
Di restoran mereka makan bersama, Diki belum membahas tentang masalah putranya dia hanya tidak ingin merusak suasana makan bersama, toh sang mama sudah memberikan teguran pada sang putra, jadi dia memilih untuk lain waktu saja saat mereka punya waktu bersama berdua saja.
Pembicaraan sesama lelaki sangatlah berbeda. Diki tidak ingin anaknya merasa di hakimi oleh kedua orang tuanya.
Setelah makan siang bersama Nara pamit pada sang suami untuk mengunjungi kakeknya, mereka bersamaan keluar dari restoran dan masuk ke mobil masing-masing dengan tujuan berbeda, Nara ke rumah sang kakek, sedangkan suami kembali ke rumah sakit tempatnya berdinas.
Mobil Nara pun berjalan meninggalkan restoran begitu pula sang suami. Dengan kecepatan sedang menuju ke rumah sang kakek.
"Kenapa kita pergi ke kakek buyut?" tanya Alvan
"Mau kasih wejangan sama kalian biar gak nakal," jawab Nara.
Alvan menepuk dahinya. "Tadi kan sudah dapat dari Mama, ditambah lagi nih dari kakek, kalau Al nanti pusing tanggung jawab yaa, Mam," kekehnya.
"Ih, mana ada tuh pusing paling setelah kalian dapat wejangan dari kakek, kalian pada manjat pohon buahnya kakek lalu pada nangkring di sana makan buah di atas pohon sambil buangin sampah seenaknya, besoknya si Bejo akan geleng-geleng kepala karena banyak kulit kelengkeng, rambutan dan kulit serta biji mangga.
Alvan tertawa. "Kok mama tahu sih."
"Tahulah, Mama juga tahu loh diam-diam telpon si Bejo suruh jemput ke rumah karena ingin ke rumah kakek," tebak Nara pada putranya itu.
Tak lama kemudian mereka sampai ke rumah sang kakek, dia datang bersamaan dengan sang kakak ipar.
Turun dari mobil bersama saling menghampiri dan berpelukan sementara sang putra saling membuang muka satu sama lainnya.
"Loh ini, kenapa kok ngak jabatan tangan ini, kalian ini saudara loh bukan musuh," kata Nara.
"Ayo, Han! Kamu minta maaf sama Al walaupun kamu kakak sepupu tetap kalau salah yaa, kamu minta maaf sama adik bukan kamu berharap adik yang minta maaf," kata Anin pada putranya.
__ADS_1
"Maaf," ucap Ehan
"Iya," jawab Al mereka saling berjabat tangan tapi tetap belum mengisyaratkan kalau mereka telah berdamai.
Mereka pun mengucapkan salam dan setelah mendapat jawaban mereka masuk ke rumah, Nara dan Anin mencium punggung tangan Kakek dan Neneknya, lalu memeluk tantenya. "Hello adikku ganteng," sapa Nara pada Bayhas sambil memeluk anak lelaki kecil itu.
"Ihh, ngapain kak Nara peluk-peluk Bay?" tanya Bay risih. Membuat mereka tertawa.
Tak lama kemudian terdengar salam, dan teriakan anak kecil masuk ke dalam.
"Hello Kakek, Nenek. Loh pada berkumpul yaa?"tanya Aska sambil mencium punggung tangan kakek, nenek, nenek muda, dan tante-tantenya.
di susul oleh Ratih sambil menyapa, "Wah pada kumpul nih, Hello Tante, makin cantik saja," sapanya memeluk Aila, Anin dan Nara lalu mencium punggung tangan Raka dan Rima.
Semua cucu dan cicit berkumpul mengitari Raka sing kakek mulai memberikan wejangan terhadap cucu-cucunya itu.
