
Terkadang harus berbesar hati untuk memberikan maaf kepada orang lain yang mungkin telah melukai hati kita yang paling dalam, agar mampu berdamai dengan hati. Tak perlu lakukan apa-apa untuk mengobati hati yang terluka karena perbuatannya, sebab apa yang dilakukan Manusia di muka bumi ini akan kembali pula pada manusia itu sendiri, jika kita melakukan kebaikan pada orang, maka kita pun akan mendapatkan kebaikan dari orang lain pula walau bukan berasal dari orang yang kita tolong, begitu pula sebaliknya.
Maka tidak perlu sibuk memaki atau merancang sesuatu untuk membalas mereka.
Begitu pula yang di lakukan Ratih pada Cinta, tak mau dan tak ingin membalas. Berdoa untuk kebaikan tantenya dan juga keponakannya itu lebih baik.
Bara memeluk Ratih dan mencium keningnya. "Bang, aku hanya merasa kasihan sama tante Cinta, mempunyai teman dan kekasih yang tak tulus padanya."
"Sudah jangan di pikirkan lagi itu ujian dari tante Cinta. Semoga Tante cinta dalam kebaikan dan tak kurang suatu apapun. keponakan mu di jaga oleh Allah dari hal-hal yang tidak baik, cukup sampai pada tante Cinta saja. Ayo, kamu masak apa? aku sudah sangat lapar, tapi kau suguhi dengan tangisan mu itu." katanya sambil menarik tangan Ratih dan menuntun ke meja makan.
"Bang, maaf ya baru saja Abang pulang tapi malah dengar aku nangis. Duduk dulu, Bang. Biar aku panaskan dulu sayur dan lauknya," kata Ratih pada Bara sambil mulai memanaskan makanan yang di masak tadi siang. Setelah itu ia melayani suaminya mengambilkan makanan untuknya. Lalu mereka makan dengan tenang.
Setelah makan merekapun bercengkrama duduk di balkon Apartemen, Bara bercerita tentang kegiatan hari ini dan akan memulai untuk membuka usaha bersama dengan temannya. Bara merangkul istrinya, "Rat, apa kau tak ingin kuliah?"tanya Bara sambil menatapnya lekat wanita yang menjadi sandaran hatinya.
"Nunggu satu tahun lagi, Bang. Kalau di kasih anak secepatnya syukur Alhamdulillah, jadi kalau kuliah sudah gak kepayahan bawa perut buncit kemana-mana." kata Ratih sambil terkekeh.
"Ngomong-ngomong tentang anak sebaiknya sekarang kita program bikin anak saja bagaimana?" tanya Bara lalu menggendong sang istri dibawanya ke tempat terindah, ranjang king size dan jam dinding yang tergantung di kamar menjadi saksi bisu pergulatan panjang di malam itu, diiringi musik alami yang keluar dari bibir sang istri membuatnya Bara semakin bersemangat memacu gairah yang semakin bergelora hingga membuat sang istri lemas kelelahan, Bara mengecup dahi sang istri setelah beberapa kali mencapai puncak.
__ADS_1
"Sayang bersikan dulu tubuhnya baru tidur, aku siapkan air hangat untukmu ya," kata Bara sambil berjalan ke kamar mandi menyiapkan air hangat untuk istrinya. Setelah siap ia menggendong istrinya dan di dudukan ke bathub. Dia pun membantu sang istri memandikannya karena Ratih seolah sudah tak punya tenaga lagi hanya untuk sekedar untuk membersihkan dirinya sendiri setelah selesai ia memakaikan bath robe pada sang istri.
"Bang, aku sendiri saja. Abang, mandi saja," kata Ratih sambil tertatih keluar dari kamar mandi.
Bara hanya tersenyum ketika melihat istrinya keluar kamar mandi dengan langkah perlahan dan tertatih.
Setelah istrinya keluar dari kamar mandi Bara pun mulai membersihkan tubuhnya, tak seberapa lama Bara keluar dengan hanya memakai handuk, sebatas pinggang.
Bara melihat istrinya sudah tertidur pulas dengan mengenakan daster rumahan yang sengaja ia bawa dari rumah. Ia mengambil pineyama dari dalam lemari dan memakainya lalu ia berbaring di samping istrinya memeluk dengan erat.
...----------------...
Terdengar langkah kaki lalu pintu terbuka, Barant masuk ke kamar dengan wajah sumringah melihat sang istri begitu tampil memukau. Cinta menyambut dengan senyumannya.
"Apa kau ingin mandi? Akan ku siapkan untukmu." katanya sambil mengambil tas Barant dan di letakan di sofa.
"Aku ingin Appetizer, Honey. Aku sudah mandi sebelum pulang kesini, "katanya sambil menikmati bibir kenyal milik istrinya itu.
__ADS_1
Dua hari yang lalu Cinta resmi menjadi istri sirinya Tuan Barant. Cinta tak pernah tahu bahwa Tuan Barant mengurus pengesahan pernikahan secara negara, karena ia tak ingin kehilangan Cinta untuk kedua kalinya. Dia telah mengenggam wanita itu, tak akan di lepas untuk selamanya.
"Hanya Appetizer tidak ingin main course dan juga dessert?"
"Ha-ha-ha, kau menawarkannya? Sungguh mengiurkan, aku tak akan menolaknya." kata Barant tak melepaskan benda kenyal dari bibirnya yang sudah menjadi candunya dan baru di lepaskan saat benar-benar membutuhkan udara untuk bernafas.
"Tapi sebelumnya aku ingin bicara padamu, dari hati ke hati," kata Cinta sambil membuka kancing baju Barant satu persatu.
"Ok! Kemarilah duduk di pangkuanku, " kata Barant sambil menarik tangan cinta mengajaknya duduk di sofa dan cinta pun jatuh terduduk di pangkuan Barant.
"Kata kan, aku akan mendengarkannya."
Cinta menghelah nafas. "Bisakah aku hanya untukmu tuan Barant? Aku tak pernah ingat kapan aku melukai hatimu, tapi bukankah kau telah membalasnya, Tuan Barant. Tolong maafkan aku jika pernah melukaimu dan tolong hargai aku, Tuan Barant. Jadikan aku hanya untukmu, jangan kau berikan pada yang lain, aku tak akan sanggup hidup lagi," katanya lalu mencium bibir tipis yang memikat itu sedikit lama, Barant memejamkan matanya. "Maaf Cinta jika saat itu melukai mu cukup dalam, tak akan melakukannya lagi. Boleh aku minta menu lengkap?" tanyanya Tuan Barant sambil menatap Cinta
"Tentu, hanya untuk Tuan Barant," kata Cinta sambil tangannya bermain di dada bidang suaminya.
"Baiklah jangan menyesal jika kau ku buat lelah tak berdaya, "katanya sambil melucuti semua benang yang menempel di tubuh Cinta dan Cinta hanya bisa mengangguk dan tersenyum
__ADS_1
Tak ada lagi kata terucap hanya ada sentuhan yang berbicara untuk mengungkapkan rasa, dimana tak ada kebencian di antara mereka, yang ada adalah saling tulus menerima hati satu dengan yang lainnya.
Biar masa lalu menguap dengan sendirinya, jangan di hadirkan kembali, lupakan saja kebencian itu agar hidup bisa lebih bahagia, agar waktu menuntun kita untuk lebih baik lagi menjalani hidup ini.