagi ngadi-ngadi, aku lagi sedang bersungguh-sungguh, aku pasti jagain Rena, sampai benar-benar cukup umur, biar kalau pergi-pergi itu Rena halal untuk aku Ma," kata Rendra.
"Ini makan, Ren. Gak usah diskusi itu dulu, kalau Ayahnya Rena bahan dengan dia, Mama pusing kalau kamu ajak bahas ini ke Mama, yang punya anak bukan Mama," katanya sambil meletakkan piring berisi bakwan sayur di depan Rendra.
"Jangan pusing dong Ma! terus yang dukung Rendra siapa? Yang bantu ngomong sama Om Angga siapa? Kalau bukan Mama," kata Rendra sambil menyomot bakwan sayur lalu di masukan di mulutnya.
"Ya, kamu bilang sendiri sama Om Angga, jadi dia bisa nilai kamu itu jentle dan bisa bertanggung jawab, berkenalan dengan baik-baik dan utarakan sendiri apa yang kamu inginkan Ren," kata Izah.
"Apa Om Angga nanti gak marah, Mam?" tanya Rendra.
"Enggak, kalau Mama yang ngomong kesannya kamu itu sembunyi di pantat Mama," sarkas Izah yang membuat Rendra tertawa.
__ADS_1