"Sama saudara itu tidak boleh bertengkar, tidak boleh saling berebut kalau memang ceweknya suka sama Al, Ya sudah kalian diam saja, cari yang lainnya, kalian itu juga masih kecil-kecil, jangan main rebut dan jangan berkelahi kan Ini saudara loh, harusnya lebih menyayangi daripada orang lain. Kamu Ehan harusnya kamu nggak boleh seperti itu sama Al, kalau kesepakatannya begitu ya begitu. jangan berebut, berkelahi semacam itu.
"Habis dikit-dikit selalu Al duluan, aku ini kakaknya, Kenapa kok aku jadi terakhir setiap kali ada pembagian seperti itu,"
"Kalian sering begitu?" tanya kakek
"Enggak kek kita nggak pernah ngerjain siapapun, kita baru ngerjain cuma Lea aja habisnya sih Dia kejar-kejaran kami kan nggak enak juga," kata Aska
"lntinya kalian itu nggak boleh ngerjain orang apapun bentuknya, yang kalian lakukan kemarin itu juga buruk loh, kalian suruh-suruh dia padahal tinggal kembalikan tuh, barang-barang ke dia sudah selesai, nggak usah bikin perkara, akhirnya timbul perkara lain, 'kan," kata Raka
"Itu aska yang ide kek, dia yang punya acara seperti itu, kalau kita kan tinggal manut saja sama putusan mas Aska sama Om bagaimana," sahut Ehan
__ADS_1
"Berarti Kenapa kalian kemarin mau? Lagi pula kenapa kalian main setuju saja? Padahal kalau tidak setuju aku juga tidak apa-apa, terus sekarang kalau ada masalah aku yang kena, gimana sih sekalian," kata Aska.
"Pokoknya begini anak-anak sekarang itu dilupakan aja besok-besok kalian tidak boleh begitu," kata Raka
"Kalau Ehan yang melakukan sendiri bagaimana kek soalnya kan belum dapat giliran, mereka sudah semua," kata Ehan gak perduli dimarahin ataupun tidak.
"Aduh bagaimana kalian ini kan sudah dibilang jangan ya jangan kalau Ehan belum itu lebih baik daripada yang kalian yang sudah-sudah ini," kata Raka
"Ya, Kakek gak seru di akunya dong," kata Ehan
"Ya dibikin seru sendiri saja, Han," kata Aska sambil tertawa
"Ahhh, kalian nggak seru masak waktunya aku ternyata sudah ndak boleh, keputusan itu harus disesuaikan dong sampai tamatnya," protes Ehan
"Maksud apa dengan tamatnya?" tanya Aska
begini setiap permainan itu kan ada awal dan akhirnya. Nah, kalian sudah memainkan, aku itu belum bermain apa-apa lho yaa. Permainan itu dari awal sampai akhir, lah ini kan belum berakhir Lalu kenapa tiba-tiba temat," kata Ehan
"Yaa, kalau tiba-tiba gak boleh, yaa itu nasib kamu lah, Han," sahut Bay
"Ck, Enak aja kalian itu, aku kan juga dihukum, kalau aku dukung Kenapa nggak dapat hadiahnya? Kalia sudah dapat hadiahnya Aku belum tapi Aska kenapa dia tidak dihukum?" kata Ehan
"Kamu dan Al, 'kan bertengkar itu yang membuat kalian di hukum, sedangkan Om Bay kena getahnya karena melerai kalian dan aku dari tadi diam saja," jelas Aska sambil tertawa.
Begini lho maksud kakek anak-anak kamu kebagian nggak kebagian itu kan buruk tinggalkan saja Ehan,"
aku nggak mau ke aku kan sudah dihukum buat apa aku dukung tapi aku nggak bisa kayak mereka, kamu juga Al,
__ADS_1
Kamu tuh harusnya ngerti kalau aku minta awal itu berarti nantinya akan terjadi ini aku belum apa-apa saja sudah berhenti ini belum apa-apa loh yang penting apanya, Ahhh, aku jadi pengen marah sama kamu kalau diajak kompromi maunya marah meluluh,"kata Ehan