
Frans berjalan ke kamarnya lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang, dan membiarkan kakinya menjuntai ke bawah, hari ini tubuhnya terasa lelah walau acara tidaklah menguras tenaga, entah Frans tidak tahu. Mungkin karena kesal pada Tantenya itu.
Aila menyusul ke dalam kamar, berbaring dengan posisi yang sama, ia tak mengira pada akhirnya ia hidup bersama sahabat kecilnya itu.
"Frans," panggil Aila
"Hemm," jawab Frans sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Apa kau tak ingin merencanakan liburan? Kita belum pernah pergi berdua, 'kan?" tanya Aila
Frans terkekeh. "Ai jika kau ingin pergi kemana katakan saja, jangan melempar pertanyaan!"
"Aku sih ingin Frans, selama aku hamil kau tidak pernah mengajakku kemana-mana, Frans? Hanya berputar-putar saja di sini, aku kadang iri saat Nara bercerita dia pergi kesini dan kesana," katanya pada suami itu.
"Apa perlu kamu hamil lagi agar aku bisa mengajakmu pergi kemanapun kau mau?" tanya Frans terkekeh.
"Kau jangan mengejekku Frans aku sudah tidak mungkin bisa hamil, aku tahu itu, Frans," katanya dengan mata berkaca-kaca.
Frans membalikan tubuhnya menghadap Aila lalu memeluknya. "Ai, sulit bukan berarti tidak bisa hamil lagi, kau pasti bisa hamil lagi, Ai."
"Frans ketika nanti aku tidak bisa memberikan mu anak lagi, apakah kau akan mencari wanita lain untuk bisa punya anak?" tanya Aila
"Kenapa aku mencari yang lain jika istriku sangat cantik, begitu bodohnya aku bila melakukannya, si Dokter Danu itu akan punya kesempatan mencurimu," kata Frans.
"Hanya itu alasannya?"tanya Aila
"Tidak, bukan hanya itu, tapi karena aku mencintaimu Ai," kata Frans sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ahh, pernyataan cinta yang benar-benar tidak romantis, tidak ada candle light dinner, tidak bunga dan musik romantis," timpal Aila sambil mengerucutkan bibirnya, dengan cepat dikecup oleh Frans.
"Tunggu landasannya kering dulu yaa, aku mau menu komplit," kata Frans sambil tersenyum menyeringai.
Aila memukul dada Frans dan ia pun tertawa.
"Frans kau belum menjawabku," kata Aila
"Yang mana, Ai?" tanya Frans
"Kapan kita bisa pergi, kau tak mengajakku bulan madu ataupun baby moon," kata Aila sebal.
"Aku itu sebenarnya mau mengajakmu waktu liburan semester, tapi Bayhas keluar duluan, Ai. Tunggu Bayhas usia satu tahun yaa, kita akan agendakan, yaa," kata Frans pada Aila dan di sambut dengan seyuman manis istrinya itu.
Terdengar Suara adzan duhur berkumandang, Frans bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk berwudhu lalu berpamitan kepada istrinya untuk pergi ke masjid bersama sang kakek.
Aila bergegas bangun dan melangkahkan kakinya ke ruangan sang putra, di periksa popoknya dan masih kering. Ia pun keluar dari ruangan itu untuk membantu Nenek dan Tante menyiapkan makanan, tapi ketika sampai di sana terlihat Tante Raya duduk bersila di lincak yang terbuat dari bambu itu sambil memakan sate kambing sisa acara tadi.
"Banyak makanan, Ai. jangan di kamar saja!" kata Raya sambil terkekeh.
"Ahh, Tante, kita gak ngapa-ngapain kok," katanya dengan muka yang memerah karena malu.
"Ngapain juga gak Apa-apa, Ai,"katanya sambil tertawa.
"Ini apa Tante?" tanya Aila pada Raya tetang kuah merah yang ada di panci untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Itu kare ikan gabus untuk mu, Ai. Supaya luka operasimu cepat sembuh dan memang lebih baik di tim atau dikukus, atau dimasak yang berkua begini.
