Menikahi Sahabatku

Menikahi Sahabatku
Menjalin Keakraban


__ADS_3

Pagi menjelang, kicau burung bersautan, udara yang basah dan kabut masih menghiasi, Frans menatap sendu di balik kaca ruangan bayi, di sanalah putranya berada masih dalam perawatan, ia tak mengira akan secepat ini menjadi ayah, gadis kecil yang menjadi sahabatnya, gadis yang selalu menjaganya saat dia lemah kini telah menjadi ibu dari putranya. Setelah puas memandang dari balik kaca, ia berjalan keluar rumah sakit mencari makanan untuk Aila, ia masuk kedalam mobil menjalankannya keluar area rumah sakit, menyusuri jalanan mencari makanan yang mungkin di sukai Aila.


Beberapa kali Frans berhenti dan membeli sesuatu hingga dirasa sudah cukup ia pun kembali ke rumah sakit. Ia pun keluar dari mobilnya menjinjing Beberapa kantong plastik berjalan melewati lobby lalu berjalan di lorong rumah sakit melewati beberapa ruangan akhirnya ia sampai di ruang perawatan Aila. Frans membuka pintu dan masuk kedalam disambut dengan senyum manis Aila, Frans meletakan semua makanan yang telah dibelinya di atas meja, lalu berjalan menghampiri istrinya yang nampak segar mencium kening lalu bibirnya. "Wangi sekali apa sudah boleh mandi?" tanyanya pada Aila.


"Tadi perawat datang menyeka tubuh ku, aku malu sekali, padahal aku ingin kamu yang melakukan namun kamu menghilang begitu saja dan kembali membawa banyak makanan."


"Maaf Ai, tadi kamu masih tidur waktu aku akan keluar membeli makanan, aku tidak tahu kau ingin memakan apa? Aku tadi membeli beberapa farian bubur kau boleh memilihnya ada bubur sagu, bubur kacang hijau, dan bubur sumsum. Aku juga membeli tiga buah nasi kotak," katanya sambil membelai rambut Aila.


Aila terkekeh. "Banyak sekali, bagaimana aku menghabiskannya?" Frans tertawa. "Tidak harus habis sekaligus 'kan, Sayang. Mau makan apa pagi ini biar kuambilkan?" Aila berfikir sebentar sambil menatap Frans. "Aku sebenarnya ingin makan bubur sagu, tapi aku juga ingin makan bubur kacang hijau," pintanya sambil mengerucutkan bibirnya, dengan gerakan cepat Frans menyambar bibir itu, menikmati benda kenyal yang selalu ia inginkan. "Kudapan yang manis," katanya sambil berjalan menuju meja mengambil bubur kacang hijau dan bubur sagu lalu kembali menghampiri Aila dan duduk didepannya menyuapkan bubur kacang hijau ke Aila lalu berganti dengan Bubur sagu. "Bagaimana rasanya apa Enak?"


Aila mengangguk dan tersenyum. Sesat kemudian, kedua bubur itu pun tandas tak tersisa. " Mau nambah lagi?" tanya Frans sambil mengedipkan sebelah matanya. "Genit," celetuk Aila. "Nambah lagi apa enggak?" tanya Frans kembali.


"Enggak," jawab Aila. "Tapi aku mau nambah, Ai," jawab Frans sambil tertawa. Aila mengernyitkan dahinya tanda ia tidak mengerti apa maksud Frans ingin menambah makanan apa karena Frans dari tadi tidak makan apa-apa. "Emang mau nambah apa dari tadi kamu 'kan gak makan apa-apa?"

__ADS_1


"Kudapan Ai," jawab Frans sambil mengambil makanannya lalu mulai menyuapkan ke dalam mulutnya. "Dasar mesum," hardik Aila sambil memutar matanya ke atas. "Gak papa Ai, mesum sama kamu, kalau mesum sama yang lainnya nanti kamu pergi, aku yang repot cari ke mana, kalau cuma di hotel bang Ammar bisa ku cari, bagaimana kalau malah di curi pak Danu, bisa kelabakan aku," kata Frans sambil melanjutkan makannya. Aila, memutar bola matanya.


"Kalau mau coba, silakan," kata Aila sambil membuang mukanya. "Gak mau Ai, maunya cuma sama kamu." Frans menyudahi sarapan paginya dan meminum air mineral yang ia beli tadi, setelah itu ia pun kembali mendatangi istrinya lalu menciumi seluruh wajah istrinya sambil berbisik, "kalau masih cemberut aku gak akan berhenti." Dan akhirnya Aila pun tertawa.


...----------------...


Di kediaman Raka , Setelah sholat subuh kelima pria gagah itu berjalan pagi keliling komplek, mereka menemani Raka untuk berolahraga ringan, menjadi pusat perhatian beberapa penghuni kompleks yang kebetulan melakukan hal yang sama dengan mereka, terkadang Diki dan Rafa mendahului mereka lalu berhenti sejenak untuk menunggu sang kakek. "Sudah sana kalian lari saja, Jangan menunggu Kakek! ada Angga dan Angga yang menemani," seru Raka pada Cucu-cucunya. Akhirnya mereka berdua lari berkeliling kompleks meninggalkan kakek bersama Ayah dan Pamannya, tak hayal lagi membuat mata gadis-gadis terbelalak ketika berpapasan dengan mereka karena terpesona dengan kegagahan dan ketampanan mereka di tambah dengan tubuh yang basah berkeringat, membuat para gadis semakin terpesona dan membayangkan mereka berada di dekapan dua pria tampan itu, mereka melihat tanpa berkedip hingga akhirnya hilang dari pandangan mereka. Rafa dan Diki berlari hingga empat putaran lalu kembali ke rumah. Ketika sampai di pintu gerbang rumah nampak kakek, paman dan Daddy duduk di atas tikar yang di gelar di taman depan rumah, Berbagai makanan dan minuman hangat sudah tersedia di sana. Raka melambaikan tangannya pada Diki dan Rafa mengajaknya bergabung untuk melepaskan lelah serta sarapan pagi.


Mereka pun berjalan menghampiri Kakek, Daddy juga Paman lalu duduk di tikar bersama mereka.


Nara dengan sigap menyeka keringat Diki tanpa rasa malu maupun canggung membuat Diki tertawa dan memeluknya dengan gemas, sementara itu Anin dengan malu-malu memberikan handuk pada Rafa. "Yang, mau dong seperti Nara," pinta Rafa membuat wajah Anin merona, dengan terpaksa ia mengabulkan keinginan Rafa ia pun menyeka keringat suaminya, Rafa tersenyum melihat kecanggungan Anin.


"Ayah juga dong Bun," pinta Angga pada Rika. Rika terkekeh. "Apanya yang disekah Ayah? Gak ada keringatnya."

__ADS_1


"Pura-pura ada deh, Bun. Biar romantis," sahut Angga sambil tertawa, membuat mereka yang mendengarkan kelakar Angga ikut tertawa juga. Rika memeluk suami sambil tertawa tak berhenti.


hingga dering telepon Rika berbunyi. Ia pun menerima panggilan yang ternyata dari Rena, terdengar suara Rena dari seberang yang protes pada Bunda dan Ayahnya tanpa mengucapkan salam.


"Kenapa Bunda sama Ayah gak pulang? Gak ajak Rena juga ke rumah Kakek?"


Rika tertawa. "Bunda lupa, Sayang. Ke sini minta antar supir yaa, di tunggu Bunda," kata Rika pada putri bungsunya itu. "Baiklah," kata Rena lalu menutup sambungan teleponnya.


Rena bergegas ke kamar dan berganti pakaian dan berpamitan pada Bik Darsih. "Bik, Rena mau ke rumah Kakek yaa, masak buat Bibik saja sama sopir karena sepertinya harus menginap di sana," kata Rena menjelaskannya.


"Baik, siap Non !" sahut Bik Darsih.


Rena pun keluar rumah dan sopir sudah menunggunya di sana, Rena pun masuk dan mobil berjalan dengan kecepatan sedang meninggalkan kediamannya menuju rumah kakeknya.

__ADS_1


Waktu menunjukkan pukul 08.00 jalan tidak begitu padat sehingga sebentar saja Rena sudah sampai di rumah Kakeknya.


__ADS_2