__ADS_1
Kalau yang ini jangan dulu deh, Frans mungkin juga gak akan ambil itu karena itu tante tadi beli sate ayam, kalau Frans mau biar ambil yang ini aja, Ai," jelasnya pada Aila
"Kenapa, Gak boleh ambil yang itu, Tan?"
"Karena gak tadingan, Ai. kamu kan masih itu," kata Raya terkekeh.
Aila hanya tersenyum samar.
Mereka mulai membersihkan meja prasmanan beberapa menu yang masih ada di sana diambil dan dihangatkan, masih tersisa makanan begitu banyak, rencana akan di bagikan ke tetangga dan beberapa lagi yang akan dibawa oleh Raya.
Setelah menghangatkan semua masakan, mereka menaruh di mangkok dan di piring, lalu menatanya di atas meja.
Frans dan kakek Imran baru pulang dari masjid merekapun langsung bergabung di meja makan bersama yang lainnya.
setelah itu makan bersama dengan tenang, saat itu tiba-tiba suara tangis Baiyhas terdengar dan Aila berdiri akan pergi ke ruangan anaknya, namun di larang oleh Frans. "Makan saja, Mi. Biar papi yang melihat Bayhas," kata Frans lalu melangkah 'kan kakinya ke kamar tidur anak, diperiksa popoknya ternyata basah.
Kemudian dia mengganti popok anaknya dengan yang kering, dan Bayhas tertidur kembali. Setelah itu. Frans membawa popok kotor ke dalam kamar mandi serta mencucinya di sana lalu membawanya keluar untuk di jemur.
Aila sudah selesai makan langsung mencuci tangannya. habis itu, ia pergi ke kamar anaknya serta mengangkat Bayhas dari box bayi lalu segera menyusuinya terlihat bayi sedang lapar dengan menunjukkan mulutnya yang mulai bergerak mencari punting yang menjadi sumber makanannya itu.
Frans dan yang lainnya melanjutkan makan siangnya, setelah selesai ia menyusul Aila di kamar anaknya, dihampirinya wanita yang sekarang menjadi pujaan hatinya.
Frans duduk di dekat wanita itu melihat putra tengah lahap meminum Asi dari ibunya.
Raya mengambil beberapa Rantang piknik yang telah di sediakan jauh-jauh hari. Dia mengisi rantang-ranyang itu dengan masakan setelah itu ia berpamitan kepada mertuanya untuk mengantar makanan tersebut di beberapa kerabat juga ada yang di kirim ke kafe Frans,
Rafa melakukan mobilnya ke rumah Nara setelah mengantar makanan di kafe Frans. Tak seberapa lama dia pun sampai ia memarkirkan mobilnya di depan pintu gerbang rumah Nara, dan keluar dengan membawa dua rantang berisi makanan, di bukanya pintu gerbang lalu berjalan menuju rumah yang berjarak sekitar beberapa langka dari tempatnya berjalan. kemudian menekan bel berulang kali, hingga terdengar suara pintu terbuka dan menampakan sosok jangkung pria dengan pakaian santai tersenyum dan mempersilahkan masuk. "Tumben,Tan. Datang ke rumah Diki?" tanya Diki sambil berjalan masuk kedalam rumahnya.
__ADS_1
"Aku mengantarkan makanan, sayang kalau tidak termakan, lagi pula kenapa tadi tidak sekalian ambil dan bawa pulang," kata Raya yang langsung masuk menuju meja makan dan menaruh dua rantang di atas meja tersebut. Diki terkekeh."Malulah, Tan. Tadi 'kan masih banyak tamu," katanya
"Kamu itu yaa, Dik. kenapa gak mempekerjakan sekuriti biar kalau Tante datang ke sini langsung bisa masuk gak harus buka pintu gerbang sendiri," kata Raya